Kisah Sumarni, Petani Perempuan yang Berjuang Biayai Keluarga dari Hasil Panen Palawija

disway.id
7 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, DISWAY.ID – Menjadi tulang punggung keluarga bukan perkara mudah bagi Sumarni, petani palawija asal Kabupaten Sukoharjo.

Setiap hari, ia harus bekerja mengolah lahan, mulai dari mencangkul hingga meratakan tanah, demi memperoleh penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan membiayai pendidikan anaknya.

Perjuangan Sumarni menjadi gambaran ketangguhan perempuan perdesaan yang berperan penting dalam menjaga ketahanan pangan sekaligus menggerakkan ekonomi keluarga.

BACA JUGA:2 Tahun Pemerintahan Prabowo, Pupuk Indonesia Ungkap Transformasi Tata Kelola Pupuk yang Berpihak ke Petani

Menurut Food and Agriculture Organization (FAO) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), perempuan menyumbang sekitar 41 persen dari tenaga kerja pertanian global.

Sementara itu, di Indonesia, sekitar 14,8 juta perempuan bekerja di sektor pertanian pada Februari 2025, mencakup budidaya tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan.

Meski memiliki peran besar, perempuan yang bekerja di sektor pertanian masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan akses permodalan dan literasi digital hingga dampak perubahan iklim.

BACA JUGA:BASF Perkuat Pendampingan Petani Bawang Merah, Cimegra® Tiga Tahun Hadir di Indonesia

Berjuang Menghidupi Keluarga dari Hasil Panen

Sumarni telah menekuni usaha palawija selama lebih dari tujuh tahun.

Sebelum menggeluti usaha tersebut, ia sempat menanam melon. Namun, keterbatasan modal membuatnya kesulitan mengembangkan usaha.

Lima tahun lalu, ia bergabung menjadi mitra Amartha Financial dan memperoleh dukungan pembiayaan untuk melanjutkan serta mengembangkan usaha tanam palawija.

Dengan modal tersebut, Sumarni dapat menjalankan usahanya dengan lebih leluasa. Hasil panennya pun menjadi sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

“Kebanyakan pembeli tinggal di sekitar rumah, jadi mereka bisa langsung membeli hasil panen. Saya bisa mendapat penghasilan hingga Rp500.000 setiap dua hari, terutama saat harga sedang bagus,” kata Sumarni.

BACA JUGA:Menteri Dody Sisir Titik Kekeringan, Perjuangkan Air bagi Petani demi Swasembada Pangan

Penghasilan tersebut tentu bergantung pada hasil panen dan kondisi harga. Namun, bagi Sumarni, usaha palawija menjadi salah satu penopang penting bagi keberlangsungan hidup keluarganya.

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • »

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Wamenkop: Kopdes Bukan Program Bagi-Bagi Sembako, tapi Investasi Jangka Panjang
• 5 jam lalukompas.tv
thumb
Kelangkaan BBM Pindah dari Bali ke Jatim, Khofifah ke Jakarta
• 15 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Kabut Asap Kembali Menebal di Palembang, Kualitas Udara Masuk Level Berbahaya | JMP
• 19 jam lalukompas.tv
thumb
Enam Kawasan di Jakarta Jadi Lokasi Aksi Demonstrasi, Ini Daftarnya
• 23 jam lalukatadata.co.id
thumb
BMKG Sebut Dry Ice Efektif Urai Kabut Asap Karhutla, Begini Cara Kerjanya
• 1 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.