Pakar UMY Ingatkan Pemetaan Desil DTSEN Tak Boleh Menjadi Label Mutlak Kondisi Ekonomi Warga

pantau.com
3 jam lalu
Cover Berita

Pantau - Pakar Ekonomi Pembangunan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Susilo Nur Aji Cokro Darsono mengingatkan pemetaan desil kesejahteraan dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) tidak boleh dianggap sebagai label mutlak kondisi ekonomi seseorang karena keadaan rumah tangga dapat berubah dalam waktu relatif singkat.

Susilo di Yogyakarta, Sabtu (22/8/2026), mengatakan pengelompokan tersebut perlu terus dievaluasi dan disesuaikan dengan perubahan kondisi rumah tangga, termasuk kehilangan pekerjaan, bertambahnya tanggungan, serta munculnya pengeluaran tidak terduga.

Pemetaan Perlu Mempertimbangkan Kerentanan Ekonomi

"Pemetaan kesejahteraan perlu mempertimbangkan tiga aspek utama, yakni perbedaan daya beli antarwilayah melalui deflator spasial, tingkat kerentanan ekonomi rumah tangga, serta penggunaan instrumen pengukuran yang sesuai dengan tujuan kebijakan," kata Susilo.

Menurut Susilo, kebutuhan tersebut berkaitan dengan karakteristik metode Proxy Means Test (PMT) yang digunakan dalam pemeringkatan kesejahteraan dengan sejumlah indikator yang relatif stabil untuk menggambarkan kondisi sosial ekonomi rumah tangga.

Kondisi ekonomi keluarga, lanjutnya, dapat berubah setelah data dikumpulkan akibat perubahan pendapatan, kehilangan pekerjaan, bertambahnya tanggungan, ataupun munculnya biaya kesehatan.

"Desil sebaiknya tidak dianggap sebagai label mutlak kondisi ekonomi seseorang. Desil dapat menjadi alat untuk melihat posisi sebuah keluarga dalam kelompok masyarakat, tetapi tetap harus dilihat bersama kondisi lainnya. Desil adalah alat bantu penyaringan, bukan vonis," katanya.

DTSEN Membagi Masyarakat dalam 10 Kelompok

DTSEN merupakan basis data tunggal yang mengintegrasikan berbagai sumber data sosial ekonomi untuk mendukung perencanaan dan pelaksanaan kebijakan pemerintah.

Pemeringkatan kesejahteraan dalam DTSEN membagi masyarakat menjadi 10 kelompok, yakni desil 1 sebagai kelompok dengan tingkat kesejahteraan terendah hingga desil 10 sebagai kelompok dengan tingkat kesejahteraan tertinggi.

Data tersebut bersifat dinamis dan terus dimutakhirkan untuk menyesuaikan perubahan kondisi sosial ekonomi masyarakat.

Susilo menjelaskan kesejahteraan rumah tangga tidak hanya ditentukan pendapatan, tetapi juga kepemilikan aset dan tabungan, jumlah tanggungan, jenis pekerjaan, utang, serta akses terhadap berbagai layanan dasar.

"Karena itu, satu angka desil belum tentu dapat menggambarkan keseluruhan kondisi sebuah keluarga. Terlebih, situasi ekonomi rumah tangga dapat berubah setelah data digunakan dalam proses pemetaan," katanya.

Susilo menegaskan desil tetap memiliki fungsi penting sebagai instrumen pemetaan kesejahteraan masyarakat, tetapi penggunaannya harus ditempatkan sebagai bagian dari informasi sosial ekonomi yang lebih luas.

"Desil adalah alat bantu penyaringan, bukan vonis," katanya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Upaya Prapid Kasus Ijazah Jokowi Gagal, Dokter Tifa: Pejuang Sejati Saatnya Berdiri Lebih Tegak
• 21 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
CFTC Tak Mau Tunggu Kongres, Aturan Baru Kripto Siap Diluncurkan
• 23 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Apresiasi Pameran Foto 'Prahara Pulau Emas', Wali Kota Medan: Foto Jurnalistik Menggugah Empati dan Menciptakan Harapan
• 23 jam lalumediaapakabar.com
thumb
Pemerintah Perkuat Pemulihan Penyintas Terorisme hingga Korban Masa Lalu
• 7 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Upaya Pemprov Jateng Kembali Semarakkan Kawasan Maerokoco dan PRPP
• 3 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.