Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, berharap kolaborasi Indonesia dan Singapura melalui Project NUSA dapat mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis kecerdasan buatan (AI), menciptakan lapangan kerja baru, serta membuka sumber pendapatan baru bagi Indonesia.
"Saya berharap Project NUSA dapat mendorong pertumbuhan berbasis AI, meningkatkan kualitas layanan, menciptakan lebih banyak lapangan kerja, serta membuka sumber pendapatan baru menuju Indonesia Emas 2045," kata Airlangga secara daring dalam AI Impact Summit bertajuk Sovereign AI for Indonesia 2045, Rabu, (21/10).
Airlangga menyampaikan, pengembangan AI menjadi salah satu mesin pertumbuhan ekonomi baru yang dibutuhkan Indonesia untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,8-6,5 persen pada 2027 dan 8 persen pada 2029.
Menurut Airlangga, pemanfaatan AI perlu diarahkan pada peningkatan produktivitas, daya saing industri, penguatan usaha mikro dan kecil, serta penciptaan lapangan kerja berdaya tambah tinggi.
"Indonesia tidak cukup hanya membicarakan AI. Indonesia membutuhkan implementasi AI, mulai dari strategi hingga menghasilkan dampak nyata," ucapnya.
Airlangga menegaskan bahwa kedaulatan AI bukan berarti Indonesia menutup diri dari luar. Kedaulatan tersebut dibangun dengan memperkuat talenta, data, infrastruktur, dan teknologi nasional, sembari tetap membuka peluang investasi serta kemitraan internasional.
Pemerintah juga mendorong agar pemanfaatan AI menjangkau sektor usaha mikro dan kecil serta masyarakat luas, tidak terbatas pada korporasi besar.
Indonesia memiliki fondasi kuat untuk memperluas adopsi AI, didukung 229 juta pengguna internet dan 22 juta usaha mikro dan kecil yang telah terdigitalisasi. Pemanfaatan AI diharapkan meningkatkan efisiensi manufaktur, rantai pasok, hingga layanan publik seperti Online Single Submission (OSS), logistik, perpajakan, dan kesehatan.
"Kawasan industri dan Kawasan Ekonomi Khusus dapat menjadi pusat penelitian dan komersialisasi teknologi," tutur Airlangga.
Airlangga memproyeksikan potensi ekonomi AI Indonesia mencapai USD 360 miliar hingga USD 400 miliar pada 2030. Namun, untuk mencapai target tersebut, Indonesia membutuhkan sekitar 9 juta talenta digital.
"Menjawab kebutuhan tersebut, kami mengembangkan program Digital Talent Scholarship serta fasilitas super tax deduction hingga 200 persen bagi perusahaan yang mendukung pelatihan vokasi," jelasnya.
Di sektor semikonduktor, Danantara juga menargetkan pelatihan bagi 15.000 insinyur desain cip dalam waktu tiga tahun.
Dari sisi infrastruktur, Airlangga menyoroti pentingnya peningkatan kapasitas pusat data nasional di tengah lonjakan konsumsi listrik pusat data global yang diproyeksikan naik dari 485 TWh pada 2026 menjadi 940-950 TWh pada 2030.
"Pemerintah menambah kapasitas pembangkit listrik hampir 70 gigawatt berdasarkan RUPTL PLN 2025-2034," tambahnya.
Penguatan berbagai aspek ini diharapkan mendukung pemanfaatan AI yang produktif, inklusif, berdaya saing global, serta mengedepankan aspek keselamatan dan kepastian regulasi.
"Peluncuran ai.id, KORIKA Cloud, KORIKA Token, serta Project NUSA menunjukkan wujud implementasi nyata tersebut," pungkasa Airlangga.
Sebagai informasi, Kolaborasi Riset dan Inovasi Industri Kecerdasan Artifisial Indonesia (KORIKA) meluncurkan sejumlah inisiatif untuk memperkuat kedaulatan AI nasional melalui identitas digital, infrastruktur, akses layanan berbasis token, dan tata kelola AI.
Reporter: Sandra Tandiono





