JAKARTA, KOMPAS.TV - Sebaran asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang sempat memasuki atmosfer wilayah Jakarta dan sekitarnya mulai menjauh sejak Sabtu (17/10/2026).
Meski demikian, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta tetap menyiapkan langkah antisipasi, termasuk menyiagakan 367 fasilitas kesehatan untuk menangani potensi gangguan pernapasan.
Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta Bidang Komunikasi Sosial, Chico Hakim, mengatakan berkurangnya sebaran asap dipengaruhi perubahan pola angin.
Namun, Pemprov DKI tetap mewaspadai kemungkinan perubahan arah angin yang dapat memengaruhi pergerakan asap.
Baca Juga: BMKG Deteksi Asap Karhutla Kalimantan di Atmosfer Jakarta
"Berkurang dari Jumat karena angin. Tapi kita terus waspada kalau ada perubahan arah angin," kata Chico dikutip dari Antara, Senin (19/10/2026).
Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan sebaran asap karhutla yang sempat memasuki wilayah Jawa bagian barat, termasuk Jabodetabek, tidak berlangsung lama dan tidak berdampak pada kualitas udara di permukaan.
Meski demikian, data pemantauan kualitas udara menunjukkan konsentrasi PM2.5 di Jakarta berada pada rentang sedang hingga tidak sehat. Karena itu, masyarakat tetap diimbau memantau kualitas udara dan mengikuti informasi resmi.
BMKG: Sebaran Asap Mulai Menjauh dari JabodetabekDalam siaran pers tertanggal 17 Oktober 2026, BMKG menjelaskan hasil pemantauan citra satelit pada Jumat (16/10/2026) menunjukkan asap karhutla sempat memasuki wilayah Jawa bagian barat, termasuk Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.
Namun, berdasarkan pemantauan pada Sabtu (17/10/2026) pukul 08.00, 10.00, dan 13.00 WIB, sebaran asap mulai bergerak menjauh secara bertahap.
BMKG masih mendeteksi sisa sebaran asap di Pesisir Barat Banten pada ketinggian sekitar 10.000–18.000 kaki atau 3–5,4 kilometer.
Sekretaris Utama BMKG, Guswanto, menjelaskan perubahan arah dan pergerakan angin yang mulai melemah pada ketinggian tersebut memengaruhi pergeseran sebaran asap dari wilayah Jawa bagian barat.
Baca Juga: Asap Karhutla Sampai Jakarta, Rano Karno: Pemprov DKI Siapkan Water Mist
Ia menegaskan, keberadaan asap yang terdeteksi melalui satelit tidak selalu menunjukkan peningkatan konsentrasi polutan di permukaan.
"Meski demikian, BMKG mengimbau masyarakat tetap waspada dan memantau perkembangan kualitas udara di lingkungan masing-masing. BMKG terus memantau dinamika atmosfer dan menyampaikan informasi terkini sebagai dasar bagi masyarakat mengambil langkah antisipatif," kata Guswanto, Sabtu (17/10/2026).
PM2.5 Jakarta Masih Berada pada Kategori Sedang hingga Tidak SehatMeski sebaran asap karhutla dilaporkan mulai menjauh, pemantauan kualitas udara di Jakarta tetap perlu diperhatikan.
Berdasarkan siaran pers BMKG, pengukuran konsentrasi partikulat halus PM2.5 di Kemayoran, Jakarta, menunjukkan angka berkisar 46,7–109,7 mikrogram per meter kubik (µg/m³). Rentang tersebut berada pada kategori sedang hingga tidak sehat.
Sementara itu, data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) dari Kementerian Lingkungan Hidup menunjukkan kualitas udara Jakarta bervariasi dari kategori baik hingga tidak sehat, dengan PM2.5 sebagai parameter kritis.
Berikut data ISPU di sejumlah titik pemantauan Jakarta yang tercantum dalam siaran pers BMKG:
- Marunda: 49 (baik).
- Tanah Abang: 60 (sedang).
