Rumah Sakit Umum Darah (RSUD) Dr. Soetomo Surabaya terus berbenah untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat. Sebagai rumah sakit rujukan utama di Indonesia Timur, RSUD Dr. Soetomo kini memfokuskan kinerjanya pada percepatan penanganan pasien, penguraian antrean di Instalasi Gawat Darurat (IGD), serta pemanfaatan teknologi medis mutakhir seperti robotik.
Prof. Dr. Cita Rosita Sigit Prakoeswa Direktur RSUD Dr. Soetomo menjelaskan, yang menjadi prioritas utama saat ini adalah mengamankan layanan rujukan dan menjamin keselamatan pasien.
Dia menerangkan, selama dua tahun terakhir ini RSUD Dr. Soetomo terus melakukan transformasi internal IGD yang terbukti efektif memangkas waktu tunggu secara signifikan.
“Kalau sebelumnya, sekitar 20 persen pasien di IGD harus menunggu lebih dari 6 jam. Berkat inovasi sistem dan alur penanganan yang dirapikan, angka tersebut berhasil ditekan hingga di bawah 10 persen, bahkan sempat menyentuh angka di bawah 5 persen. Setiap tenaga medis kini dapat memantau tanggung jawab penanganan pasien secara real-time langsung melalui pemindaian barcode di gawai masing-masing,” katanya, saat onair di Radio Suara Surabaya, Selasa (20/10/2026).
Prof. Cita menggungkapkan, salah satu tantangan terbesar yang kerap memicu antrean panjang adalah fenomena “rujuk lepas”, yaitu pasien rujukan yang datang langsung tanpa komunikasi atau konfirmasi awal antar-rumah sakit. Kondisi ini mencapai 60 persen dari total pasien IGD.
Sehingga untuk mengatasi hal ini, RSUD Dr. Soetomo bersama Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur terus merapikan sistem rujukan terpadu agar penanganan pasien gawat darurat dapat berjalan lebih tertata dan aman.
“Prinsip utama kami adalah patient safety dan kepuasan pasien. Kami tidak pernah menolak pasien yang membutuhkan pertolongan. Lewat sistem triase yang cepat, pasien langsung dikategorikan sesuai tingkat kegawatdaruratannya. Jika bukan kasus gawat darurat, pasien akan kita arahkan ke poliklinik,” ungkapnya.
Selain membenahi alur IGD, RSUD Dr. Soetomo juga mengadopsi teknologi modern untuk mendukung efisiensi pelayanan.
Di bidang medis dan operasional, penggunaan teknologi robotik mulai diterapkan, mulai dari tindakan bedah (robotic surgery) pada spesialisasi ortopedi, digestif, hingga obgyn. Pemanfaatan robotik juga menjangkau sektor farmasi serta laboratorium (total automation laboratory).
Prof. Cita menjelaskan, inovasi digital juga diperkuat melalui Sistem Informasi Pasien Soetomo (SIPPS) yang memudahkan pasien dan dokter mengakses hasil pemeriksaan laboratorium maupun radiologi secara cepat dan real-time.
“Jadi seluruh data pelayanan ini terhubung langsung ke dashboard pemantauan jajaran direksi untuk memastikan tata kelola operasional berjalan optimal,” tambahnya.
Sementara itu, pasien yang membutuhkan perawatan di rumah, RSUD Dr. Soetomo juga menghadirkan layanan Outreach Medical at Home (OMAH). Program home care ini memberikan kemudahan bagi pasien kronis, pasien pasca-rawat inap, maupun pasien paliatif untuk mendapatkan penanganan medis profesional tanpa harus datang dan mengantre di rumah sakit.
RSUD Dr. Soetomo terus mengembangkan berbagai tindakan medis canggih lainnya, seperti operasi otak stereotactic surgery dalam kondisi sadar untuk penderita Parkinson, penggunaan alat bantu jantung-paru ECMO, serta pengembangan terapi stem cell berstandar nasional.
“Kami terus berkomitmen untuk memperluas akses rujukan regional dan menguatkan ekosistem inovasi digital berbasis command center. Langkah ini diharapkan dapat makin memudahkan masyarakat di Jawa Timur maupun Indonesia Timur dalam memperoleh pelayanan kesehatan yang cepat, aman, dan berkualitas tinggi,” tutupnya.(kir/ham)




