Pada 17 Oktober, kerusuhan besar pecah di jalanan Paris. Aline, seorang pemilik restoran kecil keturunan Tionghoa berusia 50 tahun, diserang oleh para perusuh di dalam restorannya. Restoran tersebut juga dijarah dan dibakar. Aline sangat terpukul ketika melihat restoran kecil yang telah dibangunnya dengan susah payah selama bertahun-tahun berubah menjadi puing-puing hanya dalam waktu setengah jam.
EtIndonesia.com Antoine Jumel, penasihat ketua Komisi Urusan Luar Negeri Majelis Nasional Prancis sekaligus anggota Dewan Kota Distrik ke-10 Paris, mengunggah sebuah video di platform media sosial X. Dalam video tersebut, Aline, pemilik sebuah restoran kecil di Distrik ke-10 Paris, menceritakan bahwa dirinya diserang oleh para perusuh selama demonstrasi pada 17 Oktober dan restorannya dibakar hingga habis.
Aline merupakan generasi kedua keturunan Tionghoa dan berbicara dengan aksen khas Paris yang fasih. Ia menceritakan bahwa tujuh tahun lalu, dirinya membeli tempat usaha tersebut dari seorang pria Yahudi lanjut usia keturunan Aljazair. Sejak saat itu, keluarganya menggantungkan hidup dengan mengelola restoran kecil tersebut.
À La Barrique, Aline, la patronne, a été tabassée et défigurée. Son restaurant a été entièrement calciné. Elle a tout perdu. Jusqu’où ira cette barbarie ? Soutien total à Aline, aux commerçants du 10e. Les responsables doivent être retrouvés et punis avec la plus grande sévérité! https://t.co/6uDYJe27w8
— Antoine Jumel (@antoinejumel81) October 18, 2026Pada pukul 14.30 tanggal 17 Oktober, situasi di jalanan tiba-tiba berubah kacau. Setelah menyadari bahwa keadaan semakin berbahaya, mereka segera menurunkan seluruh pintu gulung besi di bagian depan restoran hingga tertutup rapat, lalu mengunci diri di dalam.
Tak lama kemudian, mereka mendengar suara benturan keras. Enam atau tujuh orang perusuh mengangkat paksa pintu gulung besi dari berbagai sisi. Mereka memecahkan jendela restoran, sementara kaca-kaca di sepanjang jalan juga dihancurkan.
Sebelum Aline sempat mundur ke dapur belakang, ia sudah dihantam dengan keras. Mata kanannya mengalami memar parah, dan ia langsung jatuh pingsan.
Aline mengatakan bahwa ketika mulai sadar kembali, ia terkejut melihat apa yang terjadi di depan matanya. Seorang anak laki-laki berusia sekitar 12 tahun masuk ke restoran melalui jendela yang pecah. Setelah itu, sekelompok gadis muda yang membawa tas belanja berukuran besar ikut masuk.
Mereka mengacak-acak meja kasir dan mengambil uang tunai, menghancurkan lemari pendingin, serta memasukkan minuman beralkohol, bumbu-bumbu, dan bahan makanan dari dapur ke dalam tas belanja mereka. Barang-barang yang tidak dapat dibawa pergi langsung dihancurkan. Pada akhirnya, seseorang membakar restoran tersebut.
Ketika menceritakan nasib dirinya dan restorannya, suara Aline tercekat oleh kesedihan. Ia terus menyeka air matanya. Restoran kecil yang telah ia kelola dengan penuh perjuangan selama tujuh tahun di Paris hangus menjadi puing-puing hitam dalam waktu kurang dari setengah jam. Hal itu membuatnya merasa putus asa.
Sebuah mobil terbakar di bawah monumen Porte Saint-Denis, sementara asap hitam pekat membubung di atas kerumunan demonstran di tengah aksi protes kelompok kiri radikal yang berujung ricuh di Paris, pada 17 Oktober 2026. (Etienne Fauchaire/The Epoch Times)Pada 17 Oktober, aksi protes yang semula berlangsung damai untuk menyuarakan persoalan kenaikan biaya hidup dan buruknya kondisi sekolah berubah menjadi gelombang kekerasan yang melanda seluruh Prancis. Banyak butik, supermarket, dan toko milik perorangan di Paris serta berbagai kota lainnya diserang dan dijarah. Sejumlah kelompok juga membakar gedung dan merusak halte bus.
Pada 18 Oktober, Menteri Dalam Negeri Prancis menyatakan bahwa polisi telah menangkap lebih dari 2.000 orang di seluruh negeri, sementara lebih dari 600 petugas polisi mengalami luka-luka.
Sebuah mobil terbakar, sementara asap hitam pekat membubung di atas Boulevard Saint-Denis di Paris saat bentrokan hebat pada 17 Oktober 2026, di tengah aksi protes kelompok kiri radikal yang berlangsung di seluruh negeri. Etienne Fauchaire/The Epoch TimesPada hari yang sama, Presiden Prancis Emmanuel Macron menyampaikan pidato nasional dan berjanji akan meminta pertanggungjawaban para perusuh yang memanfaatkan aksi protes untuk menjarah toko dan membakar bangunan.
“Pihak yang merusak properti harus membayar ganti rugi. Para penjarah harus mengganti kerugian yang ditimbulkan. Siapa pun yang berupaya menggulingkan republik pasti akan dikenai sanksi hukum,” katanya.
Ia juga mengatakan bahwa demi menjaga keamanan kota, sejumlah aksi unjuk rasa akan dilarang. Selain itu, ia akan mengumpulkan para pemimpin dari berbagai kalangan untuk menyusun langkah-langkah konkret dalam menghadapi krisis tersebut.
Laporan gabungan oleh Luo Tingting / Editor Wen Hui





