Di tengah banyaknya anak muda yang memilih bekerja di sektor lain, Hendro Gunawan justru mantap menekuni dunia pertanian. Pada usia 29 tahun, ia meneruskan tradisi keluarganya sebagai petani sekaligus mengembangkan usaha tani bersama kelompoknya di Kamojang, Jawa Barat.
Hendro merupakan petani sekaligus Local Hero Pertamina di area Kamojang. Baginya, pertanian bukan sekadar pekerjaan turun-temurun, tetapi juga peluang usaha yang menjanjikan karena kebutuhan pangan akan selalu ada.
“Kenapa harus jadi petani kalau tidak ada yang meneruskan?” kata Hendro kepada wartawan, Rabu (21/10).
Menurut dia, sebagian anak muda di wilayah Kamojang lebih tertarik bekerja di proyek pembangunan yang berkembang di kawasan tersebut. Sementara itu, mayoritas petani yang diketahuinya berusia di atas 40 tahun. Kondisi ini membuat regenerasi petani menjadi tantangan tersendiri.
Hendro memilih bertahan karena melihat pertanian sebagai sektor yang berkelanjutan. Ia juga berupaya mengembangkan usaha tani dengan mengatasi persoalan produksi, mulai dari ketersediaan pupuk hingga biaya pengendalian hama.
Salah satu tantangan yang pernah dihadapi kelompoknya adalah kesulitan mendapatkan pupuk kimia pada periode 2021–2023. Ketika beralih ke pupuk organik, masalah baru muncul karena pupuk yang belum matang atau tidak sesuai dengan kondisi lahan dapat mengganggu produktivitas tanaman.
Hendro menyebut penggunaan pupuk organik yang tidak sesuai bahkan berisiko menyebabkan kegagalan panen hingga 45 persen. Melalui pendampingan Pertamina, kelompoknya kemudian mengembangkan pupuk organik yang disebut pupuk yogurt. Proses pengeringan atau pematangannya memanfaatkan panas uap panas bumi.
Saat ini, produk pupuk tersebut masih dalam proses pengurusan sertifikasi atau izin edar dari kementerian. Hendro mengatakan prosesnya telah berjalan sekitar 50 persen.
Upaya tersebut mulai menunjukkan hasil di lahan pertanian mereka. Hendro mencontohkan lahan yang sebelumnya hanya menghasilkan 4-5 ton kentang dalam sekali panen kini mampu menghasilkan 9,5 ton setelah menggunakan pupuk organik tersebut.
Peningkatan produktivitas itu turut mendukung perkembangan usaha tani kelompoknya. Selain kentang, mereka juga membudidayakan cabai keriting dan kubis. Hendro memperkirakan omzet keseluruhan dari hasil pertanian kelompoknya telah melampaui Rp 100 juta.
“Secara total kita kalau diperkirakan lebih dari 100 juta (omzet),” kata Hendro.
Kelompoknya juga mulai memperluas pengelolaan lahan. Sejumlah pemilik lahan memberikan kepercayaan kepada mereka untuk mengolah area yang sebelumnya tidak terurus. Namun, pengembangan usaha masih menghadapi kendala, terutama kebutuhan air untuk penyiraman saat musim kemarau.
Hendro juga mulai menjajaki penggunaan pestisida nabati untuk mengurangi ketergantungan pada pestisida konvensional yang harganya terus meningkat. Selain berpotensi menekan biaya produksi, pendekatan ini diharapkan membantu menjaga lingkungan pertanian.
“Kenapa kita mulai beralih ke pestisida nabati? Karena lingkungan itu lebih terjaga, terus hama itu bukan dibunuh tapi dikendalikan,” ujarnya.
Bagi Hendro, menjadi petani muda berarti meneruskan usaha keluarga sekaligus mencari cara agar pertanian lebih produktif. Ia ingin membuktikan bahwa pertanian tetap memiliki peluang untuk dikembangkan generasi muda melalui inovasi dan pengelolaan usaha yang berkelanjutan.





