REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan bahwa asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari Kalimantan telah menjauhi wilayah Jakarta sejak Sabtu (17/10/2026). Meski demikian, kualitas udara di Jakarta masih relatif tidak sehat meski tidak terdampak asap karhutla.
Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno mengatakan pihaknya bakal melakukan penyemprotan water mist untuk mengatasi polusi udara yang memburuk di wilayah. Penyemprotan itu dinilai menjadi salah satu upaya untuk mengatasi kondisi kualitas udara di Jakarta yang sedang tidak baik-baik saja.
"Kita akan melakukan water mist lagi, itu salah satu bukan satu-satunya cara, minimal bisa meredam apa namanya, ya kabut polusi segala macam," kata dia, Ahad (18/10/2026).
Selain itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta juga disebut telah menyiagakan seluruh fasilitas kesehatan untuk menghadapi potensi lonjakan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Pasalnya, kualitas udara yang tidak sehat berpotensi menyebabkan ISPA kepada masyarakat.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
"Pak Gubernur sudah memerintahkan, minimal kita mengantisipasi, semua rumah sakit, puskesmas harus siap kalau memang terjadi ISPA segala macam," ujar Rano.
Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengungkapkan bahwa kualitas udara di wilayahnya memburuk sejak beberapa hari terakhir. Ia mengaku hendak menginformasikan kondisi itu kepada publik lebih awal, tapi hal itu urung dilakukan karena dikhawatirkan bakal menimbulkan kontroversi.
"Sebenarnya dari tiga hari yang lalu saya ingin menyampaikan kepada publik, tetapi saya tidak ingin kemudian ini malah menjadi pro-kontra, apakah ini disebabkan oleh apa? Tapi yang jelas bahwa betul sekarang ini kondisinya mengalami kondisi yang tidak baik," kata dia di kawasan Ancol, Jakarta Utara, Jumat (16/10/2026).
Meski begitu, ia tidak mau menyalahkan pihak lain atas kondisi polusi udara yang meningkat di Jakarta. Ia pun tidak mau menyebutkan bahwa polusi udara di Jakarta meningkat karena asap akibat karhutla di wilayah lain.
Untuk mengatasi masalah itu, Pramono mengaku telah menginstruksikan jajaran Dinas Kesehatan untuk menyiagakan seluruh rumah sakit dan puskesmas, termasuk puskesmas pembantu. Ia menambahkan, pihaknya juga akan memberikan bantuan kepada warga yang terkena ISPA akibat polusi udara, termasuk apabila warga membutuhkan bantuan peralatan untuk gangguan pernapasan.
"Saya sudah memerintahkan 31 rumah sakit, 44 puskesmas, 292 pembantu puskesmas sekarang ini sudah disiagakan untuk menangani hal yang berkaitan dengan efek dari kondisi cuaca ini," kata Pramono.
Berdasarkan catatan Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi DKI Jakarta, tren kasus ISPA di Jakarta mengalami peningkatan pada Februari 2026. Angka itu kemudian menurun hingga bulan Juni 2026, tapi kembali meningkat pada Juli hingga September 2026.
"Jumlah kasus bulan September berjumlah 278.000 Kasus. Jumlah kasus bulan Oktober (sampai 15 Oktober) berjumlah 39.320, dan ada kemungkinan akan meningkat," kata Kepala Dinkes Provinsi DKI Jakarta Ani Ruspitawati.
Menurut dia, dinamika Kasus ISPA di Jakarta dipengaruhi oleh berbagai faktor. Beberapa faktor itu antara lain kualitas udara, kondisi iklim, serta tingginya mobilitas penduduk di wilayah aglomerasi Jakarta dan sekitarnya.
Ia menambahkan, pihaknya berupaya terus memperkuat pemantauan tren kasus. Di sisi lain, pihaknya juga melakukan kesiapsiagaan fasilitas pelayanan kesehatan dan edukasi pencegahan melalui PHBS, etika batuk, serta penggunaan masker saat sakit atau berada di lingkungan padat.
Diketahui, asap karhutla sempat terdeteksi masuk ke wilayah Jakarta pada Jumat siang. Namun, asap itu masih berada di lapisan atmosfer, sehingga tidak berdampak langsung terhadap aktivitas masyarakat di ibu kota.
BMKG melaporkan, asap karhutla dari Kalimantan itu sudah tidak lagi terdeteksi di langit ibu kota pada Sabtu pagi. Berdasarkan citra satelit Himawari 9 pada Ahad pukul 16.00 WIB, asap dari wilayah Kalimantan telah sepenuhnya bergeser ke arah Sumatra.
Kendati demikian, data dari IQAir pada Ahad menunjukkan bahwa indeks kualitas udara di Jakarta tercatat berada di angka 151 dengan konsentrasi partikel halus PM2.5 mencapai 55,6 mikrogram per meter kubik. Angka itu menandakan bahwa kualitas udara di Jakarta tidak sehat.