Dosen Asal Makassar Raih Pin Emas Program Doktoral UII, Angkat Isu Kesejahteraan Emosional Dosen di Era Digital

harianfajar
3 jam lalu
Cover Berita

HARIAN.FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Prestasi membanggakan kembali ditorehkan akademisi asal Makassar, Dr. Ir. Rezki Amelia Aminuddin A.P., ST., MT., C.CBA., yang akrab disapa Amel. Ia berhasil menyelesaikan pendidikan pada Program Studi Doktor Rekayasa Industri Universitas Islam Indonesia (UII) dengan predikat Cum Laude dan meraih IPK 3,99. Atas pencapaian tersebut, Amel menjadi salah satu penerima Pin Emas Program Doktoral UII.

Pencapaian ini menjadi buah dari perjalanan akademik yang tidak hanya berfokus pada penyelesaian studi, tetapi juga diiringi dengan berbagai aktivitas penelitian, publikasi, dan kontribusi ilmiah. Selama menjalani pendidikan doktoral, Amel tercatat sebagai penerima hibah kompetitif nasional skema Penelitian Riset Doktor tahun 2025 dan 2026, serta penerima Beasiswa Baznas RI tahun 2025.

Produktivitas Amel juga terlihat dari capaian publikasinya. Ia berhasil menghasilkan dua publikasi pada jurnal Scopus Q2 dan dua publikasi pada jurnal Scopus Q3. Selain itu, Amel telah menerbitkan dua buku dan memiliki dua Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Berbagai capaian tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjangnya dalam mengembangkan kompetensi akademik dan menghasilkan karya yang dapat memberikan manfaat lebih luas.

Angkat Isu Dosen di Era Digital

Dalam disertasinya yang berjudul “Model Kebijakan untuk Peningkatan Kesejahteraan Emosional Dosen di Era Digital,” Amel mengangkat persoalan yang semakin relevan seiring dengan pesatnya transformasi digital di perguruan tinggi.

Digitalisasi telah membawa perubahan besar terhadap cara dosen melaksanakan aktivitas akademik. Teknologi memberikan kemudahan dalam proses pembelajaran, penelitian, administrasi, komunikasi, hingga kolaborasi. Namun, di balik berbagai kemudahan tersebut, terdapat tantangan yang juga perlu diperhatikan, mulai dari tuntutan adaptasi terhadap teknologi, meningkatnya aktivitas digital, beban administratif, target publikasi, hingga tuntutan produktivitas akademik.

Amel melihat bahwa transformasi digital tidak cukup hanya berorientasi pada teknologi dan peningkatan kinerja. Manusia sebagai pengguna dan penggerak teknologi harus menjadi bagian penting dalam proses transformasi tersebut. Salah satu aspek yang perlu mendapat perhatian adalah kesejahteraan emosional dosen.

Melalui penelitiannya, Amel mengembangkan model kebijakan yang diharapkan dapat menjadi salah satu rujukan bagi perguruan tinggi dalam merancang kebijakan yang lebih humanis, adaptif, dan berkelanjutan. Kebijakan tersebut diharapkan mampu menciptakan lingkungan kerja akademik yang tidak hanya mendorong produktivitas dan daya saing, tetapi juga memperhatikan kondisi emosional serta kualitas kehidupan kerja dosen.

Dari Makassar untuk Kontribusi yang Lebih Luas

Bagi Amel, perjalanan menyelesaikan pendidikan doktoral di UII bukan sekadar perjalanan untuk memperoleh gelar akademik. Lebih dari itu, proses tersebut menjadi ruang untuk belajar, mengembangkan kapasitas, membangun jejaring akademik, dan menghasilkan penelitian yang memiliki relevansi dengan persoalan nyata.

“Menjadi bagian dari Program Doktor Rekayasa Industri UII adalah pengalaman yang sangat berharga. Didukung lingkungan akademik yang inspiratif dan SDM yang kompeten, saya mendapat banyak ruang untuk berkembang. Semoga UII terus maju dan melahirkan insan yang unggul serta berdampak bagi masyarakat,” ujar Amel.

Sebagai dosen asal Makassar, capaian tersebut menjadi kebanggaan tersendiri sekaligus motivasi untuk terus berkarya di dunia akademik. Perjalanan dari Makassar menuju Yogyakarta, melewati proses perkuliahan, penelitian, publikasi, hingga akhirnya meraih Pin Emas dengan IPK 3,99, menjadi bukti bahwa pendidikan doktoral bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar untuk memberikan kontribusi.

Kini, dengan gelar doktor yang telah diraih, Amel berharap ilmu dan hasil penelitiannya dapat terus dikembangkan untuk mendukung terciptanya dunia pendidikan tinggi yang tidak hanya unggul secara akademik dan teknologi, tetapi juga lebih sehat, manusiawi, dan peduli terhadap kesejahteraan emosional para dosen di era digital. (*)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Sembilan Korban Terluka di Palue Belum Mendapat Perawatan Medis
• 7 jam lalukompas.id
thumb
Mobil Listrik Bisa Parkir Paralel atau Tidak?
• 13 jam lalumedcom.id
thumb
Gabung Doh Kyung Soo, Kim Do Yeon Pertimbangkan Bintangi Drakor We Are the Zombie
• 7 jam lalubeautynesia.id
thumb
UIN Jakarta Ungkap Alasan Alih Kelola TKIP-SDIP Pamulang: Bukan Sekadar Soal Aset
• 11 jam laludisway.id
thumb
Resmi Tersangka, Ruben Onsu Akui Sulit Cari Bukti Gegara Mantan Karyawan Menghilang
• 12 jam lalugrid.id
Berhasil disimpan.