- Kelapa Gading: 103 (tidak sehat).
- Menteng: 116 (tidak sehat).
- Kebun Jeruk: 120 (tidak sehat).
Baca Juga: Kemenhub Catat 2.458 Penerbangan Terdampak Karhutla, Asap Meluas hingga Sulawesi dan Maluku
Data tersebut menunjukkan bahwa kondisi kualitas udara tidak seragam di seluruh Jakarta. Selain itu, angka PM2.5 dan ISPU tersebut tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa asap karhutla menjadi penyebab penurunan kualitas udara di setiap lokasi.
Chico mengatakan, kualitas udara Jakarta juga dipengaruhi faktor lokal seperti emisi transportasi dan industri, serta kondisi musim kemarau.
Pemprov DKI Siagakan 367 Fasilitas KesehatanPemprov DKI Jakarta tetap memperkuat kesiapsiagaan layanan kesehatan untuk mengantisipasi potensi gangguan pernapasan akibat penurunan kualitas udara.
Chico menyebut, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung telah memerintahkan kesiapsiagaan fasilitas kesehatan yang tersebar di wilayah Ibu Kota.
"Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung telah memerintahkan kesiapsiagaan penuh fasilitas kesehatan. Sebanyak 31 rumah sakit, 44 puskesmas, dan 292 puskesmas pembantu (total 367 fasilitas) disiagakan untuk menangani potensi gangguan pernapasan atau ISPA," ujarnya.
Selain menyiagakan fasilitas kesehatan, Dinas Kesehatan DKI Jakarta berkoordinasi dengan fasilitas pelayanan kesehatan agar penanganan warga yang membutuhkan dapat dilakukan secara sigap.
Pemprov DKI juga melakukan pemantauan kualitas udara secara berkala melalui stasiun pemantau kualitas udara dan sensor emisi.
Baca Juga: BMKG: Awan Cumulonimbus Tersebar di 14 Kawasan Senin 19 Oktober 2026
Pemantauan tersebut dilakukan melalui koordinasi dengan BMKG, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta, Dinas Lingkungan Hidup, serta Kementerian Lingkungan Hidup.
Water Mist dan Modifikasi Cuaca DisiapkanPemprov DKI Jakarta juga menyiapkan langkah mitigasi untuk mengantisipasi kemungkinan memburuknya kualitas udara.
Chico mengatakan, penyemprotan water mist atau kabut air disiapkan dan diaktifkan melalui 179 perangkat yang terpasang di 145 gedung di berbagai lokasi.
Selain itu, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) tetap menjadi opsi yang disiapkan melalui koordinasi dengan instansi terkait.
Pemprov DKI juga membuka kemungkinan menerapkan langkah lanjutan apabila data resmi menunjukkan penurunan kualitas udara secara signifikan.
Langkah tersebut mencakup rekomendasi pembelajaran jarak jauh (PJJ) bagi siswa, pembatasan aktivitas luar ruangan bagi kelompok rentan, serta imbauan penggunaan masker sesuai kebutuhan.
"Pemprov DKI terus melakukan pemantauan real-time melalui stasiun pemantau kualitas udara, sensor emisi, serta koordinasi erat dengan BMKG, BPBD DKI Jakarta, Dinas Lingkungan Hidup, dan Kementerian Lingkungan Hidup," tutur Chico.
Baca Juga: Peringatan Dini BMKG Gelombang Tinggi Capai 4 Meter pada 19-22 Oktober, Cek Wilayah Terdampak
Download KompasTV Apps di TV kamu, sekarang juga di https://app.kompas.tv/. Satu apps untuk semua Video Premium, Breaking News, dan Live Streaming 24/7 dari Kompas Gramedia.
Penulis : Rizky L Pratama Editor : Tito-Dirhantoro
Sumber : Kompas TV
- Karhutla
- Kabut Asap
- Jakarta
- Pemprov DKI Jakarta
- BMKG
- Kualitas Udara





