EtIndonesia.com Setelah demonstrasi besar-besaran baru saja meletus di Prancis, warga Portugal juga turun ke jalan. Pada Sabtu (17 Oktober), demonstrasi digelar di sejumlah kota di Portugal. Warga mengeluhkan harga barang yang terlalu mahal dan biaya sewa rumah yang terus melonjak, sehingga kehidupan mereka semakin sulit.
Menurut laporan media berita Eropa, aksi protes kali ini diprakarsai bersama oleh sejumlah organisasi hak atas perumahan dan serikat pekerja di Portugal. Demonstrasi terutama berlangsung di ibu kota Lisbon, Porto, dan Coimbra.
Para demonstran menuntut kenaikan upah, peningkatan pensiun, serta perbaikan layanan publik. Mereka juga berharap pemerintah mencari cara untuk menurunkan biaya hidup.
Di Coimbra, seorang juru bicara serikat pekerja mengatakan bahwa saat ini bukan hanya biaya sewa rumah dan harga bahan bakar yang semakin mahal. Bahkan untuk membeli kebutuhan sehari-hari yang paling mendasar, keluarga biasa pun hampir tidak mampu lagi.
Para demonstran di Porto mulai berbaris sekitar pukul 10.30 pagi. Dalam sepekan terakhir, kota tersebut telah beberapa kali dilanda aksi protes terkait masalah perumahan.
Penyelenggara mengatakan bahwa para peserta berasal dari berbagai kelompok dan tidak mewakili partai politik mana pun. Mereka hanya ingin menyampaikan kepada pemerintah bahwa kehidupan seperti ini sudah benar-benar sulit untuk dijalani.
Seorang pemimpin Blok Kiri Portugal mengatakan kepada Associated Press (AP) bahwa masalah perumahan merupakan hal yang paling membebani masyarakat saat ini. Sebagian orang harus menghadapi biaya sewa yang terus meningkat, sementara ada pula yang setelah membayar cicilan KPR setiap bulan, hanya menyisakan uang yang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Pada sore hari, ribuan orang diperkirakan juga akan turun ke jalan di ibu kota Lisbon. Wali Kota Lisbon memperingatkan bahwa masyarakat berhak menyampaikan tuntutan mereka, tetapi demonstrasi harus tetap mematuhi hukum.
Sekretaris Jenderal Konfederasi Umum Serikat Pekerja Portugal, Tiago Oliveira, mengatakan kepada kantor berita Lusa bahwa biaya perumahan dan biaya hidup meningkat terlalu cepat, sementara layanan publik justru semakin memburuk. Menurutnya, kondisi inilah yang menjadi salah satu penyebab masyarakat terus melakukan aksi protes.
Sementara itu, di Brussel, ibu kota Belgia, demonstrasi juga meletus pada 17 Oktober. Ratusan demonstran, yang sebagian besar merupakan kaum muda, turun ke jalan untuk menentang kenaikan biaya pendidikan dan kebijakan reformasi yang berpotensi membuat akses ke perguruan tinggi semakin sulit.
Menurut laporan Reuters, banyak orang di lokasi demonstrasi mengenakan penutup wajah. Sebagian demonstran bahkan membalikkan sebuah mobil. Polisi kemudian mengerahkan gas air mata dan meriam air bertekanan tinggi.
Menteri Dalam Negeri Belgia, Bernard Quintin, menulis di platform X bahwa aksi tersebut sudah bukan lagi sekadar demonstrasi biasa. Ia mengatakan polisi akan mengambil segala tindakan yang diperlukan untuk memulihkan ketertiban.
Selain di Brussel, aksi protes juga berlangsung di Liège, sebuah kota di Belgia bagian timur. Sebelumnya, para mahasiswa setempat telah mengeluhkan biaya pendidikan yang semakin tinggi dan sulitnya memperoleh bahan-bahan pembelajaran.
Pada saat yang sama, aksi protes di Prancis hari ini telah berkembang menjadi bentrokan yang disertai kekerasan. Sejumlah demonstran terlibat konfrontasi dengan polisi antihuru-hara. (***)





