Nilai Tukar Rupiah Masih Tertahan, Dibuka Rp 18,043 per US$

katadata.co.id
3 jam lalu
Cover Berita

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka menguat tipis pada Selasa (20/10) pagi. Melansir data spot Bloomberg, rupiah dibuka di level Rp 18.043 per US$.

Angka tersebut menguat 3 poin, atau sekitar 0,02% dari penutupan sebelumnya, ketika rupiah berada di angka 18.046 per US$.

Analis Doo Financial, Lukman Leong menuturkan, rupiah masih dalam tekanan dari sentimen negatif di seputar pasar ekuitas yang masih terbebani outflow asing.  “Langkah pemerintah yang di antaranya mengeluarkan saham HSC (konsentrasi kepemilikan tinggi) dari IHSG diharapkan bisa memberikan sedikit dukungan pada pasar,” kata Lukman saat dihubungi, Selasa (20/10).

Di sisi lain, ia menyebut situasi geopolitik yang masih belum pasti masih dapat berpengaruh terhadap harga minyak dunia. Faktor tersebut juga akan berdampak pada nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

“Faktor eksternal eskalasi Timur Tengah dan perang Ukraina-Rusia yang menyebabkan harga minyak mentah yang masih terus naik akan kembali memberikan tekanan pada rupiah,” katanya. 

Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, sebelumnya mengungkapkan sejumlah faktor yang membuat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tertekan hingga menembus lebih dari Rp 18.000 per US$. Menurut Destry, kondisi global masih diwarnai volatilitas tinggi, termasuk akibat inflasi AS yang masih berada di atas target dan prospek suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama atau higher for longer.  

Tantangan bagi rupiah lainnya yakni perkembangan kebijakan suku bunga bank sentral AS Federal Reserve (The Fed). “Sehingga itu menjadi salah satu tantangan buat rupiah kita,” kata Destry dalam konferensi pers usai rapat terbatas ekonomi di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (19/10).

Destry mengeklaim, BI dapat mengantisipasi sejumlah kondisi yang menekan nilai tukar rupiah tersebut. Ia pun mengaku diminta Presiden Prabowo Subianto untuk mengupayakan stabilitas mata uang garuda. 

“Tapi so far, dua hari ini rupiah, bisa kami jaga stabilitasnya, sehingga terjadi memang sedikit perlambatan. Dan itu juga sesuai dengan beberapa negara di (emerging markets),” katanya.

Lebih jauh ia menuturkan, langkah BI untuk menjaga stabilitas rupiah yaitu dengan memanfaatkan berbagai instrumen kebijakan. Mulai dari intervensi di pasar valuta asing melalui transaksi spot dan non-deliverable forward (NDF), hingga insentif biaya lindung nilai atau hedging. 

Destry menyebut, insentif hedging yang dikucurkan sejak akhir Juni 2026 telah mendatangkan aliran dana melalui instrumen swap dan domestic non-deliverable forward (DNDF) senilai sekitar US$ 8 miliar hingga US$ 9 miliar. 

“Intinya, Bank Indonesia akan selalu tetap berjaga di pasar,” ujarnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kronologi Bharatu Valdo Ditembak Rekan Sesama Polisi Versi Pengacara
• 17 jam laluliputan6.com
thumb
Penyelenggara ITB Ultra Marathon 2026 Buka Suara soal Meninggalnya Dody Muhammad Pasha |KOMPAS SIANG
• 23 jam lalukompas.tv
thumb
Dua Tahun Prabowo-Gibran, Warga Diimbau Waspadai Hoaks dan Disinformasi
• 17 jam laluviva.co.id
thumb
4 Fakta Menarik Aktris Kim Yoo Jung, Mata-mata di Drakor 100 Days of Deception
• 9 jam lalubeautynesia.id
thumb
Danantara Targetkan WTE Beroperasi Komersial pada 2028
• 16 jam laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.