PTN Badan Hukum Berkolaborasi Tingkatkan Pendapatan Kampus dari Luar Uang Kuliah

kompas.id
4 jam lalu
Cover Berita

Perguruan tinggi negeri berstatus badan hukum atau PTNBH  memperkuat kolaborasi. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan mutu layanan pendidikan tanpa bertumpu pada biaya kuliah yang dibayarkan warga.

Kolaborasi yang digerakkan semua Perguruan Tinggi Negeri Berstatus Badan Hukum (PTNBH) ini bahkan membuka peluang untuk pengakuan akademik. Selain itu kerja sama tersebut berpeluang mengembangkan usaha bersama guna meningkatkan sumber pendapatan kampus.

Hingga saat ini, ada 25 PTNBH di bawah Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) yang bergabung dalam U25 Leaders Forum. Para pimpinan PTNBH bertemu secara rutin untuk membahas berbagai upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan tinggi dan mendukung kemajuan bangsa.

Pertemuan U25 Leaders Forum PTNBH bertema “ Unlocking Funding Opportunities : Strategi Pembiayaan Proyek Strategis PTNBH” ini digelar di Universitas Sumatera Utara. Acara ini merupakan pertemuan keempat sejak forum itu berjalan pada Oktober 2025.

Pertemuan tersebut, diikutip dari siaran pers Kemendiktisaintek, Rabu (21/10/2026), menghasilkan strategi bagi pengembangan PTNBH untuk mengembangkan kolaborasi antarkampus, dalam pengembangan usaha maupun pertukaran akademik.

Ketua U25 Leaders Forum Heri Hermansyah menyampaikan rencana pembentukan konsorsium unit usaha bersama dan penguatan rekognisi akademik antar-PTNBH.  

“Kita akan membentuk unit usaha bersama, konsorsium dari seluruh universitas PTNBH ini untuk menangani krisis-krisis yang bersifat rutin. Di mana U25 sendiri yang menjadi captive market -nya,” kata Heri yang juga Rektor Universitas Indonesia (UI).

Pembentukan unit usaha bersama tersebut sebagai cara untuk meningkatkan pendapatan kampus dari pengelolaan dan pemanfaatan potensi kampus. Sebab, PTNBH bertanggung jawab untuk meningkatkan kemandirian dalam mencari sumber pendapatan bagi kampus, melalui aset-aset fisik yang dimiliki hingga aset hak kekayaan intelektual dari civitas akademika.

Baca JugaBiaya Kuliah Makin Tinggi, PTN Badan Hukum Perlu Dikaji
Baca JugaBiaya Kuliah Makin Mahal, Masa Depan Menjadi Taruhan

Ketika pertemuan U25 Leaders di IPB University di awal tahun 2026, Heri menyoroti tantangan kemandirian PTN BH, khususnya dalam mengurangi ketergantungan pada dana uang kuliah tunggal (UKT) mahasiswa.

“PTNBH dituntut untuk mengoptimalkan aset yang dimiliki, terutama sumber daya manusia (SDM), yang memiliki potensi besar dalam menghasilkan pendapatan melalui pendidikan, riset, pengabdian masyarakat, serta kerja sama akademik dan industri,” jelasnya.

Kita akan membentuk unit usaha bersama, konsorsium dari seluruh universitas PTNBH ini untuk menangani krisis-krisis yang bersifat rutin. Di mana U25 sendiri yang menjadi captive market -nya.

Selain SDM, menurutnya, aset fisik seperti lahan strategis juga dapat dikembangkan menjadi sentra ekonomi baru yang memberikan nilai tambah bagi universitas. “U25 menjadi ruang berbagi pengalaman. Kita bergerak maju melalui kolaborasi, bukan kompetisi,” tegas Heri.

Sulit memanfaatkan aset

Rektor USU Muryanto Amin, mengatakan USU memiliki aset yang berpotensi dikembangkan, tetapi belum dimanfaatkan secara maksimal. Persoalan perizinan dan proses kerja sama yang panjang membuat sejumlah rencana investasi sulit direalisasikan.

“Di kampus-kampus ini banyak aset yang idle atau tidak aktif. Kita punya banyak pengalaman untuk mengurus sistem kerja sama, tapi memang birokrasinya sangat panjang,” kata Muryanto.

Menurut Muryanto, aset kampus sebenarnya dapat dikembangkan untuk berbagai kegiatan usaha, di antaranya pengembangan perkebunan. Karena itu, ia berharap ada perbaikan tata kelola dan mekanisme perizinan agar kerja sama antara perguruan tinggi dan investor lebih efisien.

“Nah ini yang perlu kami berikan masukan agar birokrasinya tidak terlalu panjang dan hitungan-hitungan tangannya bisa cukup rasional secara ekonomis bagi calon investor,” ujarnya.

Muryanto menyambut baik pembahasan pembiayaan proyek strategis sebagai upaya dari U25 Leaders Forum memperkuat kemandirian dan produktivitas PTNBH. Perguruan tinggi perlu mencari cara agar aset yang dimiliki dapat memberikan manfaat ekonomi tanpa mengabaikan fungsi utamanya dalam pendidikan.

“Kami mulai menyiapkan langkah konkret untuk meningkatkan produktivitas aset dan memperkuat kerja sama antar-PTNBH. Rencana konsorsium akan didukung kelompok kerja yang merumuskan bentuk kelembagaan dan tata kelolanya,” kata Heri.

