jpnn.com, JAKARTA - Wakil Ketua MPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) menyampaikan hubungan Indonesia dan Australia tidak cukup dibangun melalui diplomasi formal antarpemerintah.
Hubungan antarlembaga parlemen, pertukaran pendidikan, kerja sama kebudayaan, serta interaksi masyarakat juga memiliki peran penting dalam memperkuat kemitraan kedua negara.
BACA JUGA: PPIA Masuk Nominasi Asosiasi Pelajar Terbaik di Australia Tahun 2015
Pesan tersebut disampaikan Ibas Yudhoyono saat bertemu dengan Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia (PPIA) di Australian National University (ANU), Canberra, Jumat (16/10).
Pertemuan tersebut menjadi ruang dialog antara wakil rakyat dan mahasiswa Indonesia yang tengah menempuh pendidikan di Australia, sekaligus memperkuat hubungan antarmasyarakat kedua negara.
BACA JUGA: Hari Perhubungan Nasional, Ibas Dorong Transportasi Terintegrasi Berkelanjutan
“Indonesia dan Australia ditakdirkan menjadi negara yang berdekatan. Karena itu, kita harus menjaga hubungan yang ramah, baik, dan hangat agar semakin banyak potensi kerja sama yang dapat dikembangkan,” ujar Ibas.
Menurutnya, diplomasi kebangsaan melalui pendekatan parliament-to-parliament dapat menjadi jembatan untuk memperkuat komunikasi, memperluas kerja sama, dan mendorong pelaksanaan kemitraan strategis komprehensif Indonesia–Australia.
"Kerja sama tersebut perlu terus dikembangkan dalam bidang perdagangan, investasi, pendidikan, penelitian, dan kebudayaan," ucap Ibas.
Dr. EBY juga memandang mahasiswa Indonesia di Australia sebagai bagian penting dari penguatan hubungan kedua bangsa. Pengalaman akademik, pemahaman lintas budaya, dan jejaring internasional yang dibangun selama menempuh pendidikan dapat menjadi modal berharga bagi Indonesia pada masa mendatang.
Lapangan Kerja Bukan Satu-satunya Tantangan Generasi Muda
Di tengah perubahan ekonomi dan dinamika dunia kerja, Ibas menekankan pentingnya mempersiapkan generasi muda agar memiliki keterampilan yang relevan, kemampuan beradaptasi, dan kesiapan menghadapi perubahan kebutuhan industri.
Namun, tantangan generasi muda tidak berhenti pada persoalan memperoleh pekerjaan.
Biaya hidup yang tinggi, kebutuhan tempat tinggal, biaya pendidikan, transportasi, dan kebutuhan sehari-hari turut menjadi pertimbangan penting, terutama bagi mahasiswa dan lulusan baru yang sedang membangun kemandirian ekonomi.
Ibas menyebut persoalan mendasarnya bukan sekadar apakah seseorang dapat memperoleh pekerjaan, melainkan juga apakah pekerjaan tersebut memberikan pendapatan yang memadai untuk memenuhi kebutuhan hidup secara layak, mengembangkan diri, dan merencanakan masa depan.
Bagi mahasiswa Indonesia di Australia, tantangan tersebut memiliki dimensi tersendiri karena biaya hidup dan kebutuhan pendidikan harus dikelola dalam lingkungan ekonomi yang berbeda dari Indonesia.
Sementara itu, bagi generasi muda di Tanah Air, ketersediaan pekerjaan berkualitas, keterjangkauan hunian, daya beli, dan kesesuaian antara upah dengan kebutuhan hidup juga menjadi bagian penting dari agenda kesejahteraan.
"Karena itu, pembangunan yang berpihak kepada generasi muda perlu diarahkan tidak hanya pada penciptaan lapangan kerja, tetapi juga pada peningkatan kualitas pekerjaan, keterampilan, produktivitas," pungkas Ibas.(era/jpnn)
Redaktur & Reporter : Elvi Robiatul




