REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Kelompok Wanita Tani (KWT) Anjani memiliki lahan singkong sekitar 7.800 meter persegi yang menjadi modal pengembangan usaha olahan pangan. Namun, usaha tersebut masih menghadapi sejumlah kendala, mulai dari kapasitas produksi, pemasaran, hingga pengelolaan keuangan.
Universitas Mercu Buana (UMB) membantu KWT Anjani mengembangkan usaha melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) pada 3-4 Agustus 2026. Pendampingan tersebut mencakup teknologi produksi, pemasaran digital, dan manajemen keuangan.
Baca Juga
SUMU: Sang Penggerak Ekonomi UMKM
Pembiayaan UMKM lewat Pinjaman Daring Tembus Rp 35,12 Triliun
UMKM Binaan Pertamina Ini Sukses Kembangkan Ubi Madu, Omzet Tembus Rp300 Juta
Program tersebut mendapat hibah dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) tahun anggaran 2026.
KWT Anjani mengolah singkong menjadi keripik getuk, tepung tapioka, dan tepung mocaf yang telah dipasarkan kepada masyarakat. Pengembangan usaha masih membutuhkan peningkatan kapasitas produksi dan pengelolaan usaha.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Ketua tim PKM UMB Sri Marti Pramudena mengatakan, program tersebut tidak hanya memberikan pelatihan, tetapi juga mendorong KWT Anjani memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan efisiensi usaha.
“Melalui kegiatan PKM ini kami ingin membantu KWT Anjani meningkatkan kemampuan produksi, pemasaran, dan manajemen usaha,” kata Sri Marti, Sabtu (22/6/2026).
Dalam proses produksi, tim memperkenalkan sejumlah peralatan, seperti sarana penjemuran, continuous sealer, alat pemeras pati singkong untuk produksi tapioka, dan nampan penjemuran. Peralatan tersebut diharapkan mempercepat proses produksi sekaligus membuat pengolahan lebih praktis dan higienis.
KWT Anjani juga mendapat pelatihan pemasaran digital melalui TikTok dan Instagram. Materi mencakup pembuatan identitas merek, logo, kemasan, hingga penyampaian informasi produk melalui media sosial.
“Kami berharap KWT Anjani tidak hanya mampu meningkatkan kualitas dan jumlah produksi, tetapi juga dapat memanfaatkan media sosial untuk memperluas pemasaran,” ujar Sri Marti.
Pengelolaan keuangan turut menjadi materi pendampingan. Tim membantu KWT Anjani mencatat transaksi, menghitung harga pokok produksi, menentukan harga jual, dan menghitung keuntungan yang sebelumnya masih dicatat secara sederhana.
Ketua KWT Anjani Tri Wahyuni berharap pendampingan tersebut dapat membantu meningkatkan produksi sekaligus memperluas pemasaran produk.
“Kami berharap ilmu dan teknologi yang diberikan dapat membantu meningkatkan produksi dan pemasaran. Kami juga ingin produk keripik getuk dan tepung tapioka dikenal lebih luas,” kata Tri.
Program PKM tersebut melibatkan dosen Sri Marti Pramudena, Eka Nur Fitriani, dan Santa Lorita serta mahasiswa Program Studi Manajemen UMB. Tim juga melakukan monitoring dan evaluasi untuk memastikan pengetahuan dan teknologi yang diberikan dapat diterapkan secara berkelanjutan.
Dengan peningkatan kapasitas produksi, pemasaran digital, dan pengelolaan keuangan, KWT Anjani diharapkan dapat memperluas pasar sekaligus meningkatkan nilai ekonomi produk olahan singkong.