Pasuruan, tvOnenews.com — Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meninjau langsung proses penanganan karhutla yang terjadi di kawasan Tahura R Soerjo, Selasa (20/10) malam.
Begitu sampai lokasi, Gubernur Khofifah langsung menggelar Rapat Koordinasi Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di posko penanganan kebakaran Taman Hutan Raya (Tahura) R. Soerjo yang berlokasi di Hutan Cempaka, Desa Dayurejo, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan.
Dalam kesempatan itu, ia menekankan bahwa dalam penanganan karhutla, keselamatan para petugas dan relawan menjadi hal utama.
Orang nomor satu di Jatim ini juga mengatakan bahwa penanganan kebakaran harus memastikan setiap upaya pemadaman dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi medan, perkembangan api, arah angin dan keamanan personel.
"Tentu yang harus kita lakukan sekarang kewaspadaan dan kehati-hatian para relawan," kata Gubenur Khofifah usai menggelar Rakor.
Hal ini menjadi menjadi perhatian utama Gubernur Khofifah lantaran sebelumnya penanganan karhutla di kawasan Gunung Bromo telah memakan korban, 5 meninggal dunia dan 1 orang masih dalam perawatan di RSUD. Dr Soetomo Surabaya.
Gubernur perempuan pertama di Jatim ini pun menyampaikan duka cita atas meninggalnya 5 orang relawan. Tim Dinsos dan BPBD telah melakukan takziyah ke lima keluarga ahli waris. Sedangkan untuk yang mendapatkan perawatan, Gubernur Khofifah memastikan semua biayanya dalam tanggungan Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
"Kita semua berduka ada 6 relawan terdampak 5 meninggal dunia, innalilahi wa innailaihi Raji'un, per hari ini Dinas Sosial dan BPBD Jatim sudah takziyah ke 5 rumah duka," imbuhnya.
Gubernur Khofifah menuturkan bahwa hembusan angin kencang menjadi penyebab timbulnya korban. Karenanya, ia menyebut pentingnya mitigasi, kehati-hatian dan kewaspadaan seluruh petugas dan relawan.
"Yang di Bromo itu sesungguhnya mereka tidak di area Karhutla, ada Karhutla yang anginnya kencang sehingga kecepatan angin itu tidak bisa dimitigasi secara lebih aman," ungkapnya.
Gubernur Khofifah menjelaskan medan pegunungan yang terjal dan keterbatasan akses menuntut operasi pemadaman dilakukan secara lebih terkoordinasi. Kesiapan perlengkapan pelindung, komunikasi antartim, jalur masuk dan keluar yang aman, serta pemantauan kondisi petugas menjadi bagian penting dalam mendukung keberhasilan penanganan.




