Menteri Agama Nasaruddin Umar merespons kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah. Ia mengingatkan pentingnya menjaga lingkungan melalui pendekatan agama hingga dosa membunuh.
Hal itu disampaikan Nasaruddin saat konferensi pers dua tahun kinerja Kementerian Agama di Kantor Kemenag, Jakarta Pusat, Senin (19/10).
Nasaruddin mengatakan, Kemenag menerapkan pendekatan ekoteologi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam memelihara lingkungan. Menurut dia, pendekatan agama dapat membantu masyarakat memahami pentingnya menjaga alam.
“Ekoteologi itu apa? Terkait dengan pertanyaan tadi. Bahwa penyadaran masyarakat akan lingkungan itu tidak mungkin pendekatannya terlalu formal, ya. Dengan menggunakan bahasa agama, kesadaran masyarakat untuk memelihara lingkungan itu sangat besar,” kata Nasaruddin kepada wartawan.
Ia pun menyinggung dosa di balik perbuatan membunuh yang turut dibarengi dengan peristiwa karhutla. Nasaruddin menjelaskan, makhluk hidup tidak hanya manusia, tetapi juga binatang dan tumbuh-tumbuhan juga perlu dijaga.
“Karena kan terkait dengan dosa, kan? Barang siapa yang membunuh satu nyawa sama dengan membunuh nyawa yang lain. Barang siapa yang menghidupkan satu nyawa sama dengan menghidupkan nyawa yang lain. Binatang punya nyawa, tumbuh-tumbuhan punya nyawa, manusia punya nyawa,” jelas Nasaruddin.
Nasaruddin lebih jauh menjelaskan, salah satu upaya Kemenag dalam menyikapi karhutla ialah mendorong penyampaian pesan tentang lingkungan melalui khotbah seragam di wilayah terdampak.
Dengan itu, maka diharapkan pesan mengenai pentingnya menjaga lingkungan dapat dipahami dengan luas.
“Karhutla ini kita mencoba untuk ada khotbah seragam di kawasan itu betapa pentingnya kita memelihara lingkungan alam,” tuturnya.





