Krisis Biaya Hidup Picu Gelombang Protes di Eropa, dari Prancis hingga Albania

kompas.tv
5 jam lalu
Cover Berita
Para pengunjuk rasa berdemonstrasi menentang kenaikan biaya hidup, bergabung dengan keluhan para mahasiswa, di Paris, Sabtu, 17 Oktober 2026. (Sumber: AP Photo/Emma Da Silva)

MADRID, KOMPAS.TV - Kenaikan biaya hidup, krisis perumahan, buruknya kondisi sekolah, hingga dugaan korupsi memicu gelombang demonstrasi di sejumlah negara Eropa sepanjang musim gugur ini. Aksi yang melibatkan banyak anak muda berlangsung di Prancis, Italia, Albania, Spanyol, Portugal, hingga Serbia, dengan sebagian demonstrasi diwarnai bentrokan dan penjarahan.

Di Prancis, kerusuhan akhir pekan lalu menyebabkan sekitar 2.400 orang ditangkap dan ribuan tempat usaha rusak atau dijarah. Sementara itu, warga di Spanyol dan Portugal mendirikan kemah protes untuk menuntut perumahan yang terjangkau.

Profesor sosiologi Universitas Deusto di Spanyol, María Silvestre, menilai generasi muda Eropa tengah menghadapi ketidakpastian dan kehilangan kendali atas kehidupan mereka.

Baca Juga: Warga Paris Mengamuk! Bangunan hingga Kendaraan Dibakar saat Protes Biaya Hidup Mahal |KOMPAS PETANG

"Kaum muda Eropa mengalami rasa ketidakpastian yang kuat dan kurangnya kendali. Dan ketika situasi-situasi tertentu terjadi bersamaan, percikan api tiba-tiba menyala yang mampu menyalurkan ketidakpuasan itu dan mendorong orang-orang turun ke jalan," kata Silvestre.

Prancis: Tuntutan Pendidikan Meluas Menjadi Kerusuhan

Di Prancis, pelajar sekolah menengah menggelar blokade dan demonstrasi selama lebih dari tiga pekan. Mereka menuntut tambahan sumber daya bagi sekolah yang dinilai kekurangan tenaga pengajar dan memiliki bangunan rusak, terutama di kawasan berpenghasilan rendah.

Gerakan tersebut meluas setelah serikat buruh CGT dan kelompok aktivis lainnya bergabung ketika pelajar memasuki libur musim gugur. Tuntutan demonstran kemudian mencakup persoalan kenaikan biaya hidup dan layanan publik.

Meski ratusan ribu orang mengikuti demonstrasi secara damai, kerusuhan pada akhir pekan berujung pada sekitar 2.400 penangkapan. Penjarahan dilaporkan terjadi di Paris, Marseille, Lyon, dan Bordeaux.

Di Limoges, kebakaran melanda balai kota bersejarah yang dibangun pada abad ke-19 hingga bangunannya nyaris hancur. Sejumlah sekolah juga dilaporkan dibakar. Ratusan orang terluka ketika sebagian demonstran dan perusuh melempar bom molotov, sementara aparat menggunakan gas air mata untuk merespons kerusuhan.

Presiden Prancis Emmanuel Macron mengecam kekerasan tersebut. Ia menuding aktivis kiri ekstrem berupaya menciptakan kekacauan dengan menyerang gedung dan aparat kepolisian.

"Mereka yang menjarah harus membayar kerugiannya, dan mereka yang berusaha menjatuhkan Republik akan dimintai pertanggungjawabannya," kata Macron pada hari Minggu dalam pidato yang disiarkan di televisi.

Spanyol dan Portugal: Krisis Perumahan Menekan Anak Muda

Di Spanyol, persoalan perumahan menjadi salah satu pemicu utama demonstrasi. Di Madrid, tenda-tenda terpal memenuhi kawasan Puerta del Sol selama berminggu-minggu sebagai bentuk protes terhadap mahalnya biaya tempat tinggal.

Baca Juga: Demonstrasi Biaya Hidup di Paris Berujung Kerusuhan, Kemlu Pastikan Tak Ada WNI Terlibat

Aksi tersebut dipicu oleh penggusuran María del Carmen Abascal, perempuan berusia 87 tahun yang kemudian meninggal saat dirawat di rumah sakit. Kemah protes serupa kemudian bermunculan di sejumlah kota Spanyol lainnya.

