Jakarta, VIVA – Ancaman kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi perhatian menjelang peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 di Pekanbaru, Riau.
Di tengah persiapan acara tersebut, perlindungan kesehatan santri dan masyarakat dari paparan asap menjadi salah satu hal yang disorot.
Anggota DPR RI Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dari daerah pemilihan Riau, Mafirion, menegaskan peringatan Hari Santri tidak boleh sekadar menjadi kegiatan seremonial ketika masyarakat masih menghadapi dampak karhutla.
“HSN memang pesta santri, tetapi kepedulian terhadap bencana karhutla tidak boleh pudar. Santri dan masyarakat yang terdampak asap membutuhkan tindakan nyata. Karena itu, Rumah Bebas Asap ini menjadi simbol kehadiran PKB untuk membantu masyarakat menghadapi dampak bencana,” ujanya, dikutip Senin (19/10/26).
Pernyataan tersebut disampaikan menyusul peresmian Rumah Bebas Asap di Pondok Pesantren Dar El Hikmah, Pekanbaru, oleh Ketua Umum PKB Abdul Muhaimin Iskandar atau Cak Imin, Minggu (18/10/26).
Fasilitas itu dihadirkan untuk membantu melindungi santri dan warga dari paparan kabut asap karhutla. Selain itu, PKB menyalurkan bantuan masker bagi santri dan masyarakat yang terdampak.
Mafirion menilai lingkungan pesantren perlu mendapat perhatian khusus karena santri, terutama anak-anak, termasuk kelompok yang rentan terhadap dampak kabut asap. Selain mengganggu aktivitas sehari-hari, paparan asap juga berisiko terhadap kesehatan.
Peringatan HSN 2026 di Pondok Pesantren Dar El Hikmah dijadwalkan berlangsung pada (22/10/26) dan akan dihadiri Cak Imin. Untuk mengantisipasi paparan asap selama apel berlangsung, panitia mewajibkan seluruh peserta menggunakan masker.
Mafirion mengingatkan, kemeriahan peringatan Hari Santri harus berjalan beriringan dengan kepedulian terhadap masyarakat yang tengah menghadapi bencana.
“Jangan sampai peringatan Hari Santri berlangsung meriah, sementara santri dan masyarakat di sekitar kita harus berjuang menghadapi asap. Semangat Hari Santri harus diwujudkan dalam kepedulian, gotong royong, dan aksi nyata membantu sesama,” katanya.
Menurut Mafirion, Hari Santri seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat nilai kepedulian dan gotong royong, terutama ketika masyarakat membutuhkan bantuan akibat bencana.
“Bagi PKB, Hari Santri bukan sekadar perayaan. Ini juga momentum untuk membuktikan bahwa nilai-nilai kepedulian dan gotong royong harus hadir dalam tindakan. Ketika masyarakat terdampak bencana, kita harus hadir dan membantu,” tutur dia.





