jakarta.jpnn.com - Gagasan sosialisme Islam yang diwariskan HOS Tjokroaminoto kembali ditegaskan sebagai salah satu pijakan perjuangan Syarikat Islam di abad ke-21.
Presiden Lajnah Tanfidziyah Pimpinan Pusat Syarikat Islam Hamdan Zoelva mengatakan sosialisme Islam atau sosialisme berketuhanan harus tetap menjadi landasan perjuangan organisasi dalam membangun ekonomi kebangsaan dan kerakyatan.
BACA JUGA: Ketum DPP FOKSI: 2 Tahun Asta Cita Prabowo, Kemajemukan Jadi Kekuatan Kemajuan Bangsa
Pesan itu disampaikan Hamdan dalam pembukaan Kongres Nasional/Majelis Tahkim Syarikat Islam (SI) ke-42 di Jatim Expo, Surabaya, Minggu (18/10/2026).
Kongres yang berlangsung 17-20 Oktober 2026 tersebut mengusung tema Dakwah Ekonomi Menuju Kemerdekaan Sejati.
BACA JUGA: PP HIMMAH Yakin Listyo Sigit Prabowo Bawa KSP Percepat Program Prioritas Presiden Prabowo
Pembukaan kongres dihadiri Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, Menteri Koperasi Ferry Juliantono yang juga menjabat Sekretaris Jenderal Syarikat Islam, Wakil Menteri Koperasi Farida Fariha, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak, serta sejumlah tokoh nasional lainnya.
Menurut Hamdan, sosialisme Islam yang menjadi warisan perjuangan HOS Tjokroaminoto merupakan gagasan tentang keadilan sosial, kebangsaan dan kerakyatan yang berasaskan nilai-nilai Islam.
BACA JUGA: DPP Dilantik, PSN 08 Minta Pengurus Bantu Presiden Prabowo Jaga Ketahanan Pangan dan Energi
“Yaitu sosialisme kebangsaan dan sosialisme kerakyatan yang berasaskan Islam,” tegas Hamdan.
Dia menekankan gagasan tersebut bukan sekadar bagian dari sejarah SI, melainkan ideologi perjuangan yang harus terus dikontekstualisasikan dengan persoalan bangsa Indonesia hari ini.
Karena itu, dakwah ekonomi yang menjadi tema Kongres ke-42 tidak diposisikan semata-mata sebagai program pemberdayaan ekonomi umat, tetapi sebagai bagian dari perjuangan mewujudkan masyarakat yang mandiri, adil dan berdaulat.
Hamdan mengingatkan, sejak awal kelahirannya, Syarikat Islam memang tumbuh dari keresahan terhadap ketimpangan ekonomi dan ketidakadilan yang dialami kaum pribumi.
Gerakan tersebut berawal dari Sarekat Dagang Islam (SDI) yang didirikan Haji Samanhudi bersama kalangan pedagang dan pengusaha pribumi di Laweyan, Surakarta.
Bagi Hamdan, pilihan perjuangan melalui ekonomi bukanlah kebetulan. Kemiskinan dan ketergantungan ekonomi pada masa kolonial telah menjadi sumber berbagai persoalan sosial, mulai dari kebodohan, keterbelakangan hingga hilangnya rasa percaya diri masyarakat pribumi.
“Perlawanan dimulai dari gerakan memperbaiki ekonomi rakyat, karena di bidang itulah sumber masalah yang menyebabkan kita dijajah,” ujar Hamdan.
Dari Surakarta, gerakan tersebut kemudian menemukan momentum politik dan kebangsaannya di Surabaya.
Kongres dan rapat akbar Syarikat Islam di Surabaya pada awal 1913 yang dihadiri sekitar 15.000 anggota dan simpatisan menjadi salah satu momentum penting dalam perkembangan gerakan nasional.
Surabaya kemudian menjadi tempat tumbuhnya rumah perjuangan HOS Tjokroaminoto di Kampung Peneleh. Rumah tersebut berkembang menjadi ruang perkaderan dan pendidikan politik yang mempertemukan gagasan tentang Islam, kebangsaan, ekonomi dan kemerdekaan.
Sejumlah tokoh yang kelak memainkan peranan penting dalam sejarah Indonesia, seperti Soekarno, RM Kartosoewirjo dan Semaun, pernah tinggal dan berinteraksi dengan Tjokroaminoto di lingkungan tersebut.
Gagasan yang berkembang di Peneleh kemudian diperluas melalui media Oetoesan Hindia, sehingga pemikiran kebangsaan dan semangat perlawanan terhadap kolonialisme menyebar lebih luas.
Dalam pandangan Hamdan, perjuangan ekonomi yang dirintis Syarikat Islam sejak era SDI memiliki kesinambungan dengan gagasan sosialisme Islam.