Heri mencontohkan layanan kebersihan, keamanan, penyediaan makanan, dan parkir sebagai bidang usaha yang berpotensi dikelola bersama. Penggabungan kebutuhan dari sejumlah perguruan tinggi diharapkan menghasilkan skala bisnis yang lebih besar dan meningkatkan efisiensi pengelolaan.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Kemendiktisaintek, Badri Munir Sukoco, menekankan bahwa keberlanjutan kinerja perguruan tinggi, membutuhkan kemampuan beradaptasi dan mengembangkan sumber pendapatan yang beragam.

Untuk itu, perguruan tinggi perlu mempelajari praktik baik dari institusi lain, baik di dalam maupun luar negeri, serta menyesuaikannya dengan potensi dan kebutuhan masing-masing.

Badri mendorong agar PTNBH dapat memperluas sumber pendanaan dan mengoptimalkan aset untuk memperkuat keberlanjutan pembiayaan. “Diversifikasi pendapatan dan optimalisasi pengeluaran, diperlukan dalam keberlanjutan kinerja,” ujar Badri.

Lebih lanjut, Badri mengatakan PTNBH dapat mengembangkan potensi pendidikan yang telah berjalan, sekaligus mengeksplorasi peluang baru. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui pengembangan program pendidikan dan penjajakan model usaha yang berpotensi menjadi sumber pendapatan tambahan.

 “Tentu pendidikan-pendidikan bisa kita gali peluangnya, di jenjang S1, S2, S3. Kemudian yang eksplorasi, kita belajar dari tempat lain, apa yang perlu kita gagas. Semisal dormitori atau asrama mahasiswa bisa jadi alternatif,” ujarnya.

Baca JugaUKT dan Kehadiran Negara di PTN
Baca JugaKetika Jalur Mandiri PTN Menjadi Celah Korupsi

Badri mengatakan, melalui U25 Leaders Forum , Kemendiktisaintek mendorong perguruan tinggi memperkuat kolaborasi, memperluas sumber pendanaan, dan mengembangkan pemanfaatan aset secara produktif.

Berbagai gagasan yang dibahas diharapkan dapat ditindaklanjuti melalui inisiatif bersama yang terukur dan berkelanjutan. Tujuannya, untuk mendukung pembiayaan proyek strategis serta memperkuat kontribusi perguruan tinggi bagi pembangunan nasional.

Rekognisi akademik

Heri memaparkan kolaborasi lain yang digagas yakni rekognisi akademik U25. Kegiatan akademik dari 25 PTNBH di bawah  bisa dilakukan secara resiprokal atau timbal balik setara . “Kita akan lakukan juga pertukaran antar-PTN BH untuk mahasiswa, teknik, dan dosen. Sehingga nanti bisa saling mengakselerasi dan belajar bersama, kemudian memiliki baseline yang sama,” ujar Heri.

Untuk itu, U25 Leaders Forum menyiapkan kelompok kerja guna memperkuat rekognisi akademik antar-PTN-BH. Program itu diarahkan untuk membuka pertukaran mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan antarkampus, termasuk melalui mekanisme transfer kredit agar kegiatan akademik yang diikuti dapat diakui oleh perguruan tinggi asal.

Menurut Heri, kerja sama ini diharapkan membuat mahasiswa memiliki kesempatan belajar di kampus lain tanpa harus selalu mengikuti program pertukaran ke luar negeri. “Mahasiswa di PTNBH bisa berkembang bersama-sama. Ini juga bisa menjaga kapasitas SDM secara keseluruhan di PTNBH ini,” ujarnya.

Lebih lanjut, Heri  mengatakan rencana kerja sama itu akan ditindaklanjuti melalui penyusunan nota kesepahaman (MoU) dan pembentukan kelompok kerja. Namun, tahapan pelaksanaan dan jadwal operasionalnya masih perlu dimatangkan bersama para anggota forum.

Penyelenggaran pendidikan tinggi di PTNBH juga memperkuat komitmen terwujudnya kampus inklusif, aman, sehat, dan berdampak.

Dalam pertemuan di Universitas Gadjah Mada (UGM),  pimpinan PTNBH membahas mengenai penguatan kebijakan untuk pencegahan dan penanganan kekerasan.

Selain itu para pimpinan PTNBH sepakat untuk mengembangkan kampus inklusif bagi semua anggota komunitas akademik; menyediakan layanan kesehatan mental; dan meningkatkan aksesibilitas bagi penyandang disabilitas.

Baca JugaKelas Internasional di PTN Pun Membidik Siswa Berprestasi
Baca JugaInternasionalisasi Pendidikan, Strategi Menuju Indonesia Emas

Hasilnya, Kelompok Kerja Inklusivitas dan Pencegahan Kekerasan dibentuk. Kelompok kerja ini diharapkan dapat berfungsi sebagai platform kolaboratif bagi para pemimpin universitas untuk mengembangkan kebijakan, berbagi praktik terbaik, memperkuat budaya kampus yang menghormati keragaman, dan mempromosikan kesejahteraan, dan tetap bebas dari segala bentuk kekerasan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Konflik Yaman Memanas: 250.000 Orang Terpaksa Mengungsi, Houthi Gempur Kamp Latihan Pemerintah
• 16 jam lalukompas.tv
thumb
Bareskrim Polri Gelar Perkara Khusus Kasus Ijazah Gibran
• 4 jam laluokezone.com
thumb
Bantu Warga Terdampak Gempa di Manggarai, Untar Beri Pelayanan Kesehatan dan Pendampingan
• 7 jam lalujpnn.com
thumb
Pramono sebut monitoring harga pangan jadi faktor inflasi DKI terjaga
• 52 menit laluantaranews.com
thumb
KMP Batumandi Terbakar di Selat Sunda, Ratusan Penumpang Panik Saat Dievakuasi
• 20 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.