JAKARTA, DISWAY.ID-- Perguruan tinggi memiliki peluang besar untuk ikut menekan emisi karbon. Tidak hanya melalui pendidikan dan penelitian, tetapi juga dengan mengubah pengelolaan kampus agar lebih ramah lingkungan.
Upaya itu didorong melalui peluncuran laporan dan panduan Indonesia Net Zero Campus (NZC) oleh Climateworks Centre bersama Purnomo Yusgiantoro Center (PYC), dengan dukungan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), Selasa, 20 Oktober 2026.
BACA JUGA:Film Hungry Ghost Festival Hadirkan Teror dan Komedi, Persahabatan Tiga Sahabat Diuji Pantangan Mistis
Chairperson PYC Filda Citra Yusgiantoro mengatakan, perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam mendukung target Indonesia mencapai net zero emission pada 2060 atau lebih cepat.
“Perguruan tinggi ini sebagai penghasil solusi iklim melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Di sisi lain, perguruan tinggi berpeluang besar berkontribusi secara langsung melalui dekarbonisasi kampusnya sendiri, mulai dari energi, bangunan, hingga mobilitas,” kata Filda di Kemendiktisaintek, Jakarta, Selasa, 20 Oktober 2026.
Menurut Filda, potensi tersebut ditopang oleh sekitar 4.000 perguruan tinggi di Indonesia dengan 11 juta sivitas akademika. Jika dikelola secara terarah, lingkungan pendidikan tinggi dapat menjadi bagian penting dari upaya mengurangi emisi karbon.
BACA JUGA:Massa Demo Panjat Tugu Tani, Bentangkan Spanduk 5 Tuntutan untuk Prabowo
Gagasan penyusunan panduan NZC juga berangkat dari pengalaman Filda saat menempuh pendidikan doktoral di Monash University, Australia, pada 2017. Saat itu, ia melihat transformasi fasilitas kampus yang dilakukan untuk mendukung target nol emisi.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu referensi PYC dalam mengadaptasi praktik serupa di Indonesia.
Filda juga berdiskusi dengan John Thwaites, Chair Climateworks Centre and Monash Sustainable Development Institute, untuk mempelajari penerapan kebijakan kampus rendah emisi di Australia.
Namun, penerapan NZC di Indonesia perlu menyesuaikan kondisi masing-masing perguruan tinggi. Perbedaan ukuran kampus, fasilitas, sumber daya, hingga kebutuhan operasional membuat strategi pengurangan emisi tidak bisa diseragamkan.
BACA JUGA:RS Tria Dipa dan KP2MI Kolaborasi Layanan Kesehatan bagi Calon Pekerja Migran Indonesia
Karena itu, panduan tersebut dilengkapi daftar periksa atau checklist untuk membantu perguruan tinggi mengidentifikasi langkah yang dapat dilakukan dalam mengurangi emisi karbon.
Sekretaris Jenderal Kemendiktisaintek Badri Munir Sukoco menyambut baik peluncuran panduan tersebut.
Menurut dia, dokumen ini dapat menjembatani pengetahuan, kebijakan, dan tindakan nyata dalam mendorong transisi menuju emisi nol bersih.
- 1
- 2
- »





