Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi atau KDM meminta para insinyur tetap menjunjung tinggi kejujuran, kebenaran, dan keadilan dalam menjalankan profesinya. Ia mengingatkan agar para insinyur tidak mengorbankan prinsip keilmuan demi mengikuti kepentingan politik atau kekuasaan.
Pernyataan itu disampaikan Dedi saat memberikan sambutan dalam Conference of the ASEAN Federation of Engineering Organisations di Pullman Bandung International Convention Center, Selasa (20/10).
Acara tersebut diselenggarakan oleh Persatuan Insinyur Indonesia (PII) yang diketuai Ilham Habibie.
Menurut Dedi, profesi insinyur memiliki peran penting dalam membangun peradaban. Karena itu, keputusan yang berkaitan dengan pembangunan harus didasarkan pada perhitungan dan prinsip ilmiah, bukan kepentingan pihak tertentu.
Ia menilai, seorang insinyur harus berani mempertahankan kebenaran berdasarkan keahliannya, termasuk ketika menghadapi tekanan dari pihak yang memiliki kekuasaan.
"Artinya, kalau para engineer ingin tetap menjadi empu yang sejati, tidak boleh terkooptasi pikirannya oleh para politisi. Karena dia menjunjung tinggi kejujuran, kebenaran," kata Dedi.
Dedi menggunakan istilah empu untuk menggambarkan sosok ahli yang memiliki kemampuan tinggi dalam bidangnya sekaligus menjaga independensi pemikiran. Menurutnya, keahlian seorang insinyur tidak boleh kehilangan integritas hanya karena harus memenuhi keinginan penguasa.
Ia mencontohkan, pembangunan infrastruktur harus mengikuti perhitungan teknis yang benar. Apabila terjadi kerusakan bangunan atau jalan akibat kesalahan perencanaan maupun pelaksanaan, para insinyur perlu bertanggung jawab sesuai dengan perannya.
"Ini karena banyak kalau sudah kerja di pemerintahan ngikuti keinginan gubernurnya, kemiringan diubah, nanti ada ini pakai cakar ayam di sini, tahu-tahu ayamnya lepas, cakarnya roboh," ujarnya.
Dedi juga meminta Persatuan Insinyur Indonesia (PII) untuk mengawasi anggotanya yang bekerja di berbagai sektor, mulai dari konstruksi dan pertambangan hingga pemerintahan.
Ia berharap organisasi profesi tersebut dapat memberikan penilaian terhadap insinyur yang tidak menjalankan tanggung jawabnya secara benar.
"Andai kata ada bangunan roboh di situ ada karya seorang engineer yang salah dan memberikan argumentasi pada sebuah peristiwa yang semestinya dia tidak melawannya kalau sekiranya alam, maka PII bisa mengeluarkan 'dia bukan insinyur yang baik, tapi dia insinyur yang manipulatif'," tutur Dedi.
Menurutnya, kerusakan bangunan, jalan, maupun infrastruktur dapat diminimalkan apabila para insinyur menjalankan profesinya sesuai dengan standar keilmuan dan sumpah profesi.
Ia menegaskan, ilmu teknik tidak semestinya hanya digunakan untuk menghasilkan pembangunan fisik. Lebih dari itu, penerapan ilmu pengetahuan harus memberikan manfaat nyata bagi kehidupan manusia.
Dedi juga menyinggung peran insinyur dalam menyelesaikan berbagai persoalan masyarakat, seperti menyediakan transportasi publik yang terjangkau, menekan biaya angkutan barang, serta mengurangi dampak pestisida di kawasan pertanian.
"Engineering alat menyelesaikan problem transportasi publik murah. Engineering alat menyelesaikan problem angkutan barang murah. Engineering alat untuk mengubah agar seluruh areal pertanian itu bebas dari residu pestisida," katanya.
Ia menilai, para insinyur perlu mengarahkan kemampuan dan inovasinya untuk menjawab kebutuhan masyarakat sehari-hari, termasuk persoalan lingkungan dan kebencanaan.
Dedi turut mengingatkan teknologi dapat digunakan untuk kepentingan yang berbeda, baik untuk memperkuat dominasi ekonomi maupun untuk mewujudkan kesejahteraan manusia. Karena itu, menurutnya, prinsip kemanusiaan harus menjadi dasar pengembangan teknologi.
"Engineering bukan alat perang, tapi engineering adalah alat menyelesaikan problem kemanusiaan," ujarnya.
Di akhir sambutannya, Dedi berharap para insinyur di negara-negara ASEAN dapat berkontribusi membangun kawasan yang setara dan berkeadilan. Ia menekankan pentingnya integritas profesi agar pembangunan tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga membawa manfaat bagi masyarakat luas.
"Semoga negara-negara ASEAN menjadi negara yang setara, berkeadilan, menjunjung tinggi humanisme dan kemanusiaan," pungkasnya.





