Jakarta (ANTARA) - Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah menjadikan medali perunggu Kejuaraan Dunia BWF 2026 sebagai modal untuk membangun kembali daya saing ganda campuran Indonesia di level dunia.
Amri menilai pencapaian di New Delhi, India, memberikan keyakinan bahwa mereka mampu bersaing dengan pasangan terbaik, sekaligus menjadi dorongan bagi sektor ganda campuran yang tengah memulai kembali proses pembinaan.
"Semoga hasil ini memotivasi tim ganda campuran yang mulai dari nol lagi. Ayo bareng-bareng teman-teman, para pelatih, adik-adik, kita kerja keras lagi, kita coba lagi semaksimal mungkin," kata Amri dalam keterangan PBSI, Sabtu.
Amri/Nita memastikan perunggu setelah langkah mereka dihentikan pasangan nomor satu dunia asal China Feng Yan Zhe/Huang Dong Ping pada semifinal.
Pasangan Indonesia memberikan perlawanan selama 97 menit sebelum kalah 22-20, 14-21, 20-22, bahkan sempat membawa gim penentuan hingga kedudukan 20-20.
Bagi Amri, penampilan tersebut menambah keyakinan mereka untuk tidak sekadar bersaing, tetapi juga memburu pencapaian lebih tinggi pada turnamen berikutnya.
Baca juga: Amri/Nita bidik medali pada debut Kejuaraan Dunia
"Saya rasa ini menambah kepercayaan diri buat kami berdua untuk bisa konsisten tampil seperti ini, untuk tambah latihannya lagi supaya jadi lebih baik lagi. Podiumnya bisa lebih tinggi lagi," ujarnya.
Kepercayaan diri itu turut tumbuh dari kemampuan Amri/Nita keluar dari tekanan sepanjang pertandingan.
Pada gim pertama, mereka mampu membalikkan keadaan ketika Feng/Huang telah mendekati kemenangan.
Nita mengatakan keduanya memilih tidak terpaku pada skor dan terus mencari cara untuk mempertahankan peluang.
"Kami coba mencari poin sebanyak mungkin dan fokus ke permainan. Sama-sama cari jalan keluar, harus bagaimana, harus main apa. Akhirnya bisa mengejar dan balik ambil keunggulan," kata Nita.
Situasi serupa terjadi pada gim penentuan ketika kedua pasangan terus menjaga persaingan hingga fase akhir.
Nita menilai keberanian mengambil keputusan menjadi pembeda ketika skor mencapai posisi kritis.
Baca juga: Amri/Nita nyaris tumbangkan ganda nomor satu dunia
"Kami terus komunikasi, belum selesai jadi masih ada kesempatan, tapi mungkin saat setting kami kalah nekat sama mereka," ujarnya.
Amri mengaku memasuki semifinal dengan motivasi lebih besar setelah mempelajari permainan Feng/Huang secara khusus.
Persiapan tersebut membuat Amri/Nita mampu bermain lebih lepas meski menghadapi pasangan peringkat teratas dunia.
"Saya merasakan gairah yang lebih dari malam tadi, ingin sekali tampil maksimal di babak semifinal ini. Saya mempelajari benar permainan mereka dan itu mungkin yang membuat hari ini kami bisa main lepas," kata Amri.
Meski belum mampu mencapai final, Nita berharap medali tersebut menjadi bukti bahwa mereka masih dapat bersaing di level tertinggi sekaligus membalas kepercayaan yang diberikan selama proses pembinaan.
"Medali perunggu ini untuk Indonesia dan untuk semua yang sudah selalu percaya kalau kami masih bisa bersaing. Untuk keluarga dan pelatih juga," ujar Nita.
Baca juga: Amri ungkap suasana internal PBSI setelah terseret isu matchfixing
Amri menilai pencapaian di New Delhi, India, memberikan keyakinan bahwa mereka mampu bersaing dengan pasangan terbaik, sekaligus menjadi dorongan bagi sektor ganda campuran yang tengah memulai kembali proses pembinaan.
"Semoga hasil ini memotivasi tim ganda campuran yang mulai dari nol lagi. Ayo bareng-bareng teman-teman, para pelatih, adik-adik, kita kerja keras lagi, kita coba lagi semaksimal mungkin," kata Amri dalam keterangan PBSI, Sabtu.
Amri/Nita memastikan perunggu setelah langkah mereka dihentikan pasangan nomor satu dunia asal China Feng Yan Zhe/Huang Dong Ping pada semifinal.
Pasangan Indonesia memberikan perlawanan selama 97 menit sebelum kalah 22-20, 14-21, 20-22, bahkan sempat membawa gim penentuan hingga kedudukan 20-20.
Bagi Amri, penampilan tersebut menambah keyakinan mereka untuk tidak sekadar bersaing, tetapi juga memburu pencapaian lebih tinggi pada turnamen berikutnya.
Baca juga: Amri/Nita bidik medali pada debut Kejuaraan Dunia
"Saya rasa ini menambah kepercayaan diri buat kami berdua untuk bisa konsisten tampil seperti ini, untuk tambah latihannya lagi supaya jadi lebih baik lagi. Podiumnya bisa lebih tinggi lagi," ujarnya.
Kepercayaan diri itu turut tumbuh dari kemampuan Amri/Nita keluar dari tekanan sepanjang pertandingan.
Pada gim pertama, mereka mampu membalikkan keadaan ketika Feng/Huang telah mendekati kemenangan.
Nita mengatakan keduanya memilih tidak terpaku pada skor dan terus mencari cara untuk mempertahankan peluang.
"Kami coba mencari poin sebanyak mungkin dan fokus ke permainan. Sama-sama cari jalan keluar, harus bagaimana, harus main apa. Akhirnya bisa mengejar dan balik ambil keunggulan," kata Nita.
Situasi serupa terjadi pada gim penentuan ketika kedua pasangan terus menjaga persaingan hingga fase akhir.
Nita menilai keberanian mengambil keputusan menjadi pembeda ketika skor mencapai posisi kritis.
Baca juga: Amri/Nita nyaris tumbangkan ganda nomor satu dunia
"Kami terus komunikasi, belum selesai jadi masih ada kesempatan, tapi mungkin saat setting kami kalah nekat sama mereka," ujarnya.
Amri mengaku memasuki semifinal dengan motivasi lebih besar setelah mempelajari permainan Feng/Huang secara khusus.
Persiapan tersebut membuat Amri/Nita mampu bermain lebih lepas meski menghadapi pasangan peringkat teratas dunia.
"Saya merasakan gairah yang lebih dari malam tadi, ingin sekali tampil maksimal di babak semifinal ini. Saya mempelajari benar permainan mereka dan itu mungkin yang membuat hari ini kami bisa main lepas," kata Amri.
Meski belum mampu mencapai final, Nita berharap medali tersebut menjadi bukti bahwa mereka masih dapat bersaing di level tertinggi sekaligus membalas kepercayaan yang diberikan selama proses pembinaan.
"Medali perunggu ini untuk Indonesia dan untuk semua yang sudah selalu percaya kalau kami masih bisa bersaing. Untuk keluarga dan pelatih juga," ujar Nita.
Baca juga: Amri ungkap suasana internal PBSI setelah terseret isu matchfixing





