jpnn.com, JAKARTA - Empat tahun setelah Tragedi Kanjuruhan, sebuah video amatir yang merekam suasana Kota Malang pada hari-hari setelah peristiwa 1 Oktober 2022 telah diputar untuk pertama kalinya di ruang publik melalui pemutaran terbatas (closed screening) di Wendit, Malang.
Tidak semua ingatan tentang sebuah tragedi tersimpan dalam laporan resmi, pemberitaan media, atau dokumen institusi.
BACA JUGA: Arema FC Vs Malut United: Mengenang Tragedi Kanjuruhan
Sebagian hidup dalam catatan personal, foto, rekaman video, percakapan, dan pengalaman warga yang menyaksikan perubahan di sekeliling mereka.
Pada Oktober 2026, komunitas Ruang Bertumbuh Malang berkolaborasi dengan Perpustakaan Padepokan Sastra Tan Tular dan Tentang Malang.id menyelenggarakan "Membaca Setelah Tragedi: Refleksi Kanjuruhan melalui Videografi, Ingatan, dan Arsip".
BACA JUGA: Tim Hukum AMIN: Penyelesaian Tragedi Kanjuruhan dan Km 50 untuk Penuhi Rasa Keadilan
Kegiatan ini menghadirkan pemutaran terbatas sebuah video dokumenter amatir yang merekam suasana Kota Malang pada hari-hari setelah Tragedi Kanjuruhan, 1 Oktober 2022.
Video ini baru pertama kali dirilis melalui pemutaran di ruang publik setelah empat tahun tersimpan. Rekaman tersebut bukan dokumentasi menyeluruh tentang tragedi, bukan pula representasi tunggal atas pengalaman korban dan penyintas.
BACA JUGA: Ada Gas Air Mata dalam Peristiwa Ricuh di Gresik, Komisi III DPR Singgung Tragedi Kanjuruhan
Dia adalah catatan visual dari seorang warga yang merekam suasana kota ketika duka, kemarahan, solidaritas, dan ketidakpastian masih terasa dekat.
Pemutaran ini menjadi kesempatan untuk melihat kembali rekaman tersebut, sekaligus mempertanyakan bagaimana suatu peristiwa diingat, siapa yang menyimpan dokumentasinya, dan kepentingan apa yang memengaruhi cara sebuah peristiwa diceritakan.
Merawat Arsip yang Diproduksi Warga
Kegiatan ini berangkat dari keyakinan bahwa arsip yang diproduksi dan dirawat warga memiliki arti penting dalam menjaga ingatan kolektif.
Rekaman warga dapat menghadirkan sudut pandang yang tidak selalu muncul dalam dokumentasi resmi atau pemberitaan arus utama.
Arsip warga bukan berarti sepenuhnya bebas dari subjektivitas. Setiap rekaman lahir dari posisi, pilihan, dan keterbatasan orang yang membuatnya.
Namun, ketika dokumentasi warga dirawat dan dibaca secara kritis, ia dapat membuka ruang bagi pengalaman dan kesaksian yang berisiko terpinggirkan oleh narasi yang lebih dominan.
Dalam konteks Kanjuruhan, merawat rekaman semacam ini bukan sekadar menyimpan gambar masa lalu.
Dia juga merupakan upaya menjaga kemungkinan bagi masyarakat untuk membaca kembali peristiwa melalui jejak yang dibuat oleh warga sendiri, di luar kebutuhan untuk membenarkan atau memenuhi kepentingan pihak tertentu.
Video, Ingatan, dan Ruang Literasi
Melalui kolaborasi Ruang Bertumbuh Malang, Perpustakaan Padepokan Sastra Tan Tular, dan Tentang Malang.id, kegiatan ini mempertemukan videografi amatir dengan praktik literasi dan pengarsipan.
Perpustakaan menjadi ruang untuk melihat dokumentasi bukan hanya sebagai benda yang disimpan, tetapi sebagai bahan untuk membaca pengalaman sosial dan sejarah. Video menjadi titik berangkat bagi percakapan tentang ingatan, kesaksian, serta tanggung jawab masyarakat dalam merawat dokumentasi sebuah peristiwa.
Empat tahun setelah tragedi, pertanyaannya bukan hanya apa yang terjadi pada 1 Oktober 2022, melainkan juga bagaimana peristiwa itu terus dicatat, dibicarakan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Membaca Setelah Tragedi tidak menawarkan satu kesimpulan final tentang Kanjuruhan.
Kegiatan ini membuka ruang untuk melihat kembali, mendengarkan, dan membaca arsip secara kritis—termasuk arsip yang dibuat oleh warga biasa.
Sebab, ingatan kolektif tidak hanya dibentuk oleh siapa yang memiliki kuasa untuk menulis sejarah.
Dia juga bergantung pada siapa yang bersedia merekam, menyimpan, merawat, dan membagikan jejak yang mereka miliki.(fri/jpnn)
Redaktur & Reporter : Friederich Batari




