Bukan Hanya Mengaji, Santri Punya Peran dalam Perkembangan Film Nasional

jpnn.com
1 jam lalu
Cover Berita

jabar.jpnn.com, KOTA BANDUNG - Kontribusi kalangan pesantren dalam sejarah perfilman Indonesia menjadi sorotan DPW PKB Jawa Barat menjelang Hari Santri Nasional (HSN) 2026.

Pesantren dinilai tidak hanya menjadi pusat pendidikan agama, tetapi juga memiliki jejak penting dalam perkembangan seni dan kebudayaan nasional.

BACA JUGA: Polrestabes Bandung Gerebek Pabrik Obat Keras Terlarang, 250 Juta Butir Disita!

Salah satu sosok yang kembali diangkat ialah Djamaluddin Malik, tokoh perfilman nasional sekaligus pelopor industri film pada masa awal kemerdekaan yang memiliki keterkaitan dengan Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) Nahdlatul Ulama (NU).

Direktur National Leadership Academy (NLA) DPW PKB Jawa Barat Hasim Adnan mengatakan, kontribusi tersebut perlu kembali diperkenalkan agar pandangan terhadap kehidupan pesantren tidak berhenti pada aktivitas keagamaan semata.

BACA JUGA: Polisi Tangkap Pria Pembobol Minimarket di Pancoran Mas Depok

“Selama ini, kehidupan pesantren sering kali hanya diidentikkan dengan kegiatan mengaji, ibadah, dan aktivitas keagamaan lainnya. Padahal, kita juga memiliki sosok seperti Djamaluddin Malik yang menunjukkan bahwa pesantren dan ekosistem NU memiliki kontribusi dalam perkembangan kebudayaan, termasuk perfilman nasional,” kata Hasim.

Hal itu disampaikan Hasim dalam diskusi NLA Lecture Series #2 bertajuk Sinema, Kebudayaan, dan Imajinasi Kebangsaan Momentum Hari Santri: Merawat Tradisi, Membayangkan Indonesia di Creative Hall, Jalan K.H. Ahmad Dahlan Nomor 1, Kota Bandung, Minggu (18/10/2026).

BACA JUGA: Gempa 4,1 Magnitudo di Bogor Rusak 253 Rumah Warga

Menurut Hasim, diskusi tersebut menjadi ruang untuk membicarakan kembali hubungan antara pesantren, kebudayaan, dan perjuangan membangun bangsa. Film, kata dia, juga memiliki pengaruh besar terhadap cara masyarakat memandang berbagai persoalan.

Dia berharap PKB dapat ikut mengambil peran dalam mendorong perkembangan kebudayaan, termasuk industri perfilman, agar tidak sekadar menjadi produk hiburan, tetapi juga menjadi ruang perjuangan dan pembentukan karakter masyarakat.

“Dengan melibatkan para tokoh sinema dan kebudayaan, kita berharap PKB dapat turut memikirkan bagaimana kebudayaan, termasuk perfilman nasional, bisa menjadi ruang perjuangan sekaligus sarana untuk membangun masyarakat,” ujarnya.

Ketua Umum DPP PKB A. Muhaimin Iskandar atau Cak Imin yang hadir melalui sambungan daring turut menyoroti tantangan yang dihadapi kalangan santri dalam kehidupan politik.

Meski menghadapi situasi yang tidak mudah, dia menilai peluang bagi kaum santri untuk berkontribusi semakin terbuka.

“Politik santri sedang mengalami situasi tidak mudah, tetapi kesempatan semakin terbuka luas,” kata Cak Imin.

Dia berharap forum tersebut dapat memberikan masukan bagi arah perjuangan PKB, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Diskusi itu menghadirkan sejumlah tokoh dari dunia seni dan kebudayaan, di antaranya sutradara Riri Riza, sastrawan Acep Zamzam Noor, dan budayawan Sujiwo Tejo. Ketua DPW PKB Jawa Barat Syaiful Huda, jajaran pengurus partai, anggota Fraksi PKB DPRD Jawa Barat, serta ratusan peserta dari berbagai kalangan juga hadir.

Riri Riza menilai seni dan kebudayaan, termasuk sinema, merupakan bagian dari perjalanan panjang bangsa Indonesia. Karena itu, dukungan terhadap perkembangan perfilman perlu menjadi bagian dari upaya merawat kehidupan kebudayaan.

Dia berharap PKB dapat mengambil peran sebagai fasilitator yang membuka ruang bagi para pelaku seni untuk terus berkarya dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Sementara itu, Acep Zamzam Noor menilai pembahasan kebudayaan dalam forum politik menjadi penting karena isu tersebut kerap luput dari perhatian partai politik.

Menurut Acep, santri dan kebudayaan merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Kehidupan pesantren turut membentuk nilai dan karakter yang menjadi bagian dari kebudayaan masyarakat Indonesia.

“Yang terpenting bukanlah kesantrian dalam arti formal, melainkan bagaimana nilai-nilai yang dimiliki oleh santri dapat diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat. Santri bukan sekadar identitas, melainkan juga mentalitas dan karakter,” ujarnya.

Pandangan lain disampaikan Sujiwo Tejo yang menyoroti pentingnya adab dalam pendidikan pesantren. Menurut dia, pendidikan tidak cukup hanya membekali seseorang dengan pengetahuan, tetapi juga harus membentuk cara bersikap dan menghormati orang lain.

“Hal yang tidak diajarkan di perguruan tinggi umum adalah adab. Di pesantren, ada adab. Bagaimana membukakan pintu untuk orang lain, bagaimana bersikap ketika melewati orang tua, dan sebagainya,” kata Sujiwo.

Dia menilai nilai-nilai tersebut menjadi salah satu alasan pesantren tetap relevan di tengah perkembangan zaman. Kemudahan memperoleh informasi melalui teknologi, menurut dia, perlu diimbangi dengan pembentukan karakter dan pemahaman tentang manfaat ilmu.

“Ilmu bisa didapatkan dari Google dan sebagainya, tetapi ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang barokah,” pungkasnya. (mar5/jpnn)


Redaktur & Reporter : Ridwan Abdul Malik


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Heboh Isu Pembatasan Konten soal Karhutla, Komdigi Buka Suara
• 12 jam laluidxchannel.com
thumb
Anak Krakatau Meletus 8 Kali, Kolom Abu Capai 500 Meter
• 1 jam laluliputan6.com
thumb
IHSG Ambruk Karena MSCI, Deretan Saham Ini Menarik Buat Dilirik
• 18 menit lalucnbcindonesia.com
thumb
Hasil Survei: Tingkat Kepuasan terhadap Kinerja Presiden Prabowo Tetap Kuat
• 3 jam lalujpnn.com
thumb
Jepang Siapkan Misi Bersejarah ke Phobos, Wahana Antariksa Akan Bawa Sampel Bulan Mars ke Bumi pada 2032
• 9 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.