Jakarta, CNBC Indonesia — Rupiah berhasil menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sepanjang pekan ini, mengikuti pergerakan mayoritas mata uang Asia yang mendapat dukungan dari melemahnya dolar.
Berdasarkan data Refinitiv, rupiah ditutup menguat 0,31% ke posisi Rp17.685/US$ pada perdagangan Jumat (21/8/2026).
Penguatan tersebut menjadi kenaikan rupiah selama tiga hari perdagangan berturut-turut. Posisi Rp17.685/US$ sekaligus menjadi penutupan terkuat dalam hampir tiga bulan terakhir atau sejak 22 Mei 2026.
Secara mingguan, rupiah mencatatkan penguatan sebesar 0,76%. Mata uang Garuda menjadi salah satu dari sembilan mata uang Asia yang berhasil menguat terhadap dolar AS sepanjang pekan ini.
Penguatan rupiah ditopang sentimen domestik setelah Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuannya pada level 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur periode 18-19 Agustus 2026.
BI juga mempertahankan suku bunga Deposit Facility sebesar 4,75% dan Lending Facility sebesar 6,50%. Keputusan tersebut diarahkan untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian global sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi.
Won Jadi Jawara, Peso Sendirian MelemahDari 10 mata uang Asia, sebanyak sembilan berhasil menguat terhadap dolar AS sepanjang pekan ini. Hanya peso Filipina yang bergerak berlawanan dan harus berakhir di zona merah.
Won Korea Selatan memimpin penguatan dengan lonjakan 2,17% ke posisi KRW 1.385,8/US$.
Kenaikan won terjadi ketika pasar mencermati arah kebijakan Bank of Korea (BOK). Pada Juli lalu, bank sentral Korea Selatan menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya dalam sekitar 3,5 tahun.
Deputi Gubernur Senior BOK Kwon Min-soo menyatakan pertumbuhan ekonomi Korea Selatan membaik lebih kuat dibandingkan perkiraan. Pada saat bersamaan, inflasi berada di atas target dan risiko stabilitas keuangan masih menjadi perhatian.
Kondisi tersebut menjaga kemungkinan kebijakan moneter tetap ketat menjelang pertemuan BOK berikutnya pada 27 Agustus 2026.
Won turut mendapat dukungan dari koordinasi otoritas Korea Selatan dan Jepang. Pejabat kedua negara bertemu di Tokyo pada Jumat dan berkomitmen menjaga komunikasi mengenai perkembangan pasar valuta asing.
Pertemuan tersebut berlangsung beberapa pekan setelah kedua negara mengambil langkah bersama untuk menopang mata uang masing-masing.
Di bawah won, baht Thailand menguat 1,30% sepanjang pekan ke posisi THB32,67/US$. Ringgit Malaysia menyusul dengan kenaikan 1,20% dan diikuti dolar Singapura yang terapresiasi 0,75%.
Dolar Taiwan juga menguat 0,57% ke TWD 31,825/US$, disusul yuan China yang naik 0,30% ke CNY 6,721/US$.
Sementara itu, yen Jepang menguat 0,23% ke posisi JPY 158,93/US$.
Dong Vietnam mencatatkan penguatan paling terbatas sebesar 0,13% ke posisi VND26.114/US$.
Di sisi lain, peso Filipina menjadi satu-satunya mata uang Asia yang melemah. Peso terkoreksi 0,33% sepanjang pekan ke level PHP 61,650/US$.
Dolar Tertekan: Utang AS Tembus US$40 Triliun,Penguatan mayoritas mata uang Asia berlangsung ketika indeks dolar AS (DXY) melemah 0,87% sepanjang pekan ke posisi 98,800.
Tekanan terhadap dolar muncul seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi fiskal AS setelah utang pemerintah Negeri Paman Sam tembus US$40 triliun untuk pertama kalinya. Angka itu setara Rp707.400 triliun (asumsi kurs Rp17.685/US$).
Besarnya defisit anggaran dan kebutuhan penerbitan surat utang memicu aksi jual obligasi pemerintah AS. Imbal hasil US Treasury tenor 30 tahun sempat melonjak ke sekitar 5,34%, tertinggi sejak 2007.
Departemen Keuangan AS kemudian meningkatkan program pembelian kembali atau buyback obligasi jangka panjang untuk meredakan tekanan di pasar surat utang.
Nilai pembelian obligasi tenor 10-30 tahun dinaikkan sedikitnya dua kali lipat, dari US$2 miliar menjadi minimal US$4 miliar dalam setiap operasi.
Peningkatan tersebut dijadwalkan berlaku untuk operasi pada 9 September hingga 4 November 2026.
Pengumuman tersebut sempat menurunkan imbal hasil obligasi AS jangka panjang. Namun, pelaku pasar juga khawatir upaya menahan kenaikan yield justru memindahkan tekanan ke dolar.
"Upaya Bessent menekan imbal hasil AS tidak banyak berdampak pada imbal hasil, tetapi justru melemahkan dolar," kata Kepala Strategi Pasar Bannockburn Global Forex Marc Chandler, dikutip dari Reuters.
Pelemahan dolar memberikan ruang bagi mata uang Asia untuk menguat karena tekanan terhadap aset negara berkembang ikut berkurang.
Meski demikian, pasar masih mencermati arah kebijakan The Federal Reserve. Pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga AS pada September berada di sekitar 40%, sementara kemungkinan kenaikan hingga Desember mencapai 72%.
Perhatian investor berikutnya akan tertuju pada pidato Ketua The Fed Kevin Warsh dalam simposium Jackson Hole pekan depan untuk mencari petunjuk mengenai arah suku bunga AS di tengah tekanan inflasi dan gejolak pasar obligasi.
CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]
(evw/evw)




