Jakarta: Fajar menjadi penanda penting bagi umat Islam untuk menentukan awal waktu salat Subuh sekaligus dimulainya puasa Ramadan. Namun, tidak semua cahaya yang muncul di langit timur sebelum matahari terbit menandakan masuknya waktu Subuh.
Dalam ilmu fikih, terdapat dua jenis fajar yang dikenal, yakni fajar kadzib dan fajar shadiq. Keduanya memiliki karakteristik berbeda, terutama dari segi bentuk, arah penyebaran, dan tingkat kecerahan cahaya.
Lantas, apa perbedaan fajar kadzib dan fajar shadiq? Berikut penjelasannya. Apa Itu Fajar Kadzib? Fajar kadzib atau fajar semu merupakan cahaya yang muncul lebih dahulu di langit timur sebelum terbitnya fajar shadiq. Cahaya ini relatif lemah dan tampak menyerupai tiang atau bentuk segitiga yang menjulang ke atas mengikuti arah garis ekliptika.
Kemunculan fajar kadzib tidak menandakan masuknya waktu salat Subuh. Bagi umat Islam yang menjalankan puasa, makan dan minum masih diperbolehkan selama fajar shadiq belum terbit.
Berbeda dengan fajar shadiq, cahaya fajar kadzib tidak membentang secara horizontal di sepanjang ufuk timur. Pola cahayanya cenderung memanjang ke atas dan tidak menjadi penanda dimulainya waktu salat Subuh maupun puasa. Apa Itu Fajar Shadiq? Fajar shadiq atau fajar nyata merupakan cahaya yang menandai masuknya waktu salat Subuh. Kemunculannya juga menjadi batas akhir makan dan minum bagi umat Islam yang hendak menjalankan puasa.
Berbeda dengan fajar kadzib, fajar shadiq tampak sebagai cahaya tipis yang menyebar secara horizontal di sepanjang ufuk timur. Cahaya tersebut kemudian semakin terang seiring mendekatnya waktu matahari terbit.
Dalam kajian fikih, mayoritas ulama atau jumhur ulama sepakat bahwa awal waktu salat Subuh ditandai dengan terbitnya fajar shadiq. Waktu salat Subuh berlangsung sejak kemunculan fajar tersebut hingga matahari terbit.
Baca Juga :
Bacaan Tahiyat Akhir Lengkap Arab, Latin, dan Terjemahannya1. Bentuk cahaya
Fajar kadzib tampak menyerupai tiang atau segitiga cahaya yang menjulang ke atas. Sementara itu, fajar shadiq terlihat sebagai cahaya tipis yang membentang secara horizontal di sepanjang ufuk timur.
2. Tingkat kecerahan
Cahaya fajar kadzib relatif lemah dan tidak menyebar secara horizontal. Adapun fajar shadiq tampak sebagai cahaya yang menyebar di ufuk timur dan semakin terang menjelang matahari terbit.
3. Waktu kemunculan
Fajar kadzib muncul lebih dahulu sebelum fajar shadiq. Setelah fajar shadiq terbit, cahaya langit akan semakin terang hingga matahari muncul di ufuk.
4. Pengaruh terhadap waktu ibadah
Kemunculan fajar kadzib belum menandai awal waktu salat Subuh maupun dimulainya puasa. Sebaliknya, terbitnya fajar shadiq menjadi penanda masuknya waktu salat Subuh sekaligus batas dimulainya puasa bagi umat Islam.
Baca Juga :
Apakah Tidur Membatalkan Wudhu? Ini Penjelasannya dalam IslamAtmosfer bumi menghamburkan dan membiaskan sebagian cahaya matahari sehingga langit mulai tampak terang sebelum matahari terbit. Proses ini turut membentuk warna dan pola cahaya yang terlihat menjelang pagi.
Meski sama-sama muncul sebelum matahari terbit, fajar kadzib dan fajar shadiq memiliki karakteristik berbeda. Dalam penentuan waktu ibadah, fajar shadiq menjadi penanda masuknya waktu salat Subuh sekaligus dimulainya puasa Ramadan.
(Siti Nahdia Usman)




