Gang Selebar 1 Meter di Yogya Jadi Kebun Sayur, Olahan Telangnya sampai Makassar

kumparan.com
4 jam lalu
Cover Berita

Gang-gang selebar sekitar satu meter di Kampung Semaki Gede, Umbulharjo, Kota Yogyakarta, dimanfaatkan warga untuk menanam berbagai jenis sayuran. Karena keterbatasan lahan, tanaman ditempatkan pada tembok-tembok rumah di sepanjang gang.

“Setiap jengkal kita kasih tanaman dan sayuran, jika tak ada lahan, kita pasang di tembok,” kata Indrati, salah satu penggiat program lorong sayur, kepada Pandangan Jogja, Jumat (16/10).

Program lorong sayur tersebut melibatkan warga dari empat RT, yakni RT 17 hingga RT 20 di RW 06 Kampung Semaki Gede. Selain untuk memenuhi sebagian kebutuhan sayuran warga, kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya masyarakat setempat membangun ketahanan pangan di lingkungan permukiman.

Lorong-lorong sayur itu terhubung dengan sebuah kebun induk bernama Taman Guyub Rukun (TGR). Selain ditanami berbagai jenis sayuran, kebun tersebut menjadi pusat pengolahan bunga telang yang dikembangkan warga menjadi produk untuk dijual.

Indrati menjelaskan, kegiatan menanam di lingkungan tersebut telah dirintis sejak sebelum gempa bumi 2006. Warga awalnya memanfaatkan lahan yang tersedia untuk menanam rempah-rempah. Kegiatan itu sempat terdampak gempa, tetapi kembali dikembangkan pada tahun-tahun berikutnya.

Pada 2022, pengembangan kebun mendapat dukungan melalui Kelompok Wanita Tani (KWT) Ngudirejo berupa bantuan senilai Rp50 juta. Bantuan tersebut diberikan dalam bentuk material, antara lain bibit tanaman, buku, peralatan pertanian, dan pot.

Saat ini, pengelolaan kebun dilakukan secara swadaya. Warga secara sukarela bergantian merawat tanaman, memanen sayuran, hingga mengolah hasil kebun. Menurut Indrati, sayuran yang dihasilkan bahkan kerap sudah dipesan sebelum dijual.

“Jadi sebelum sayur itu dijual, sudah habis dipesan,” ujarnya.

Olahan Bunga Telang Sampai Makassar

Selain sayuran, warga Kampung Semaki Gede mengembangkan bunga telang menjadi berbagai produk olahan. Bunga tersebut diolah menjadi minuman rempah, sirup, teh, dawet, hingga nasi telang yang mulai diperkenalkan dan dipasarkan pada 2026.

Salah satu penggerak kegiatan warga, Tamti Purwanti, mengatakan bunga telang kini menjadi produk andalan yang dikembangkan di Taman Guyub Rukun.

“Jadi kita ikonnya itu bunga telang. Dari varian itu yang sudah kita produksi itu tentang rempah bunga telang,” kata Tamti.

Produk tersebut dipasarkan melalui kegiatan pameran, pertemuan, hingga lapak yang dibuka warga setiap Sabtu dan Minggu di Mandala. Bahkan, menurut Tamti, produk bunga telang mereka sudah dibawa hingga ke Makassar setelah bertemu dengan seseorang dalam sebuah forum.

“Makassar kebetulan kita ketemu di sebuah forum. Kemudian dia bawa dibawa itu. Nah, produknya kan dibawa sampai ke pasar,” ujarnya.

Tamti mengatakan, jumlah pesanan produk olahan bunga telang pernah mencapai lebih dari 100 produk. Para penggerak berharap pemasaran produk tersebut dapat terus diperluas.

Terkendala Cuaca, Modal, dan Regenerasi

Meski sudah menghasilkan sayuran dan produk olahan, pengelolaan kebun masih menghadapi sejumlah kendala. Warga mengandalkan dana swadaya untuk membeli kebutuhan pertanian dan menjalankan produksi, sementara hasil penjualan sayuran belum selalu mencukupi biaya pengelolaan.

Tantangan lainnya adalah proses pengeringan bahan baku produk olahan. Selama ini, warga masih mengandalkan panas matahari untuk mengeringkan bunga telang dan rempah-rempah sebelum dikemas.

Kondisi tersebut membuat proses produksi bergantung pada cuaca. Saat musim hujan, pengeringan berpotensi terhambat, terutama untuk bahan dengan kandungan air tinggi seperti jeruk.

“Karena itu harus kering. Nah, selama ini kan kita mengandalkan sinar matahari. Jadi, pengeringan secara alam,” jelas Indrati.

Selain keterbatasan peralatan dan modal, para penggerak juga menghadapi persoalan regenerasi. Pengelolaan lorong sayur dan pengolahan hasil kebun hingga kini masih bertumpu pada warga yang secara sukarela meluangkan waktu untuk merawat tanaman dan menjalankan produksi.

Para penggerak berharap semakin banyak generasi muda terlibat agar kegiatan pertanian di tengah permukiman padat tersebut dan usaha olahan bunga telang dapat terus berjalan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Polri Selidiki Penyebab Kebakaran KMP Batumandi di Pelabuhan Merak
• 7 jam lalukumparan.com
thumb
DWP Sumut Ajak Ibu Tanamkan Kesetaraan Gender Sejak Dini
• 11 jam lalumediaapakabar.com
thumb
DEN Wanti-Wanti Prabowo soal El Nino dan La Nina, Ini Dampaknya bagi Pangan Indonesia
• 16 jam laluviva.co.id
thumb
Raih Gelar 1st Runner Up Miss Indonesia 2026, Yvette Rondonuwu Ingin Menginspirasi Perempuan
• 22 jam lalugrid.id
thumb
Kemenhut Bekukan Izin Enam Perusahaan Terkait Karhutla di Kalteng
• 25 menit lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.