Pantau - Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji menegaskan bahwa penguatan industri kakao nasional membutuhkan kolaborasi lintas sektor untuk meningkatkan produktivitas, memperbaiki kualitas bahan baku, serta menjamin keberlanjutan pasokan kakao bagi industri pengolahan di Indonesia.
Pernyataan tersebut disampaikan Sarmuji melalui keterangan resmi di Jakarta, Senin, dengan menekankan pentingnya keterlibatan berbagai pemangku kepentingan dalam membangun industri kakao yang produktif, berkelanjutan, dan berdaya saing.
Menurutnya, penguatan industri kakao tidak dapat dilakukan pemerintah atau satu pihak secara mandiri karena terdapat sejumlah tantangan yang membutuhkan penanganan bersama dari sektor hulu hingga hilir.
"Penguatan industri kakao tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Diperlukan kolaborasi lintas sektor untuk menjawab berbagai tantangan, mulai dari peningkatan produktivitas dan kualitas bahan baku, penguatan kapasitas sumber daya manusia, penerapan prinsip keberlanjutan, hingga peningkatan daya saing industri pengolahan dan produk kakao nasional," ujar Menperin.
Sarmuji menjelaskan bahwa tantangan industri kakao nasional mencakup peningkatan hasil produksi, perbaikan mutu bahan baku, pengembangan kompetensi sumber daya manusia (SDM), serta penerapan praktik produksi yang berkelanjutan.
Selain itu, peningkatan daya saing industri pengolahan kakao beserta produk turunannya menjadi perhatian pemerintah untuk memperkuat posisi industri kakao Indonesia.
Kemenperin Perkuat Industri Kakao melalui Program Cocoa DoctorKementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memperluas kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan untuk membangun ekosistem kakao nasional yang mampu mendukung kegiatan produksi secara berkelanjutan.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah mengembangkan Program Cocoa Doctor, yakni pelatihan untuk menghasilkan SDM kompeten yang dapat menjadi agen perubahan dalam pengembangan industri kakao nasional.
Program tersebut dirancang untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan SDM yang terlibat dalam rantai nilai kakao, mulai dari pengelolaan tanaman di sektor hulu hingga pengembangan industri pengolahan di sektor hilir.
Pelaksanaan Cocoa Doctor merupakan hasil kolaborasi Kemenperin dengan FAST Project dari United Nations Development Programme (UNDP), didukung United Kingdom Foreign, Commonwealth & Development Office (UK FCDO) serta Cocoa Academy PT Mars Symbioscience Indonesia.
Melalui kerja sama tersebut, pemerintah dan mitra terkait berupaya meningkatkan kapasitas SDM sekaligus memperkuat rantai nilai kakao nasional agar lebih produktif, kompetitif, dan berkelanjutan.
Sarmuji berharap kolaborasi lintas sektor tersebut menghasilkan langkah konkret yang memberikan manfaat langsung kepada petani, pelaku usaha, serta industri pengolahan kakao.
Ia menegaskan bahwa kerja sama tidak boleh hanya berhenti pada pertemuan atau forum diskusi, tetapi harus diwujudkan melalui program dan kegiatan bersama yang memberikan hasil nyata.
"Kolaborasi ini diharapkan tidak berhenti pada forum diskusi, tetapi dapat diterjemahkan menjadi program dan aksi bersama yang memberikan dampak nyata bagi petani, pelaku usaha, dan industri kakao nasional," tegasnya.
Program Cocoa Doctor Targetkan 100 Peserta Sepanjang 2026Sepanjang 2026, Program Cocoa Doctor menargetkan sebanyak 100 peserta mengikuti pelatihan untuk meningkatkan kompetensi dalam pengembangan dan pengelolaan kakao.
Hingga awal Oktober 2026, sebanyak 70 peserta telah mengikuti pelatihan tersebut atau mencapai 70 persen dari keseluruhan target yang ditetapkan.
Sementara itu, sebanyak 30 peserta lainnya dijadwalkan mengikuti pelatihan pada 20 Oktober hingga 11 November 2026 untuk memenuhi target 100 peserta sepanjang tahun ini.
Program Cocoa Doctor telah dimulai sejak Juli 2026 dan diselenggarakan secara bertahap di fasilitas Mars Cocoa Academy Tarengge.
Selama mengikuti pelatihan, peserta mendapatkan pembekalan pengetahuan dan keterampilan mengenai peningkatan produktivitas tanaman kakao, perbaikan kualitas hasil produksi, serta penerapan praktik pengelolaan yang berkelanjutan.
Pembekalan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kemampuan peserta dalam menerapkan metode pengelolaan kakao yang lebih baik sehingga mampu mendukung peningkatan hasil produksi dan menjaga kualitas bahan baku industri.
Lulusan Cocoa Doctor Diharapkan Menjadi Agen Perubahan bagi Petani KakaoPelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika, menegaskan bahwa penguatan kompetensi SDM merupakan salah satu fondasi penting untuk membangun industri kakao nasional yang tangguh dan berdaya saing.
Menurutnya, peningkatan kualitas SDM melalui pelatihan menjadi langkah strategis agar pengetahuan dan keterampilan dalam pengembangan industri kakao dapat diterapkan secara lebih luas.
Putu berharap para lulusan Program Cocoa Doctor tidak hanya memanfaatkan pengetahuan yang diperoleh untuk kepentingan masing-masing, tetapi juga menyebarluaskannya kepada petani dan pelaku usaha di daerah asal mereka.
Dengan demikian, lulusan program tersebut diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang membantu petani meningkatkan produktivitas, memperbaiki kualitas hasil panen, dan menerapkan praktik pengelolaan kakao secara berkelanjutan.
Penyebarluasan pengetahuan tersebut juga diharapkan memperluas manfaat pelatihan sehingga tidak hanya dirasakan peserta secara langsung, tetapi juga menjangkau petani dan pelaku usaha kakao di berbagai daerah.
Melalui penguatan kompetensi SDM dan kolaborasi lintas sektor, Kemenperin berupaya meningkatkan produktivitas serta kualitas kakao nasional sekaligus menjaga keberlanjutan pasokan bahan baku bagi industri pengolahan.
Program Cocoa Doctor menjadi salah satu langkah pemerintah untuk memperkuat ekosistem industri kakao dari hulu hingga hilir melalui peningkatan keterampilan tenaga kerja, penerapan prinsip keberlanjutan, dan penguatan daya saing industri nasional.




