Wakil Ketua Komisi III DPR Ahmad Sahroni menyoroti insiden anggota Direktorat Polisi Udara (Ditpoludara) Korpolairud Baharkam Polri, Bharatu Laurentius Valdo Fernandez Lawai, yang tewas ditembak juniornya, Bharada Andika Rahmadani.
Pangkat Bharatu satu tingkat lebih tinggi dibanding Bharada.
Sahroni menyampaikan duka atas anggota yang meninggal. Ia mengatakan, masalah ini harus diusut tuntas.
"Saya menyampaikan duka kepada korban atas kejadian ini. Tentunya pelaku harus diproses sebagaimana aturan berlaku," kata Sahroni kepada wartawan, Senin (19/10).
Pelaku menghabisi korban menggunakan senjata api jenis laras panjang. Menurut pengacara korban, Petrus Bala Pattyona, pelaku mengambil senjata dari gudang sebelum melakukan penembakan.
Sahroni menekankan, masalah senjata api ini harus dievaluasi. Ia meminta anggota yang diberi wewenang menggunakan senjata api diberikan evaluasi rutin dan pemeriksaan psikologis.
"Masalah senpi ini wajib dievaluasi dan uji psikologis buat para anggota yang memiliki senjata. Tentu harus diperketat," ucap Sahroni.
Bendahara Umum NasDem ini berharap insiden jadi momentum perbaikan agar tidak kembali terulang.
Sebelumnya pembunuhan itu terjadi pada Jumat (16/10) di Markas Ditpoludara, Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Banten.
Berdasarkan keterangan Petrus, korban saat itu sedang tidur di mes ketika penembakan terjadi sekitar pukul 04.00 WIB. Selain ditembak, Valdo disebut diserang menggunakan sangkur.
Sekitar 30 menit setelah kejadian, korban dibawa dari Markas menuju rumah sakit. Korban masih bergerak saat dibawa, tetapi meninggal dunia dalam perjalanan.
Pelaku merupakan junior Valdo yang baru sekitar delapan bulan bergabung. Keduanya berada dalam kesatuan yang sama di Polairud dan bertugas di kawasan Lapangan Terbang Pondok Cabe.





