Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar saham Indonesia menghadapi risiko tekanan jual dari dana investasi global apabila MSCI merealisasikan perubahan klasifikasi Indonesia dari emerging market menjadi standalone market.
Berdasarkan kompilasi kepemilikan 34 exchange-traded fund atau ETF berbasis indeks MSCI, nilai saham Indonesia dalam portofolio tersebut mencapai US$1.884,05 juta atau sekitar US$1,88 miliar atau sekitar Rp 34 triliun (US$1= Rp 18.040).
Nilai tersebut berasal dari penjumlahan 561 posisi saham Indonesia berdasarkan holdings per 15 Oktober 2026. Data ini menggambarkan kepemilikan sebelum penurunan pasar 16 Oktober, sehingga belum mencerminkan nilai posisi yang tersisa setelah koreksi tersebut.
Apabila seluruh posisi saham Indonesia dalam sampel harus dikeluarkan untuk mengikuti perubahan indeks, nilai yang berpotensi dilepas mencapai sekitar US$1,88 miliar berdasarkan valuasi 15 Oktober.
Nilai penjualan aktual nantinya bergantung pada harga saham, kurs, perubahan kepemilikan, serta ketentuan dan waktu implementasi MSCI.
IEMG Menguasai Hampir Separuh Eksposur
Eksposur terbesar dalam kompilasi ini berada pada iShares Core MSCI Emerging Markets ETF atau IEMG, dengan kepemilikan saham Indonesia sebesar US$825,07 juta.
Nilai tersebut menyumbang sekitar 43,79% dari seluruh posisi Indonesia dalam sampel. Berikutnya terdapat iShares Core MSCI EM IMI UCITS ETF, yang diperdagangkan melalui sejumlah ticker termasuk EIMI, EMIM, dan IS3N, dengan kepemilikan sebesar US$247,55 juta.
EMXC menyusul dengan posisi Indonesia sebesar US$141,82 juta, EEM sebesar US$133,39 juta, dan IXUS sebesar US$99,89 juta.
Secara keseluruhan, lima ETF terbesar menguasai US$1.447,71 juta atau 76,84% dari nilai saham Indonesia yang teridentifikasi. Konsentrasi ini membuat penyesuaian portofolio sejumlah fund utama menjadi faktor penting dalam menilai potensi tekanan jual.
Total Posisi yang Berpotensi Dilepas Mencapai US$1,88 Miliar
Dari sampel tersebut, kepemilikan saham Indonesia pada 29 fund iShares mencapai US$1.841,81 juta, sedangkan lima fund State Street SPDR memiliki posisi sebesar US$42,24 juta.
Dengan asumsi seluruh posisi Indonesia harus dilepas, nilai saham yang berpotensi terkena penjualan mencapai US$1.884,05 juta berdasarkan valuasi pada tanggal holdings.
Total AUM seluruh fund dalam sampel mencapai US$502.671,02 juta atau sekitar US$502,67 miliar. Namun, angka tersebut mencakup investasi di berbagai negara. Untuk menilai risiko penjualan saham Indonesia, nilai yang relevan adalah kepemilikan Indonesianya.
Cakupan US$1,88 miliar juga belum mewakili seluruh ETF global. Sejumlah produk besar Xtrackers, UBS, dan Amundi, serta mandat indeks institusi dan produk pasif selain ETF, belum masuk ke subtotal ini.
UBS sebelumnya memperkirakan perubahan Indonesia menjadi standalone berpotensi memicu sekitar US$4 miliar arus keluar dana pasif, menurut laporan Reuters pada 16 Oktober 2026.
Estimasi tersebut memiliki cakupan berbeda dengan kompilasi 34 ETF. Karena potensi tumpang tindih, angka US$4 miliar versi UBS tidak boleh ditambahkan ke US$1,88 miliar dari sampel ETF.
BEI Perketat ARB Menjadi 7% hingga Akhir TahunDi tengah tekanan pasar, Bursa Efek Indonesia memperketat batas auto rejection bawah atau ARB dari sebelumnya 15% menjadi 7% untuk saham yang tercakup dalam ketentuan perdagangan di Pasar Reguler dan Pasar Tunai.
Kebijakan tersebut berlaku mulai Senin, 19 Oktober 2026 hingga 31 Desember 2026, dan akan dievaluasi kembali mengikuti perkembangan kondisi pasar.
Penyesuaian ini mempersempit batas penurunan harga saham yang diperbolehkan dalam satu hari perdagangan. Meski demikian, batas ARB yang lebih ketat tidak serta-merta menghilangkan tekanan jual.
Apabila pasokan jual belum terserap, antrean penjualan dapat bertahan dan tekanan harga berlanjut pada hari perdagangan berikutnya. Karena itu, perubahan ARB lebih berkaitan dengan pengaturan pergerakan harga harian daripada penghapusan risiko keluarnya dana.
Batas ARB 7% berlaku pada harga masing-masing saham sesuai ketentuan bursa, bukan merupakan batas penurunan IHSG sebesar 7% per hari.
Jika Tekanan Berlanjut, IHSG Bisa ke Level Berapa?IHSG ditutup di 5.185,11 pada Jumat, 16 Oktober 2026, setelah melemah 11,57%. Posisi penutupan tersebut digunakan sebagai titik acuan simulasi berikut, bukan sebagai harga indeks terkini pada 19 Oktober.
Besarnya potensi penjualan saham dari ETF belum cukup untuk menentukan target IHSG secara langsung. Dampaknya bergantung pada saham yang dijual, bobotnya dalam indeks, kecepatan penjualan, likuiditas, serta kemampuan investor lain menyerap pasokan.
Sebagian risiko perubahan klasifikasi juga mungkin telah tercermin dalam koreksi harga yang terjadi. Oleh karena itu, nilai holdings sebelum penurunan pasar tidak dapat langsung dianggap sebagai tambahan outflow yang seluruhnya masih menunggu terjadi.
Dengan batas ARB mencapai 7% saat ini, IHSG akan menginterpretasi angka setara dengan kurang lebih 5% di indeks. Sehingga dasar perhitungannya adalah setiap akumulasi 5% di IHSG.
Namun, data kepemilikan ETF belum memberikan dasar untuk menyatakan bahwa salah satu level tersebut pasti atau paling mungkin tercapai. Penilaian itu membutuhkan analisis penjualan per saham, bobot indeks, likuiditas, dan kemampuan pasar menyerap transaksi.
MSCI sendiri masih menjalankan konsultasi hingga 30 April 2027, dengan keputusan paling lambat diumumkan pada 30 Juni 2027. Perkembangan proses tersebut, respons reformasi pasar, dan perilaku investor akan menentukan besarnya penyesuaian portofolio serta dampaknya terhadap IHSG.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]
(gls/gls)