Salah satu wujudnya adalah pengembangan Koperasi Setia Oesaha dan NV Handel Maatschappij Setia Oesaha sebagai upaya memperluas akses kaum pribumi terhadap modal.
Koperasi ditempatkan bukan sekadar sebagai badan usaha, tetapi sebagai institusi ekonomi berdimensi sosial yang bertujuan menghadirkan kesejahteraan bersama melalui prinsip syirkah ta'awuniyah atau kerja sama berasas gotong royong.
Semangat itulah yang menurut Hamdan hendak dihidupkan kembali melalui konsep dakwah ekonomi.
Dakwah tidak hanya dipahami sebagai penyampaian ajaran keagamaan, tetapi juga sebagai upaya konkret membangun jiwa kewirausahaan, pendidikan, kemandirian ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
Hamdan juga menghubungkan sosialisme Islam dengan gagasan pendidikan HOS Tjokroaminoto.
Konsep Muslim Nationale Onderwijs yang dirumuskan Tjokroaminoto pada 1925, menurutnya, menunjukkan bahwa perjuangan membangun masyarakat merdeka tidak dapat dipisahkan dari penguasaan ilmu pengetahuan.
Pendidikan harus mempertemukan ilmu agama dengan sains, teknologi, engineering dan matematika.
Dengan demikian, manusia yang hendak dibangun bukan hanya manusia yang saleh secara spiritual, tetapi juga manusia yang memiliki ilmu, kemampuan dan kemandirian untuk menentukan masa depannya sendiri.
Hamdan juga menegaskan bahwa sosialisme Islam dalam tradisi Syarikat Islam tidak menempatkan Islam dan nasionalisme sebagai dua kekuatan yang bertentangan.
Sebaliknya, keduanya bertemu dalam cita-cita membangun masyarakat yang adil, berdaulat dan bermartabat.
Gagasan tersebut, kata Hamdan, terus diwariskan oleh para tokoh SI seperti dr. Abdoel Moeis, Haji Agus Salim, Ki Hadjar Dewantara, A.M. Sangaji, Arudji Kartawinata, Suryopranoto, Raden Pandji Sosrokardono dan para pelanjut perjuangan Syarikat Islam.
Karena itu, sosialisme Islam harus terus dibaca dalam konteks Indonesia, sebagai gagasan tentang sosialisme kebangsaan dan kerakyatan yang berketuhanan.
Hamdan mengatakan, Kongres ke-42 sekaligus menjadi momentum untuk menyegarkan kembali pemahaman terhadap Program Asas dan Program Tandhim Syarikat Islam.
Keduanya harus dibaca dalam hubungannya dengan realitas masyarakat, kehidupan kebangsaan dan kenegaraan Indonesia saat ini.
Syarikat Islam, kata dia, tidak boleh berhenti pada romantisme sejarah. Warisan perjuangan Tjokroaminoto harus diterjemahkan untuk menjawab tantangan baru, termasuk ketimpangan ekonomi, perubahan teknologi, perkembangan informasi dan era post-truth.
Di sinilah gagasan sosialisme Islam hendak ditempatkan kembali: sebagai nilai perjuangan yang mendorong keadilan sosial, kemandirian ekonomi, pendidikan, gotong royong dan kesejahteraan rakyat.
Sementara itu, Menteri Koperasi yang juga Sekretaris Jenderal Syarikat Islam, Ferry Juliantono, menegaskan bahwa gagasan dakwah ekonomi akan diterjemahkan melalui penguatan ekonomi syariah, koperasi, serta zakat dan wakaf.
Menurut Ferry, penguatan tersebut antara lain dilakukan dengan mendorong koperasi berbasis pesantren dan masjid, pembiayaan syariah, serta memperluas akses permodalan agar semakin banyak pengusaha muslim dapat tumbuh dan mengambil peran lebih besar dalam perekonomian nasional.
Ferry menilai Syarikat Islam memiliki modal sejarah yang kuat karena sejak awal lahir dari gerakan ekonomi rakyat dan kemudian berkembang menjadi kekuatan pergerakan kebangsaan.
Dengan demikian, dakwah ekonomi yang diusung dalam Kongres ke-42 menjadi bentuk aktualisasi warisan perjuangan tersebut.
"Dari perjuangan ekonomi kaum pribumi, gagasan sosialisme Islam, pendidikan dan perkaderan, hingga penguatan koperasi dan ekonomi syariah hari ini, Syarikat Islam berupaya menyambungkan kembali satu garis perjuangan: membangun umat yang mandiri dan berdaulat sebagai jalan menuju kemerdekaan sejati", pungkasnya. (jos/jpnn)
Redaktur & Reporter : Ragil




