Ancang-Ancang Emiten Tol Babah Alun CMNP Gelar Rights Issue, Intip Rencananya

katadata.co.id
3 jam lalu
Cover Berita

Emiten milik pengusaha Mohammad Jusuf Hamka atau lebih dikenal dengan nama Babah Alun PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk (CMNP) sedang mengkaji rencana penambahan modal melalui penerbitan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue.

Direktur Independen CMNP Hasyim mengatakan, perseroan saat ini masih menganalisis rencana aksi korporasi tersebut, sebagaimana keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 26 Mei 2026.

“Pemegang saham telah menyetujui rencana PUT III HMETD,” tulis Hasyim dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), dikutip Rabu (21/10).

Sementara itu, terkait rencana pemegang saham utama yaitu Babah Alun atas kepemilikannya di CMNP, Hasyim menyatakan belum ada rencana perubahan. Pemegang saham utama perseroan akan tetap mempertahankan kepemilikannya.

Di tengah kajian rights issue tersebut, Babah Alun sebelumnya menyatakan akan memanfaatkan koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) untuk membeli saham. Penurunan pasar terjadi setelah pengumuman MSCI pada pekan lalu memicu tekanan di pasar modal Indonesia.

Melalui akun Instagram resminya @jusufhamka, pengusaha jalan tol ini menyebut koreksi tajam sebagai peluang untuk mengakumulasi saham, terutama saham berkapitalisasi besar atau blue chip yang menawarkan dividen menarik.

“Ini adalah kesempatan untuk membeli. It's time to buy. Karena turunnya udah dibikin tajam dan biasanya kalau sesuatu yang sudah turun tajam akan berbalik arah lagi untuk naik dengan tajam,” ujar Babah Alun, dikutip Rabu (21/10).

Dia bahkan menyatakan kelompok usahanya menyiapkan dana Rp 5 triliun untuk membeli saham di pasar pada Senin (19/10).

“Pasti hari Senin saya akan belanja dan kita, di kelompok kita, Rp 5 triliun kita akan belanja di market untuk hari Senin,” katanya.

Dia mengatakan, saham perbankan seperti PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi saham yang menarik untuk dicermati karena potensi dividennya.

Menurut dia, penurunan harga saham perbankan membuka peluang bagi investor untuk memperoleh imbal hasil dividen atau dividend yield yang lebih tinggi. Ia mencontohkan saham Bank Mandiri yang sebelumnya sempat diperdagangkan di kisaran Rp 6.000–Rp 7.000 per saham, tetapi kemudian turun ke kisaran Rp 3.300–Rp 3.500 per saham.

Dengan asumsi dividen Rp 450 per saham dan harga saham Rp 3.500, Babah Alun memperkirakan dividend yield Bank Mandiri mendekati 12% per tahun.

“Ini lebih bagus dari deposito,” ujarnya.

Ia menilai, investor berpeluang memperoleh pendapatan dividen selama memegang saham tersebut. Selain itu, investor juga berpotensi mendapatkan keuntungan apabila harga saham kembali meningkat.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Polda Jatim Kerahkan Pasukan BKO ke Sembilan Wilayah Terdampak Karhutla, Perkuat Pemadaman dan Antisipasi Kebakaran Susulan
• 40 menit lalupantau.com
thumb
Evaluasi 2 Tahun Prabowo: Mengapa Target Pertumbuhan 8% Masih Jauh dari Target?
• 17 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Lantik Pejabat Baru, Sekjen Kemendagri Tekankan Evaluasi & Target Terukur
• 41 menit lalukumparan.com
thumb
RI Akan Teken Kesepakatan Industri Pertahanan dengan Turki, Qatar, dan Pakistan
• 4 jam laluidxchannel.com
thumb
Kaji Merger SpaceX - Tesla, Elon Musk Bidik Sinergi AI, Cip, Robotika
• 5 jam lalukatadata.co.id
Berhasil disimpan.