Jakarta, CNBC Indonesia - Membeli mainan ternyata bukan lagi sekadar aktivitas anak-anak. Kini, semakin banyak orang dewasa yang rela mengeluarkan uang demi mengoleksi mainan, komik, action figure, hingga menikmati wahana permainan untuk mengobati kerinduan terhadap masa kecil.
Fenomena tersebut dikenal sebagai kidult economy, yakni tren konsumsi di kalangan orang dewasa yang menghabiskan uang untuk membeli produk atau menikmati aktivitas yang identik dengan dunia anak-anak.
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga (UNAIR), Prof. Dr. Gancar C. Premananto menjelaskan, fenomena ini tidak lepas dari strategi produsen internasional dalam membidik konsumen dewasa yang memiliki daya beli lebih tinggi. Ia bilang, perubahan demografi di sejumlah negara maju menjadi salah satu faktor yang mendorong pertumbuhan pasar mainan untuk orang dewasa. Penurunan jumlah anak-anak membuat produsen harus mencari kelompok konsumen baru untuk mempertahankan bisnis mereka.
"Kondisi demografis piramida terbalik di negara-negara maju memicu penurunan jumlah konsumen anak, yang berdampak pada hilangnya pasar utama bagi produsen mainan internasional," ungkap Gancar, dikutip dari laman resmi UNAIR, Senin (19/10/2026).
Gancar menjelaskan, fenomena kidult economy memiliki keterkaitan dengan istilah lipstick effect, yakni kecenderungan konsumen tetap membeli barang-barang kecil yang bersifat mewah atau premium meskipun sedang menghadapi tekanan ekonomi. Dalam konteks ini, kata ia, pembelian mainan, barang koleksi, hingga pengalaman bermain menjadi salah satu bentuk konsumsi yang memberikan kesenangan di tengah ketidakpastian ekonomi.
Ia bilang, konsumen cenderung mencari kebahagiaan jangka pendek (short term orientation) dibandingkan mengejar kebahagiaan jangka panjang yang hasilnya belum tentu dapat dipastikan. Rutinitas pekerjaan dan aktivitas sehari-hari yang padat juga menjadi salah satu alasan orang dewasa mencari hiburan melalui mainan dan nostalgia masa kecil.
"Para konsumen kerap berdalih memberikan self-reward agar bisa tetap bahagia di tengah gempuran rutinitas harian. Aktivitas sehari-hari yang padat menjadi sumber stres (stressor) yang berpotensi mengganggu kesehatan mental mereka," ujarnya.
Gancar juga menyoroti sejumlah survei mengenai perilaku konsumen kidult di Indonesia. Berdasarkan survei yang dirujuknya, mayoritas responden rutin mengeluarkan uang sekitar Rp500.000 hingga Rp1 juta setiap bulan untuk memenuhi kebutuhan hobi dan nostalgia.
Besarnya pengeluaran tersebut menunjukkan bahwa tren kidult economy membuka peluang bisnis bagi industri mainan, barang koleksi, dan hiburan.
Hati-hati, Jangan Sampai Terjerat Pinjol
Meski dapat menjadi sarana hiburan dan melepas stres, Gancar mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan kondisi keuangan hanya demi memenuhi keinginan membeli mainan. Ia menekankan, pengeluaran untuk hobi harus tetap disesuaikan dengan kemampuan finansial masing-masing.
"Jangan sampai keinginan mendapatkan kesenangan sesaat justru menimbulkan persoalan keuangan," kata ia.
Ia secara khusus mengingatkan bahaya penggunaan pinjaman online (pinjol) untuk membiayai hobi yang sebenarnya bukan kebutuhan utama. Selain itu, masyarakat juga diminta menghindari perilaku konsumtif berlebihan, seperti membeli mainan hanya untuk ditumpuk sebagai pajangan tanpa tujuan investasi yang jelas.
Gancar menegaskan menjaga kesehatan mental melalui aktivitas yang menyenangkan memang penting. Namun, hal tersebut harus diimbangi dengan perencanaan keuangan yang baik.
"Menjaga kesehatan mental di tengah ketidakpastian ekonomi memang penting, namun harus dibarengi dengan penganggaran yang matang. Jangan sampai menjebak diri dalam jeratan pinjol dan perilaku mubazir," ujarnya.
(hsy/hsy)