Tekanan publik mendorong pemerintahan Sosialis menyetujui langkah-langkah untuk menyediakan perumahan terjangkau. Namun, kebijakan tersebut tidak memperoleh dukungan parlemen yang diperlukan.

Menurut laporan Associated Press, Perdana Menteri Pedro Sánchez menyerukan pemilihan umum lebih awal pada November. Seruan mogok umum juga muncul untuk bulan yang sama, yang disebut sebagai aksi pertama dalam 14 tahun.

Besarnya tekanan biaya perumahan terlihat dari perbandingan upah dan harga sewa. Berdasarkan analisis surat kabar bisnis Expansión, upah minimum di Spanyol mencapai 1.221 euro per bulan, sedangkan rata-rata sewa apartemen seluas 80 meter persegi sekitar 1.130 euro per bulan.

Diana Manzanares, pramusaji berusia 20 tahun yang mengikuti kemah protes di Madrid, mengatakan sebagian besar gajinya habis untuk membayar sewa. 

"Sebagian besar gaji saya habis untuk membayar sewa. Teman sekamar saya juga berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidup seperti saya. Inilah kenyataan saya dan kenyataan sebagian besar dari kita yang tinggal di kota ini," ucapnya.

Selain persoalan perumahan, guru sekolah dasar dan menengah di Madrid memulai mogok tanpa batas waktu pada pekan sebelumnya untuk menuntut upah dan kondisi kerja yang lebih baik. Aksi serupa juga pernah berlangsung di wilayah lain di Spanyol sepanjang tahun ini.

Di Portugal, protes mengenai perumahan terjangkau muncul di Lisbon dan Porto. Sementara itu, Barcelona di Spanyol juga menjadi salah satu pusat persoalan akibat pariwisata berlebih dan meningkatnya tekanan terhadap pasar perumahan.

Italia: Inflasi dan Biaya Hidup Memicu Aksi Massa

Di Italia, gerakan Italia in Piazza atau Italia di Jalanan menghimpun ribuan demonstran yang menuntut pekerjaan dan upah lebih baik, serta akses terhadap layanan kesehatan, pendidikan, dan perumahan.

Baca Juga: IMBAS DEMO RICUH! Gas Air Mata Penuhi Metro Paris, Lansia Kesulitan Bernapas

Berdasarkan data pemerintah Italia yang dikutip AP, inflasi negara tersebut mencapai 4,2 persen pada September, melampaui inflasi zona euro sebesar 3,8 persen.

Demonstrasi yang awalnya berlangsung damai kemudian diikuti kerusuhan di Turin, Bologna, dan Milan. Di Milan, perusuh bertopeng terlibat bentrokan dengan polisi, menjarah toko, dan membakar properti.

Polisi Milan melaporkan 271 orang ditangkap, sebagian besar di antaranya masih di bawah umur. Sebanyak 14 petugas keamanan juga dilaporkan terluka selama dua hari kerusuhan.

Di tengah situasi tersebut, kelompok baru bernama Oct. 17 Movement mengumumkan apa yang mereka sebut sebagai mobilisasi permanen. Kelompok itu berencana menggelar demonstrasi setiap Sabtu pukul 15.00 di berbagai kota Italia.

Albania: Gerakan Antikorupsi Tuntut Perdana Menteri Mundur

Di Tirana, ibu kota Albania, demonstrasi antipemerintah berlangsung selama lebih dari sepekan. Bentrokan meningkat setelah pelajar dan mahasiswa bergabung dengan gerakan Flamingo, yang menuntut Perdana Menteri Edi Rama mengundurkan diri.

Pemberantasan korupsi menjadi salah satu tuntutan utama gerakan tersebut. Para demonstran juga menuntut perlindungan terhadap layanan kesehatan, pendidikan, dan dana pensiun publik.

Nama Flamingo merujuk pada habitat alami burung flamingo di kawasan yang menjadi lokasi rencana pengembangan pariwisata mewah. Proyek tersebut dikaitkan dengan Jared Kushner, menantu Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Rama mengecam para demonstran dan menuding mereka telah terpengaruh kelompok antifa, istilah yang digunakan untuk merujuk pada berbagai kelompok militan kiri yang tidak memiliki struktur organisasi tunggal.

