HARIAN.FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Lebih dari 600 pengunjung menghadiri MATAPPA Festival yang digelar Indika Foundation di Benteng Rotterdam, Makassar. Festival ini mengajak generasi muda mengenal kembali warisan budaya Bugis-Makassar, khususnya I La Galigo, melalui pendekatan kreatif yang relevan dengan perkembangan zaman.
Mengusung tema “Energizing Sulawesi Selatan through Culture: The Quiet Journey of I La Galigo”, festival yang berlangsung pada 15 Oktober 2026 tersebut menghadirkan peluncuran trilogi buku, diskusi budaya, lokakarya kreatif, pertunjukan seni, hingga instalasi interaktif
Kegiatan ini menjadi ruang pertemuan antara sejarah, kreativitas, dan partisipasi masyarakat untuk menjaga keberlanjutan warisan budaya Sulawesi Selatan.
MATAPPA Festival terinspirasi dari perjalanan B.F. Matthes dalam mendokumentasikan bahasa dan budaya Sulawesi Selatan, serta peran Colliq Pujié dalam menyalin dan merawat naskah I La Galigo, salah satu karya sastra terpanjang di dunia.
Melibatkan lebih dari 60 komunitas dari berbagai wilayah Sulawesi Selatan, festival ini menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak sekadar menjaga peninggalan masa lalu, tetapi juga menghadirkan nilai-nilainya agar tetap hidup di tengah masyarakat.
Sejumlah komunitas yang terlibat di antaranya ZineMo, AksaraHub, Sanggar Ulusalu, Batara Gowa, dan Studio Kerabat.
Managing Director Indika Foundation, Aprida Sondang, mengatakan generasi muda perlu mendapatkan ruang untuk mengenal dan mengalami kebudayaan secara langsung.
“Warisan budaya akan tetap hidup jika generasi muda memiliki ruang untuk mengenal, mengalami, dan menemukan maknanya dalam kehidupan sehari-hari. Melalui MATAPPA Festival, kami ingin menghadirkan budaya sebagai sesuatu yang lebih dekat untuk anak muda,” ujarnya.
Festival ini juga menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi ke-357 Sulawesi Selatan yang jatuh pada 19 Oktober 2026.
Sejumlah tokoh turut hadir, di antaranya Senior Vice President and Head of CEO Office Indika Energy, Ricky Fernando; Kepala Bidang Kekayaan Budaya Dinas Kebudayaan Kota Makassar, Ludfi Amri; serta General Manager Geopark Maros Pangkep, Dedy Irfan Bachri.
Luncurkan Trilogi Buku
Salah satu agenda utama MATAPPA Festival adalah peluncuran trilogi buku Matthes, Colliq Pujié, dan Matappa karya Alan TH. Buku-buku tersebut diterbitkan Indika Foundation dengan dukungan Indika Energy dan PT Masmindo Dwi Area sebagai hadiah untuk memperingati Hari Jadi ke-357 Sulawesi Selatan.
Trilogi ini mengangkat perjalanan tokoh-tokoh yang berperan penting dalam pelestarian warisan budaya Bugis-Makassar. Melalui karya tersebut, generasi muda diajak memahami sejarah dan nilai-nilai budaya daerah dengan pendekatan yang lebih dekat dengan kehidupan masa kini.
Selain peluncuran buku, festival menghadirkan diskusi bertajuk “Finding Our Value in a Changing World”. Diskusi ini membahas relevansi nilai-nilai I La Galigo di tengah perubahan sosial dan perkembangan teknologi.
Diskusi tersebut menghadirkan Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin, Prof. Dr. Dra. Nurhayati Rahman, M.S.; penulis trilogi Alan TH.; serta kreator konten muda Muh Rijal Djamal.
Nurhayati Rahman dikenal melalui kiprahnya dalam menerjemahkan naskah I La Galigo dari aksara lontara Bugis kuno ke dalam aksara Latin dan bahasa Indonesia.
Budaya Dikemas Kreatif
MATAPPA Festival juga memberikan kesempatan kepada pengunjung untuk berinteraksi langsung dengan berbagai bentuk ekspresi budaya melalui lokakarya kreatif.
Bersama ZineMo, AksaraHub, dan Dwi Julian, pendiri Shoot Photography Makassar, peserta mengikuti kegiatan pembuatan zine, pengenalan aksara Lontara, serta lokakarya fotografi.
Melalui kegiatan tersebut, peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai budaya lokal, tetapi juga didorong untuk mengembangkan kreativitas dan menghasilkan karya melalui pengalaman partisipatif.
Berbagai pertunjukan seni turut memeriahkan festival, di antaranya Tari Pajaga Lili dari Sanggar Ulusalu, Tari Appakase’re dari Batara Gowa, serta pementasan teater Sekutu Dua Seteru oleh Studio Kerabat yang mengambil penggalan kisah dari buku Matappa.
Pengunjung juga dapat menjelajahi instalasi Lorong Pengetahuan dan I La Galigo Corner. Kedua ruang tersebut menghadirkan perjalanan B.F. Matthes, Colliq Pujié, serta upaya pelestarian naskah-naskah Bugis-Makassar melalui pengalaman interaktif.
Salah satu materi yang ditampilkan ialah naskah digital I La Galigo dengan dukungan Universitas Leiden, institusi yang menyimpan dan merawat naskah aslinya.
Trilogi buku karya Alan TH. juga dihadirkan sebagai bagian dari ruang pembelajaran dan apresiasi budaya bagi pengunjung.
Salah satu pengunjung, Muh. Khairan Isnan, mengaku memperoleh pemahaman baru mengenai pentingnya keterlibatan generasi muda dalam menjaga warisan budaya.
“Dari festival ini, saya belajar bahwa melestarikan budaya adalah tanggung jawab kita bersama. Budaya akan tetap hidup jika kita mau mengenal, menghargai, dan memperkenalkannya dengan cara yang menarik dan dekat dengan generasi muda,” tuturnya.
Melalui MATAPPA Festival, Indika Foundation berharap semakin banyak masyarakat, khususnya generasi muda, terlibat dalam menjaga keberlanjutan pengetahuan dan nilai-nilai budaya Bugis-Makassar.
Dengan menggabungkan sejarah, kreativitas, dan partisipasi masyarakat, festival ini diharapkan menjadi salah satu upaya memperkenalkan kembali warisan budaya sebagai sumber inspirasi dalam membangun masa depan. (*)





