EtIndonesia.com Beberapa tahun terakhir berbagai bencana alam dan musibah terus terjadi di Tiongkok, sementara kasus kematian mendadak di kalangan usia muda dan produktif dilaporkan meningkat. Semakin banyak anak muda mulai membuat wasiat sejak dini.
Para analis menilai bahwa tren “wasiat di usia muda” mencerminkan kecemasan sistemik yang ditimbulkan oleh memburuknya kondisi ekonomi dan kekacauan sosial, sekaligus menjadi sinyal bahwa generasi muda telah kehilangan kepercayaan terhadap masa depan.
Dalam pandangan tradisional, membuat wasiat biasanya dianggap sebagai sesuatu yang dilakukan oleh orang lanjut usia. Namun kini, membuat wasiat secara bertahap menjadi pilihan di kalangan anak muda Tiongkok.
Mahasiswa perguruan tinggi di daratan Tiongkok : “Saya berusia 20 tahun dan sekarang mahasiswa tingkat tiga. Menurut saya, mengikuti proses pembuatan wasiat juga merupakan salah satu cara untuk merenungkan kehidupan saya.”
Siswa sekolah menengah atas di Tiongkok daratan: “Saya baru berusia 18 tahun. Menurut saya, hal ini memang seharusnya dilakukan. Ini merupakan bentuk pengaturan kehidupan yang lebih baik.”
Seorang pekerja industri internet berusia 26 tahun bermarga Jiang mengatakan bahwa beberapa temannya meninggal secara tiba-tiba akibat kecelakaan. Hal itu membuatnya memutuskan untuk membuat wasiat lebih awal. Jika sesuatu terjadi pada dirinya, keluarganya tidak perlu menghadapi kekacauan dalam mengurus harta maupun pemakaman.
Menurut Buku Putih Tahunan 2025 China Will Registration Center, jumlah orang berusia di bawah 30 tahun yang membuat wasiat meningkat 42,3% dibandingkan 2024. Tahun lalu, jumlah wasiat yang didaftarkan oleh generasi yang lahir pada tahun 2000-an telah melampaui 200 dokumen, menunjukkan bahwa generasi muda semakin cepat mulai merencanakan urusan setelah kematian.
Wakil direktur kantor notaris internet di Hangzhou mengatakan, ketika dirinya mulai bekerja dalam layanan notarisasi wasiat pada 2006, sebagian besar orang yang datang adalah lansia berusia 70–80 tahun. Kini, anak muda yang baru berusia 18 tahun datang untuk berkonsultasi dan membuat wasiat sudah menjadi hal yang sangat umum.
Isi wasiat kaum muda juga tidak lagi terbatas pada aset tradisional seperti rumah dan tabungan. Akun gim, akun media sosial, perawatan hewan peliharaan, keinginan untuk mendonorkan organ, hingga pengaturan pemakaman pribadi kini turut dimasukkan dalam perencanaan wasiat.
Selain itu, seiring bertambahnya jumlah orang yang lajang, bercerai, dan tinggal sendirian, layanan kombinasi “perwalian yang ditentukan sebelumnya + wasiat” juga semakin mendapat perhatian.
Pada Desember tahun lalu, seorang perempuan lajang yang tinggal sendirian di Shanghai, bermarga Jiang, meninggal dunia dan meninggalkan harta sekitar 3 juta yuan RMB. Karena tidak memiliki ahli waris, harta tersebut akhirnya diterima oleh departemen urusan sipil.
Ketika Jiang menjalani perawatan darurat di rumah sakit, kerabat jauhnya yang mengurus pemakaman bahkan tidak dapat menggunakan sepeser pun dari hartanya untuk membayar biaya pengobatan, pemakaman, maupun membeli makam. Kasus ini membuat banyak orang mulai menyadari pentingnya mengatur urusan setelah kematian sejak dini.
Influencer internet dari daratan Tiongkok : “Kasus Nyonya Jiang juga menjadi peringatan bagi kita. Kita memang perlu secepatnya membuat pengaturan mengenai ‘perwalian yang ditentukan sebelumnya’.”
Mengenai tren anak muda di Tiongkok daratan yang ramai-ramai membuat wasiat, cendekiawan independen Lai Jianping menilai bahwa fenomena tersebut mencerminkan ketidakpastian yang semakin besar yang dirasakan kaum muda terhadap masa depan.
Lai Jianping, mantan pengacara Beijing dan cendekiawan independen: “Semua orang semakin merasakan bahwa masyarakat Tiongkok saat ini berada dalam kondisi kacau dan kehilangan norma. Dalam bidang ekonomi, lapangan pekerjaan, pernikahan, keluarga, maupun hubungan asmara, semuanya tampak kacau, penuh risiko dan ketidakpastian.”
Lai Jianping mengatakan banyak anak muda tidak mampu mengubah lingkungan sosial yang mereka hadapi. Karena itu, mereka hanya dapat mengatur urusan setelah kematian sejak dini untuk mengurangi konflik dan penyesalan apabila terjadi sesuatu yang tidak terduga.
“Berbagai faktor ekonomi dan sosial menumpuk menjadi satu, sehingga mereka merasa cemas dan putus asa serta menganggap tidak ada jalan keluar. Namun, mereka juga tidak memiliki kemampuan untuk menyelesaikan masalah-masalah mendasar tersebut,” katanya.
“Jadi, mereka hanya dapat melakukan perlindungan diri secara pasif dan defensif. Mereka berpikir, seandainya besok saya meninggal karena alasan apa pun, setidaknya jika saya sudah membuat pengaturan sebelumnya, saya telah menjalankan tanggung jawab dasar saya,” ujarnya.
Zhang Junjie, seorang mahasiswa asal Tiongkok daratan yang sedang menempuh pendidikan di Amerika Serikat, mengatakan bahwa tren anak muda membuat wasiat merupakan tanda bahwa kekuatan spiritual masyarakat Tiongkok sedang perlahan runtuh dan disebut sebagai pertanda bahwa rezim otoriter akan menuju kehancuran.
“Semakin banyak orang sekarang menyadari bahwa hari esok belum tentu lebih baik daripada hari ini, dan tahun depan belum tentu lebih baik daripada tahun ini. Nasib dan kehidupan generasi berikutnya sudah berada dalam keadaan yang tidak dapat diprediksi,” katanya.
“Semakin banyak anak muda yang hidup dalam ketakutan, kebingungan, dan kecemasan, serta semakin kehilangan kepercayaan terhadap masyarakat Tiongkok. Melalui cara seperti membuat wasiat, mereka juga menyampaikan perlawanan dan ketidakpuasan secara diam-diam terhadap masyarakat Tiongkok,” ujarnya.
Di internet, sebuah pertanyaan yang berbunyi, “Apakah kamu bangga telah membuat anak-anak muda hidup dalam ketakutan dan kecemasan seperti ini?”, telah beredar luas dan dianggap mewakili suara banyak warganet di daratan Tiongkok.




