Ketika AI Mengerjakan Tugas Mahasiswa, Masihkah Mereka Benar-Benar Belajar?

republika.co.id
6 jam lalu
Cover Berita

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Nurul Izzah, S.I.Kom.,M.I.Kom, Dosen Fakultas Bahasa dan Sastra, Universitas Negeri Makassar

Kehadiran kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) telah mengubah banyak hal dalam dunia pendidikan. Hal yang dulunya membutuhkan waktu berjam-jam untuk mencari referensi, menyusun tulisan, merangkum bacaan, hingga membuat bahan presentasi, kini dapat diselesaikan dalam hitungan menit, bahkan detik. Cukup dengan menuliskan instruksi atau prompt saja, AI dapat menghasilkan tulisan yang rapi, menyusun slide presentasi, bahkan memberikan jawaban atas pertanyaan yang sebelumnya membutuhkan proses berpikir panjang.

Baca Juga
  • Inovasi Board Game Anti-Bullying Berbasis NFC, SD Muhammadiyah Sapen Raih Emas pada ISIF 2026
  • Pendidikan Psikologi Dinilai Perlu Adaptif terhadap Perubahan Zaman
  • Pembelajaran Interaktif Jadi Alternatif Pendidikan di Pesantren
Bagi mahasiswa, AI telah menjadi sesuatu yang sangat familiar. Teknologi ini hadir bukan hanya sebagai alat bantu belajar saja, melainkan juga sebagai teman mengerjakan tugas, penyusun presentasi, hingga sebagai sumber jawaban ketika harus menanggapi pertanyaan di ruang-ruang kelas. Kemudahan ini tentu tidak bisa diabaikan.

AI sebenarnya dapat membantu mahasiswa memahami materi perkuliahan yang belum mereka kuasai, mencari informasi tambahan, serta memperbaiki tulisan yang mereka susun sendiri. Namun, di balik berbagai manfaatnya, ada satu pertanyaan yang semakin mengganggu pikiran saya: ketika AI mengerjakan tugas mahasiswa, masihkah mereka benar-benar belajar?

.rec-desc {padding: 7px !important;} Pertanyaan ini bukan lahir dari penolakan terhadap teknologi. Saya sangat menyadari bahwa AI merupakan bagian dari perkembangan zaman yang tidak mungkin dihindari. Namun, persoalannya muncul ketika kemudahan tersebut justru membuat mahasiswa melewatkan proses belajar itu sendiri. Sebagai dosen, ada perasaan prihatin, bahkan sedih, ketika melihat bagaimana AI semakin mendominasi aktivitas akademik mahasiswa.

Tugas yang seharusnya menjadi ruang untuk mengolah pengetahuan, menyusun argumentasi, dan melatih kemampuan berfikir justru berubah menjadi aktivitas memindahkan hasil keluaran AI ke dalam file tugas mahasiswa. Presentasi yang semestinya mencerminkan pemahaman mahasiswa pun dapat disusun dengan cepat menggunakan AI.

Ketergantungan ini bahkan terlihat dalam proses presentasi dan diskusi di kelas. Tidak jarang, mahasiswa memegang ponsel sambil membaca teks ketika mempresentasikan materi. Saat sesi tanya jawab, mahasiswa yang mengajukan pertanyaan pun terkadang membaca pertanyaan yang telah disusun dengan bantuan AI melalui ponsel mereka. Begitu pula ketika menjawab pertanyaan dari dosen maupun teman sekelas, mereka kembali mengandalkan AI untuk merumuskan jawaban.

Situasi ini membuat saya bertanya-tanya, sejauh mana mahasiswa benar-benar memahami materi yang mereka presentasikan dan diskusikan jika untuk menyampaikan gagasan, mengajukan pertanyaan, bahkan memberikan jawaban pun mereka masih sangat bergantung pada teknologi tersebut?

Di titik ini, persoalannya bukan lagi sekadar apakah mahasiswa menggunakan AI atau tidak, melainkan apakah mereka masih menjalani proses berpikir yang seharusnya menjadi inti pendidikan tinggi. Pendidikan sepertinya tidak pernah semata-mata tentang harus menghasilkan tugas yang terlihat bagus.

Di balik sebuah tulisan, ada proses membaca, memahami, memilah informasi, menghubungkan konsep, menyusun argumen, dan menemukan cara yang tepat untuk menyampaikan gagasan. Proses itulah yang membentuk kemampuan intelektual mahasiswa.

Namun, ketika seluruh proses tersebut diserahkan kepada AI, mahasiswa mungkin tetap memiliki hasil tugas yang baik, tetapi belum tentu memiliki pemahaman yang setara dengan kualitas tugas tersebut. Tulisannya dapat terlihat akademis, kalimatnya tertata dengan baik, dan argumentasinya pun tampak meyakinkan. Namun, ketika diminta menjelaskan kembali mengenai isi tulisannya, mempertahankan argumennya, atau menghubungkannya dengan persoalan nyata, mereka belum tentu mampu melakukannya.

Saya sering mendapati situasi ketika seorang mahasiswa mengumpulkan tugas dengan argumentasi yang luar biasa, tetapi mereka kesulitan menjelaskan maksud dari paragraf yang ditulisnya sendiri. Jika itu terjadi, apa sebenarnya yang sedang kita nilai? Kemampuan mahasiswa memahami persoalan atau kemampuan mereka menghasilkan keluaran AI yang tampak meyakinkan?

Loading...
.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;} @font-face { font-family: "LPMQ"; src: url("https://static.republika.co.id/files/alquran/LPMQ-IsepMisbah.ttf") format("truetype"); font-weight: normal; font-style: normal } .arabic-text { font-family: "LPMQ"; font-weight: normal !important; direction: rtl; text-align: right; font-size: 2.5em !important; line-height: 49px !important; }

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pertamina Tambah 5 Juta Liter Pertalite untuk Atasi Antrean SPBU di Manado
• 3 jam lalukatadata.co.id
thumb
Ancaman MSCI dan Rupiah Rp18.100 Membayangi, IHSG Bisa Terkapar ke Level 4.000-an
• 4 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Dipuji Gegara Kompak dengan Nathalie Holscher, Sule Ingatkan Soal Jangan Berlebihan, Kenapa?
• 8 jam lalugrid.id
thumb
Heboh Isu Pembatasan Konten soal Karhutla, Komdigi Buka Suara
• 9 jam laluidxchannel.com
thumb
Lampaui target, Trade Expo Indonesia 2026 tembus Rp414 triliun
• 7 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.