Hong Kong (ANTARA) - Dana Moneter Internasional (IMF) menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Hong Kong pada 2026 menjadi 3,8 persen, demikian diungkap kepala keuangan setempat pada Minggu (18/10) sebagaimana warta Xinhua.
Pemerintah Daerah Administratif Khusus (Special Administrative Region/SAR) Hong Kong pun memiliki pandangan yang lebih optimistis dibandingkan proyeksi tersebut.
Paul Chan, sekretaris keuangan pemerintah SAR Hong Kong, menulis dalam blognya bahwa selama kunjungannya ke Bangkok, Thailand, pekan lalu untuk menghadiri pertemuan tahunan IMF dan World Bank Group, diskusi-diskusi yang berlangsung menyoroti bagaimana lanskap ekonomi global tengah dibentuk ulang oleh dampak tingginya harga energi akibat konflik, serta pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI).
Prakiraan terbaru IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global akan melambat dari 3,5 persen tahun lalu menjadi 3,1 persen tahun ini.
Dengan kesenjangan pembangunan yang kian melebar, proyeksi pertumbuhan bagi ekonomi yang terdampak konflik direvisi turun secara tajam, sementara proyeksi untuk ekonomi yang memiliki keterkaitan erat dalam rantai pasok AI justru mengalami kenaikan.
Selain itu, pertumbuhan di kawasan Asia secara keseluruhan terus melampaui rata-rata global, dengan proyeksi pertumbuhan Hong Kong turut direvisi naik menjadi 3,8 persen.
Chan menekankan, baik mendukung transformasi ekonomi melalui teknologi maupun memperkuat momentum ekonomi untuk mempertahankan lapangan kerja, kuncinya terletak pada dukungan keuangan yang efisien, dan Hong Kong memainkan peran aktif dalam mendorong arus modal yang efisien.
Pemerintah Daerah Administratif Khusus (Special Administrative Region/SAR) Hong Kong pun memiliki pandangan yang lebih optimistis dibandingkan proyeksi tersebut.
Paul Chan, sekretaris keuangan pemerintah SAR Hong Kong, menulis dalam blognya bahwa selama kunjungannya ke Bangkok, Thailand, pekan lalu untuk menghadiri pertemuan tahunan IMF dan World Bank Group, diskusi-diskusi yang berlangsung menyoroti bagaimana lanskap ekonomi global tengah dibentuk ulang oleh dampak tingginya harga energi akibat konflik, serta pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI).
Prakiraan terbaru IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global akan melambat dari 3,5 persen tahun lalu menjadi 3,1 persen tahun ini.
Dengan kesenjangan pembangunan yang kian melebar, proyeksi pertumbuhan bagi ekonomi yang terdampak konflik direvisi turun secara tajam, sementara proyeksi untuk ekonomi yang memiliki keterkaitan erat dalam rantai pasok AI justru mengalami kenaikan.
Selain itu, pertumbuhan di kawasan Asia secara keseluruhan terus melampaui rata-rata global, dengan proyeksi pertumbuhan Hong Kong turut direvisi naik menjadi 3,8 persen.
Chan menekankan, baik mendukung transformasi ekonomi melalui teknologi maupun memperkuat momentum ekonomi untuk mempertahankan lapangan kerja, kuncinya terletak pada dukungan keuangan yang efisien, dan Hong Kong memainkan peran aktif dalam mendorong arus modal yang efisien.





