Karhutla di TN Bromo-Tengger-Semeru Tewaskan Lima Petugas dan Relawan

kompas.id
56 menit lalu
Cover Berita

Jumlah korban tewas dalam pemadaman kebakaran hutan dan lahan atau karhutla di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur, bertambah dari empat menjadi lima orang.

Korban jiwa terbaru adalah Munawi (44), petugas Balai Besar TNBTS. Dia meninggal dunia di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr Soetomo, Surabaya, Senin (19/10/2026). Ia meninggal setelah mengalami luka bakar 51 persen, kegagalan sejumlah organ tubuh, serta kondisi kesehatan yang terus memburuk.

Informasi kematian Munawi dibenarkan Instalasi Hukum, Hubungan Masyarakat, dan Pemasaran RSUD Dr Soetomo saat dikonfirmasi, Selasa (20/10/2026). Munawi mengembuskan napas terakhir di hadapan keluarganya. Jenazah telah dibawa keluarga untuk disemayamkan dan dimakamkan.

RSUD Dr Soetomo juga masih merawat Suraji (44), relawan pemadaman. Ia dirawat sejak Jumat (16/10/2026) akibat luka bakar, infeksi serius, dan gangguan pernapasan.

Baca JugaEmpat Orang Tewas Saat Padamkan Api di Bromo, Keselamatan Personel Jadi Perhatian

Sebelumnya, karhutla di TNBTS telah menewaskan empat petugas dan relawan pemadaman. Dari pihak TNBTS, korban meninggal adalah Hendra Ronny Wagiyanata (33), anggota Manggala Agni, dan Sukaris (55), aparatur sipil negara operator layanan operasional.

Sementara dari pihak relawan yang merupakan pegawai Artotel Cabin Bromo, korban meninggal adalah Sefriel Ardiansyah (19) dan Wisnu Yuda Pratama (25).

Keenam petugas dan relawan tersebut terjebak saat memadamkan kebakaran di lereng Pusung Lingker, Desa Ngadirejo, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, Kamis (15/10/2026). Saat mereka berusaha memadamkan api, karhutla membesar akibat tiupan angin hingga menjebak sebagian anggota tim.

Menurut Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Kepolisian Daerah Jawa Timur Komisaris Besar Jules Abraham Abast, pemadaman karhutla di lereng Pusung Lingker melibatkan sedikitnya 12 orang dari unsur petugas TNBTS, relawan Masyarakat Peduli Api, termasuk pegawai Artotel Cabin Bromo.

Jules mengatakan, pemadaman berlangsung pada Kamis sekitar pukul 09.00 WIB setelah ada laporan karhutla di Pusung Lingker. Petugas dan relawan kemudian dibagi menjadi dua kelompok. Dalam proses pemadaman, salah satu kelompok diketahui terjebak sehingga kelompok lainnya datang untuk menolong.

”Kelompok yang terjebak itu ditemukan sudah dalam kondisi tergeletak dengan luka bakar di tubuh,” kata Jules.

Sebanyak enam orang terjebak. Saat dievakuasi, tiga orang di antaranya sudah meninggal dunia. Tiga lainnya masih hidup, tetapi dalam kondisi kritis.

Menurut Jules, insiden fatal tersebut masih dalam penyelidikan bersama Kepolisian Resor Probolinggo dan Polda Jatim. Penyelidikan dilakukan untuk memastikan rangkaian kejadian serta penyebab kebakaran. ”Tim penyidik telah melaksanakan olah tempat kejadian perkara, memeriksa saksi-saksi, tetapi belum sampai pada kesimpulan,” ujarnya.

Polda Jatim dan Polres Probolinggo menyampaikan duka mendalam dan belasungkawa kepada keluarga korban. Kepala Polres Probolinggo Ajun Komisaris Besar Azmida Rizki Siregar beserta jajarannya juga telah mengunjungi kediaman keluarga korban jiwa.

Secara terpisah, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Probolinggo Oemar Sjarief mengatakan, insiden yang menjebak enam orang tersebut terjadi ketika karhutla membesar akibat tiupan angin. Petugas terjebak api dan asap pekat yang menghambat proses pertolongan dan penyelamatan.

”Kami berduka dan berbelasungkawa atas kematian rekan-rekan yang gugur dalam tugas,” kata Oemar.

Menurut dia, pemadaman karhutla memang berisiko tinggi terhadap keselamatan petugas dan relawan. Namun, pemadaman tetap harus dilakukan agar kebakaran tidak semakin mengancam keselamatan masyarakat.

Secara terpisah, peneliti senior kebencanaan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya, Amien Widodo mengatakan, operasi penanganan bencana, termasuk karhutla, memiliki risiko yang sangat tinggi. Karena itu, keselamatan petugas dan relawan harus menjadi perhatian utama.

Gugurnya petugas dan relawan penanganan bencana perlu menjadi perhatian untuk memperkuat sistem mitigasi.

Mereka yang terlibat dalam operasi juga harus memiliki keterampilan, ketangkasan, dan kompetensi yang memadai. ”Risikonya amat tinggi, tetapi tindakan pemadaman tentu harus dilakukan,” ujar Amien.

Menurut dia, dalam pemadaman karhutla, pengalaman petugas dan relawan dalam membaca perkembangan api, gerak angin, jalur evakuasi, serta melakukan penilaian cepat dan kritis terhadap situasi menjadi sangat penting untuk keselamatan selama operasi.

Amien menambahkan, gugurnya petugas dan relawan penanganan bencana perlu menjadi perhatian untuk memperkuat sistem mitigasi. Karhutla di TNBTS bukan kejadian baru, melainkan berulang dan risikonya meningkat saat musim kemarau.

Karena itu, penanganannya tidak cukup hanya saat karhutla terjadi, tetapi juga harus menyentuh tata kelola kawasan secara lebih menyeluruh agar potensi bencana dapat ditekan.

Baca JugaKebakaran Kerap Terjadi di Gunung Bromo, Faktor Alam dan Manusia Jadi Penyebab


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pasar Lesu, Harga Emas Antam Terkoreksi ke Rp2.564.000 per Gram
• 6 jam lalumedcom.id
thumb
Indonesia Jadi Negara Asing Pertama Miliki Properti di Mekkah
• 2 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Rupiah Dibuka Naik ke Rp18.024/USD
• 7 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Kapolri Ungkap 98 Kasus Karhutla Korporasi Naik Penyidikan, Pemilik Perusahaan Bisa Terseret
• 17 jam laluviva.co.id
thumb
Istana Sampaikan Belasungkawa atas Wafatnya Mantan KSAD Subagyo HS
• 6 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.