Suhu udara di sejumlah wilayah Jawa Timur mencapai 37 derajat Celsius di tengah pengaruh fenomena El Nino yang berada pada kategori sangat kuat. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda mencatat suhu tertinggi mencapai 37,5 derajat Celsius di Kediri.
Taufiq Hermawan Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda Sidoarjo mengatakan, berdasarkan catatan stasiun meteorologi BMKG se-Jawa Timur, sejumlah daerah mengalami suhu udara tinggi dalam beberapa waktu terakhir.
Selain Kediri, suhu udara di Bojonegoro, Lamongan, Nganjuk, dan Magetan juga tercatat mencapai sekitar 37 derajat Celsius.
“Dari catatan BMKG se-Jawa Timur, saat ini suhu yang paling tinggi nilainya itu ada di beberapa tempat. Seperti alat kami di daerah Kediri, tercatat suhunya 37,5 derajat Celsius. Sama juga di Bojonegoro, Lamongan, Nganjuk hingga Magetan, itu tercatat 37 derajat Celsius,” kata Taufiq saat on air di Radio Suara Surabaya pada Senin (19/10/2026).
Sedangkan untuk Kota Surabaya, menurut Taufiq, suhu udara di Kota Pahlawan berada pada kisaran 35,6 hingga 36,8 derajat Celsius.
Kondisi ini membuat masyarakat perlu mewaspadai cuaca panas, terutama saat beraktivitas di luar ruangan pada siang hari.
Paparan suhu tinggi dapat meningkatkan risiko dehidrasi dan gangguan kesehatan akibat panas, khususnya bagi kelompok rentan.
Taufiq juga menjelaskan, pengaruh El Nino diperkirakan masih terasa di Indonesia, termasuk Jawa Timur, hingga Januari atau Februari 2027. Saat ini, indeks El Nino disebut berada di atas 2,5 dan masuk kategori sangat kuat.
Menurutnya, kondisi tersebut turut memengaruhi cuaca yang dirasakan masyarakat, mulai dari suhu yang panas dan terik hingga udara yang terasa gerah saat beraktivitas di dalam ruangan.
“Panas teriknya kita rasakan bersama ya, membawa efek tidak langsung terhadap karhutla di mana-mana, termasuk di Jawa Timur. Ini secara langsung adalah efek dari gangguan El Nino yang kita rasakan,” ujarnya.
Ia menambahkan, dampak El Nino tidak hanya berkaitan dengan peningkatan suhu, tetapi juga kondisi yang lebih kering.
Situasi tersebut dapat meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama ketika vegetasi mengering dan sumber api muncul.
BMKG mengimbau masyarakat untuk memperhatikan kondisi cuaca, menjaga kecukupan cairan tubuh, serta membatasi aktivitas berat di bawah terik matahari apabila tidak mendesak.
Masyarakat juga perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran lahan. Upaya pencegahan, termasuk tidak membakar sampah atau membuka lahan dengan api, menjadi penting untuk mengurangi risiko karhutla. (saf/ipg)