Sementara itu, laporan AP juga menyoroti perkembangan di Serbia. Mahasiswa yang hampir dua tahun memimpin demonstrasi antikorupsi kini menantang upaya mantan presiden Aleksandar Vucic untuk kembali berkuasa melalui pemilihan parlemen pada 25 Oktober.

Baca Juga: PARIS MEMBARA! Mobil, Toko Dibakar Demonstran, Polisi Tembakkan Gas Air Mata

Vucic berupaya menjadi perdana menteri, sementara partai Students' List yang didukung gerakan mahasiswa disebut bersaing ketat dengan partainya. Persaingan tersebut menambah ketidakpastian politik dan memunculkan kekhawatiran akan kemungkinan kekerasan.

Gelombang Protes Menjadi Isu Politik Eropa

Gelombang demonstrasi tersebut berlangsung ketika sejumlah negara Eropa menghadapi persaingan politik penting. Di tengah meningkatnya ketidakpuasan masyarakat, partai-partai sayap kanan juga mencatat kenaikan dukungan di Jerman dan berpeluang memperluas pengaruhnya di negara lain.

Politikus sayap kanan memanfaatkan situasi tersebut untuk mengkritik pemerintah. Trump, misalnya, menyalahkan imigran atas kehancuran akibat kerusuhan di Prancis dan menyerukan penutupan perbatasan melalui unggahan di platform Truth Social pada Senin.

Namun, laporan AP mencatat bahwa demonstrasi di Prancis melibatkan beragam kelompok masyarakat dan tidak seluruhnya berlangsung dengan kekerasan. Sementara itu, otoritas dan kepolisian Prancis tidak menyalahkan imigran atas kerusuhan tersebut.

Keresahan sosial di Eropa juga berlangsung di tengah tantangan geopolitik yang lebih luas, termasuk dukungan negara-negara Eropa terhadap Ukraina dan kekhawatiran mengenai dugaan serangan pembakaran, serangan siber, serta sabotase di negara-negara anggota NATO yang dikaitkan dengan Rusia.

Rangkaian demonstrasi tersebut menunjukkan bahwa pemicu protes berbeda di setiap negara. Di Prancis, tuntutan pendidikan berkembang menjadi protes yang lebih luas terhadap biaya hidup dan layanan publik. Di Spanyol dan Portugal, krisis perumahan menjadi sorotan, sedangkan di Italia inflasi dan kesejahteraan menjadi perhatian. Di Albania dan Serbia, tuntutan antikorupsi turut memperbesar tekanan terhadap pemerintah.

Meski berbeda dalam tuntutan dan konteks politik, berbagai aksi itu memperlihatkan tantangan yang dihadapi pemerintah Eropa dalam merespons keresahan masyarakat, terutama generasi muda, sekaligus menjaga keamanan dan ketertiban publik. 

Baca Juga: Tak Cuma di Paris, Demo Biaya Hidup Berujung Ricuh Merembet ke Milan: Toko Dijarah, Mobil Dibakar

Download KompasTV Apps di TV kamu, sekarang juga di https://app.kompas.tv/. Satu apps untuk semua Video Premium, Breaking News, dan Live Streaming 24/7 dari Kompas Gramedia.

Penulis : Rizky L Pratama Editor : Desy-Afrianti

Sumber : Associated Press

Tag
  • Eropa
  • Demonstrasi
  • Kerusuhan Prancis
  • Spanyol
  • Italia
  • Albania
Selengkapnya


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Greenpeace Upayakan para Aktivisnya yang Dibawa ke Polda Metro Jaya Segera Dilepas
• 19 jam lalukompas.tv
thumb
Dorong Logistik Hijau, DHL Operasikan Wuling EV
• 16 jam lalurepublika.co.id
thumb
Aksi Greenpeace di Bundaran HI, Pramono: Indonesia Ini Adalah Negara Demokrasi
• 17 jam lalunarasi.tv
thumb
BCA Perpanjang Buyback Saham hingga 23 Oktober 2026
• 3 jam lalukumparan.com
thumb
Aturan Tembakau dan Industri Rokok: Menperin Minta Nasib Pekerja Diperhitungkan
• 15 jam lalumedcom.id
Berhasil disimpan.