Trump Balikkan Keadaan? Selat Hormuz yang Jadi Senjata Iran Kini Berubah Jadi Jebakan

erabaru.net
3 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia.com  — Pertarungan Amerika Serikat dan Iran kini semakin bergeser dari konfrontasi militer terbuka menuju perang ekonomi, energi, dan penguasaan jalur perdagangan. Pemerintahan Presiden Donald Trump berusaha meningkatkan tekanan terhadap Teheran melalui kombinasi blokade maritim, sanksi ekonomi, dan upaya menjaga aliran minyak dari kawasan Teluk tetap berjalan.

Namun, pertanyaan terbesar masih belum terjawab: apakah strategi tersebut benar-benar telah berhasil mengurangi kemampuan Iran menggunakan Selat Hormuz sebagai alat tekanan terhadap dunia?

Jawabannya ternyata jauh lebih rumit.

CNN dalam laporan pada 17 Agustus 2026 menyoroti perbedaan besar antara data pemerintah Amerika Serikat dan perusahaan pelacak kapal mengenai jumlah minyak yang berhasil keluar dari kawasan Teluk.

Menurut angka yang dikutip CNN dari perusahaan pelacakan, sekitar 4 juta barel minyak per hari saat itu diperkirakan melewati Selat Hormuz. Setelah digabungkan dengan minyak yang dialihkan melalui jaringan pipa darat, totalnya diperkirakan mencapai sekitar 11 hingga 12 juta barel per hari.

Namun, pemerintah Trump memberikan angka lebih tinggi. Washington menyatakan sekitar 9 juta barel per hari dapat melewati Selat Hormuz. Jika digabungkan dengan jalur alternatif, jumlah keseluruhannya diperkirakan mencapai sekitar 15 hingga 16 juta barel per hari, jauh lebih dekat dengan tingkat sekitar 20 juta barel per hari sebelum perang.

Perbedaan tersebut sangat penting karena menentukan seberapa besar daya tawar Iran terhadap Washington.

Jika angka pemerintah AS benar, kemampuan Teheran menggunakan Selat Hormuz untuk menekan pasar energi global telah berkurang secara signifikan. Tetapi jika data perusahaan pelacak kapal lebih mendekati kenyataan, gangguan pasokan minyak masih sangat serius.

Data terbaru bahkan menunjukkan situasi belum dapat dikatakan normal.

Pada Kamis, 20 Agustus 2026, data Kpler yang dikutip Reuters menunjukkan hanya tujuh kapal komoditas melewati Selat Hormuz. Angka tersebut turun dari 14 kapal sehari sebelumnya dan tetap jauh di bawah tingkat normal sebelum konflik.

Kondisi itu sekaligus menunjukkan bahwa klaim mengenai pemulihan penuh jalur pelayaran harus diperlakukan dengan hati-hati.

Salah satu faktor yang membuat perhitungan semakin sulit adalah adanya kapal yang berlayar dengan transponder AIS dimatikan. Akibatnya, perusahaan pelacak komersial tidak selalu dapat memperoleh gambaran lengkap mengenai jumlah kapal dan minyak yang sebenarnya melewati kawasan tersebut.

Di sisi lain, negara-negara Teluk berusaha mengurangi ketergantungan terhadap Hormuz.

Arab Saudi memiliki jaringan pipa East-West, yang menghubungkan kawasan produksi minyak di bagian timur negara itu dengan fasilitas ekspor di Yanbu, pesisir Laut Merah.

Jalur tersebut memungkinkan minyak Saudi menghindari Selat Hormuz sepenuhnya. Kapasitas jaringan itu dapat mencapai sekitar 7 juta barel per hari dalam kondisi tertentu, meskipun tidak berarti seluruh kapasitas tersebut selalu digunakan untuk ekspor.

Strategi pengalihan semacam inilah yang menjadi salah satu senjata terpenting untuk mengurangi dampak gangguan Hormuz terhadap pasar energi dunia.

Pada saat bersamaan, Washington meningkatkan tekanan langsung terhadap Iran.

CENTCOM secara resmi mengumumkan bahwa blokade terhadap lalu lintas menuju dan keluar dari pelabuhan Iran kembali diberlakukan mulai 14 Juli 2026 pukul 16.00 waktu Amerika Serikat bagian timur.

Tujuan operasi tersebut bukan menutup seluruh perdagangan di kawasan Teluk, melainkan menghambat kapal yang menuju atau meninggalkan pelabuhan dan wilayah pesisir Iran, sementara kapal lain yang tidak melanggar blokade tetap diperbolehkan melintas.

