Presiden Iran: Lebih baik akhiri perang saat Iran di posisi kuat

antaranews.com
12 jam lalu
Cover Berita
Teheran (ANTARA) - Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Jumat (21/8) mengatakan bahwa lebih baik mengakhiri perang sekarang karena Iran berada dalam posisi yang kuat dan bermartabat.

Pezeshkian menyampaikan pernyataan tersebut dalam Sidang Umum ke-31 Asosiasi Islam Perhimpunan Medis Iran (Islamic Association of the Iranian Medical Society) di ibu kota Teheran, saat dia menekankan bahwa perang dengan Amerika Serikat (AS) pada akhirnya harus berakhir, menurut pernyataan yang dipublikasikan di situs web kantornya.

"Lebih baik kita mengakhiri perang ini sekarang, saat kita berada dalam posisi yang kuat dan bermartabat, dan seluruh dunia mengakui kemenangan kita serta menegaskan bahwa AS, yang melanggar semua peraturan (internasional), telah menyerang sekolah, rumah sakit serta infrastruktur kita, dan dibenci di seluruh dunia," katanya.

Pezeshkian menggambarkan nota kesepahaman (MoU) perdamaian yang ditandatangani antara Iran dan AS pada Juni sebagai sesuatu yang terhormat dan berharga.

Ia menekankan bahwa tidak ada satu pun ketentuan dalam MoU tersebut yang mengisyaratkan penyerahan diri dan bahwa semua kewajiban menjadi tanggung jawab pihak lain.

Dia mengatakan bahwa apa yang dicapai dalam perundingan dengan AS merupakan pencapaian besar, yang disetujui dengan semangat persatuan dan solidaritas di Dewan Keamanan Nasional Tertinggi (SNSC) Iran, dan seluruh anggota dewan tersebut membelanya dengan tegas.

Namun, sang presiden menegaskan bahwa Iran tidak akan menyerah jika diserang kembali. "Kita tidak akan tunduk pada tindakan intimidasi dalam keadaan apa pun, dan tidak ada keraguan mengenai hal itu."

"Kita akan melawan mereka hingga napas terakhir dan akan memberikan respons yang menghancurkan," ujarnya.

Ia menambahkan bahwa para komandan militer dan angkatan bersenjata Iran dengan sepenuh hati dan tanpa pamrih telah siap sepenuhnya untuk membela negara.

Pada 18 Juni, Iran dan AS menandatangani MoU tentang penghentian perang mereka di semua front di Timur Tengah.

Berdasarkan MoU tersebut, kedua negara dijadwalkan mengadakan perundingan dalam jangka waktu 60 hari, yang berakhir pada Senin (17/8), untuk mencapai kesepakatan final.

Namun, nasib perundingan tersebut masih belum jelas menyusul meningkatnya ketegangan antara kedua negara bulan lalu.




Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kondisi Terkini Syifa Hadju, El Rumi Dikaitkan dengan Kasus Pelecehan Seksual! Kuasa Hukum Buka Suara
• 20 jam laluviva.co.id
thumb
Wamenko Polkam: Perpres Cegah Ekstremisme Bukti Prabowo Peduli Korban Terorisme
• 22 jam laludetik.com
thumb
Hyundai Targetkan Keluhan Konsumen Ditangani Maksimal 1x24 Jam
• 20 jam laluviva.co.id
thumb
Andre Rosiade Usulkan Trase Bypass Bukittinggi Jadi Solusi Polemik Tol 7 Fly Over Padang Luar
• 11 jam laludetik.com
thumb
1.104 Titik Panas Kebakaran Hutan Terdeteksi di Sumatera, Sumsel Tertinggi
• 13 jam laluliputan6.com
Berhasil disimpan.