HARIAN.FAJAR.CO.ID, VICTORIA—Anggota parlemen Australia, Helen Haines tertabrak mobil dalam peristiwa yang disebut oleh Perdana Menteri Anthony Albanese sebagai sebuah “serangan”.
Keluarga Haines menyatakan bahwa insiden itu terjadi di luar kantor daerah pemilihannya di Wangaratta, negara bagian Victoria.
Menurut polisi, ia tertabrak oleh sebuah mobil Toyota Landcruiser berwarna putih pada pukul 15.35 waktu setempat.
Seorang pria berusia 43 tahun asal Tarrawingee ditangkap di lokasi kejadian oleh seorang warga yang kebetulan melintas; polisi menyebutkan bahwa sebuah pisau ditemukan di dalam mobil tersebut.
Polisi menyatakan sedang menyelidiki apakah “ini merupakan tindakan yang disengaja”, namun mereka meyakini tidak ada “ancaman berkelanjutan terhadap masyarakat”.
Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, tampak emosional saat berbicara mengenai Helen Haines dalam sebuah wawancara televisi langsung di program 7.30 di ABC.
Sang Perdana Menteri tampak hampir menangis ketika ditanya apakah ia dan rekan-rekannya pernah mendiskusikan ancaman serta risiko yang mereka hadapi.
“Ya,” jawabnya, seraya menambahkan: “Saat ini, perhatian saya tertuju pada salah satu rekan saya.”
Ia menggambarkan Helen Haines sebagai sosok yang memiliki “integritas”.
“Dia adalah seseorang yang sangat peduli terhadap komunitasnya. Dia tidak ragu untuk bersuara mengenai apa yang menurutnya dibutuhkan oleh komunitas tersebut,” ujarnya dikutip dari BBC.
Albanese menambahkan: “Saya tidak ingin melihat sistem politik di mana kita tidak bisa lagi berbincang dengan orang lain di supermarket, di jalan, dalam pertemuan warga, maupun di forum publik.”
“Itu adalah bagian penting dari demokrasi kita. Menurut saya, tensi situasi telah meningkat. Terlalu banyak teriakan, namun kurang ada dialog. Kurang ada percakapan yang santun serta perbedaan pendapat yang disampaikan dengan baik,” lanjutnya.
“Dalam sebuah negara demokrasi, kita seharusnya mampu melakukan diskusi, debat politik, dan mengemukakan pandangan yang berbeda, namun dengan cara yang saling menghormati,” katanya.
“Ini bukan kecelakaan. Tampaknya ada tindakan yang disengaja,” ujar Anthony Albanese kepada program 730 di ABC.
“Kami tentu berharap ada kabar baik mengenai kondisi Helen dalam 24 jam ke depan,” ujarnya.
Ia mengatakan bahwa kepolisian antiterorisme akan menelusuri rekam jejak tersangka untuk mencoba mengungkap motif di baliknya.
Albanese menambahkan bahwa ia sudah sejak lama meminta semua pihak untuk meredakan ketegangan dalam politik.
“Jika Anda melihat linimasa media sosial siapa pun, dan mencermati kolom komentarnya, orang-orang melontarkan pernyataan yang tidak akan pernah mereka ucapkan secara langsung. Tensi situasi jelas telah meningkat—dan tentu saja, bukan hanya di Australia. Kita juga telah melihat insiden serupa di tingkat internasional,” ujarnya.
Pemimpin oposisi Australia, Angus Taylor, mengaku “sangat sedih dan terpukul” mendengar kabar tersebut.
“Saya berdoa untuk Helen, serta memikirkan keluarga dan orang-orang terkasihnya. Ini adalah hari yang mengejutkan bagi bangsa kita. Tidak seorang pun boleh menjadi sasaran dengan cara seperti ini,” katanya.
“Masyarakat Australia pasti akan merasa marah dan terkejut atas serangan terhadap Helen di luar kantor daerah pemilihannya di Wangaratta,” tegasnya.
Menurutnya, “Bangsa kita tidak boleh menjadi tempat di mana serangan kekerasan dianggap sebagai hal yang wajar.” (amr)