Tekanan itu kini diperluas ke sektor keuangan.

Pada 20 Agustus 2026, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan Washington bersiap memberlakukan apa yang disebutnya sebagai sanksi paling keras terhadap Iran. Strateginya adalah meningkatkan tekanan ekonomi sedemikian rupa sehingga Washington dapat memperoleh konsesi dari Teheran tanpa harus memperluas operasi militer.

Di sinilah perhitungan politik Trump menjadi penting.

Pemilu paruh waktu Amerika Serikat akan berlangsung pada 3 November 2026, kurang dari tiga bulan lagi. Perang berkepanjangan, harga energi tinggi, serta keterlibatan militer yang semakin besar berpotensi menjadi persoalan politik bagi Gedung Putih.

Karena itu, strategi ekonomi menawarkan pilihan berbeda: melemahkan kemampuan Iran memperoleh pendapatan, mempersempit jaringan perdagangan internasionalnya, serta meningkatkan biaya ekonomi bagi negara atau perusahaan yang membantu Teheran.

Tetapi strategi tersebut juga membawa risiko besar.

Harga minyak belum kembali normal. Pada 21 Agustus 2026, Brent masih diperdagangkan di sekitar US$93 per barel, sementara WTI berada sekitar US$86 per barel. Pasar dengan demikian masih memperhitungkan risiko serius terhadap pasokan energi Timur Tengah.

Di tengah tekanan tersebut, jalur diplomasi juga terus dicoba.

Utusan Trump, Jared Kushner, melakukan pembicaraan di kawasan Timur Tengah ketika Washington berusaha mencari jalan keluar dari konflik. Namun perbedaan mendasar antara Amerika Serikat dan Iran mengenai program nuklir, sanksi, blokade, serta kendali pelayaran di Hormuz membuat kesepakatan tetap sulit dicapai.

Bagi pemerintahan Trump, sasaran strategisnya semakin jelas: menekan program nuklir Iran, mengurangi kemampuan Teheran memperoleh pendapatan minyak, dan membatasi dukungan finansial terhadap kelompok-kelompok bersenjata sekutunya di kawasan.

Karena itu, babak berikutnya kemungkinan tidak hanya ditentukan oleh rudal, pesawat tempur, atau kapal perang.

Pertarungan sesungguhnya akan berlangsung pada rekening bank, tanker minyak, perusahaan pelayaran, jaringan pipa, pelabuhan, dan jalur perdagangan internasional.

Apabila Washington berhasil mempertahankan aliran energi dunia sambil pada saat yang sama memutus pendapatan Iran, tekanan terhadap Teheran dapat meningkat secara drastis.

Sebaliknya, apabila Iran masih mampu mengganggu Hormuz dan membuat harga minyak melonjak, Teheran tetap memiliki kartu tawar yang sangat kuat.

Dengan demikian, istilah “Pendaratan Normandia ekonomi” yang digunakan untuk menggambarkan strategi Trump mungkin terdengar dramatis, tetapi hasil akhirnya masih jauh dari pasti.

Yang jelas, memasuki 21 Agustus 2026, Selat Hormuz belum sepenuhnya kembali normal dan Iran belum kehilangan seluruh pengaruhnya. Namun Washington sedang berusaha keras mengubah sebuah jalur laut yang selama puluhan tahun menjadi sumber kekuatan strategis Iran menjadi titik tekanan ekonomi terhadap Teheran sendiri.

Pertanyaannya sekarang bukan sekadar siapa yang menguasai Selat Hormuz, tetapi siapa yang mampu bertahan paling lama dalam perang ekonomi yang semakin mahal ini. (***)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pentagon di Era Hegseth Pecat Pemimpin Media Militer, Isu Sensor Menguat
• 5 jam lalurepublika.co.id
thumb
Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terjaring OTT KPK, Punya Harta Rp 3,1 Miliar
• 22 jam lalukumparan.com
thumb
Rekor, LRT Jabodebek Angkut 3 Juta Penumpang pada Juli 2026
• 18 jam laluidxchannel.com
thumb
Aktivitas Sekolah di Sampit Normal meski Dikepung Kabut Asap, Siswa Wajib Bermasker
• 11 jam lalurctiplus.com
thumb
Pasca-Tawuran Warga, Perjalanan KRL Lintas Bogor dan Situasi Stasiun Manggarai Kembali Normal
• 15 jam laluokezone.com
Berhasil disimpan.