Jakarta (ANTARA) - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan Rabu, bergerak datar 0 poin atau 0,00 persen menjadi tetap Rp17.992 per dolar AS, sama seperti penutupan sebelumnya di level Rp17.992 per dolar AS.
Analis Bank Woori Saudara Rully Nova memperkirakan rupiah melemah seiring antisipasi pelaku pasar menjelang pengumuman hasil keputusan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) pada siang hari ini.
“Rupiah hari ini diperkirakan melemah dipengaruhi oleh domestik antisipasi hasil keputusan RDG BI siang nanti,” ucapnya kepada ANTARA di Jakarta, Rabu.
Dia mengungkapkan bahwa perkiraan pelaku pasar terpecah antara kemungkinan suku bunga tidak berubah atau kenaikan 25 basis points (bps) menjadi 6 persen.
Rully sendiri meyakini BI akan mempertahankan suku bunga tetap di kisaran 5,75 persen guna menjaga daya beli masyarakat.
“Jika BI menaikkan suku bunganya, mungkin mempertimbangkan antisipasi bila The Fed tanggal 28 Oktober nanti jika jadi menaikkan bunga 25 bps menjadi 4,25 persen,” ujar dia.
Di samping itu, lanjutnya, harga minyak yang masih tinggi meningkatkan ekspektasi inflasi global dan yield obligasi AS.
Mengutip Anadolu, harga minyak mentah Brent turun sekitar 3 persen menjadi sekitar 106 dolar AS per barel pada hari Selasa, membalikkan kenaikan sebelumnya setelah sempat mendekati angka 112 dolar AS per barel pada sesi perdagangan yang sama.
Tolok ukur minyak internasional tersebut diperdagangkan pada harga 106,18 dolar AS per barel, turun 3,37 dolar AS per barel atau 3,07 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.
Penurunan ini membuat harga Brent berada hampir 6 dolar AS per barel di bawah level tertinggi hariannya, yang menandai perubahan arah harga secara tajam.
Meskipun mengalami penurunan, harga Brent tetap sekitar 6,8 persen lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya dan hampir 75 persen lebih tinggi dibandingkan level pada periode yang sama tahun lalu.
Berdasarkan faktor-faktor tersebut, kurs rupiah diprediksi bergerak pada kisaran pada kisaran Rp17.950 - Rp18.100 per dolar AS.
Analis Bank Woori Saudara Rully Nova memperkirakan rupiah melemah seiring antisipasi pelaku pasar menjelang pengumuman hasil keputusan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) pada siang hari ini.
“Rupiah hari ini diperkirakan melemah dipengaruhi oleh domestik antisipasi hasil keputusan RDG BI siang nanti,” ucapnya kepada ANTARA di Jakarta, Rabu.
Dia mengungkapkan bahwa perkiraan pelaku pasar terpecah antara kemungkinan suku bunga tidak berubah atau kenaikan 25 basis points (bps) menjadi 6 persen.
Rully sendiri meyakini BI akan mempertahankan suku bunga tetap di kisaran 5,75 persen guna menjaga daya beli masyarakat.
“Jika BI menaikkan suku bunganya, mungkin mempertimbangkan antisipasi bila The Fed tanggal 28 Oktober nanti jika jadi menaikkan bunga 25 bps menjadi 4,25 persen,” ujar dia.
Di samping itu, lanjutnya, harga minyak yang masih tinggi meningkatkan ekspektasi inflasi global dan yield obligasi AS.
Mengutip Anadolu, harga minyak mentah Brent turun sekitar 3 persen menjadi sekitar 106 dolar AS per barel pada hari Selasa, membalikkan kenaikan sebelumnya setelah sempat mendekati angka 112 dolar AS per barel pada sesi perdagangan yang sama.
Tolok ukur minyak internasional tersebut diperdagangkan pada harga 106,18 dolar AS per barel, turun 3,37 dolar AS per barel atau 3,07 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.
Penurunan ini membuat harga Brent berada hampir 6 dolar AS per barel di bawah level tertinggi hariannya, yang menandai perubahan arah harga secara tajam.
Meskipun mengalami penurunan, harga Brent tetap sekitar 6,8 persen lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya dan hampir 75 persen lebih tinggi dibandingkan level pada periode yang sama tahun lalu.
Berdasarkan faktor-faktor tersebut, kurs rupiah diprediksi bergerak pada kisaran pada kisaran Rp17.950 - Rp18.100 per dolar AS.





