Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia menegaskan, bahwa stok Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis khusus penugasan yakni RON 90 atau Pertalite berada di kisaran 16 hari - 18 hari. Sementara untuk BBM non subsidi yakni Pertamax Cs masih aman berada di atas 20 hari.
Semula, Bahlil menjelaskan, bahwa saat ini kondisi global masih tidak menentu. Hal ini jelas membuat harga minyak mentah dunia mengalami lonjakan yang signifikan. Dari data yang dia sampaikan, bahwa harga minyak dunia sudah menembus level US$ 105-106 per barel. Dengan rata-rata harga minyak mentah Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP) mencapai US$ 91-US$92 per barel
"Kita tahu bahwa kondisi global sampai sekarang kondisinya semakin tidak menentu," ungkap Bahlil di Istana Negara, dikutip Selasa (20/6/2026).
Sebagaimana diketahui, Indonesia adalah negara yang masih bergantung pada impor BBM. Tingginya harga minyak mentah dunia jelas akan mengganggu Anggaran Pendapatan Negara Bukan Pajak (APBN), yang mana pemerintah sendiri telah mematok ICP senilai US$ 70 per barel dalam APBN 2026.
Lalu bagaiaman dengan stok BBM nasional, khususnya jenis subsidi seperti Pertalite?
Bahlil menguraikan, bahwa stok BBM nasional seperti Pertalite masih aman berada di level 16 hari. "RON 90 sekarang di angka 16-20 hari, kemudian selebihnya untuk bentuk BBM yang lain itu rata-rata di atas 20 hari," tegas Bahlil.
Di hari yang sama, pada Konfrensi Pers di Bali, Bahlil membeberkan bahwa terjadinya antrean BBM di sejumlah wilayah di Indonesia murni karena kendala teknis kelancaran distribusi logistik antarwilayah, bukan disebabkan oleh kelangkaan stok secara nasional.
Khusus wilayah Bali, penurunan cadangan sempat terjadi akibat keterlambatan kapal pengangkut BBM dari Jawa. Namun, pasokan di Bali kini telah pulih ke level 11 hingga 12 hari dan dinaikkan target statusnya menjadi 15 hari.
Untuk mengurai kendala logistik tersebut, Pertamina mengintensifkan rantai distribusi dari Jawa ke Bali dengan menambah jumlah armada kapal pengangkut dari semula 3 kapal menjadi 7 kapal.
"Secara cadangan nasional tidak ada terlalu sesuatu yang harus kita khawatirkan. Sekarang distribusinya yang kita perlancar. Ini yang saya minta kepada Pertamina untuk menambah armada," tambahnya.
Selain itu, Bahlil mengungkapkan bahwa kendala distribusi di beberapa wilayah daerah seperti Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatra turut dipengaruhi oleh pendangkalan sungai akibat faktor cuaca. Pemerintah bersama Pertamina telah mengalihkan sebagian moda transportasi ke jalur darat agar pasokan BBM ke daerah-daerah tersebut tetap terjaga.
(pgr/pgr)



