Seorang anak berjalan kaki dari rumah di Jalan Kenari mendatangi Polsek Pontianak Barat untuk melaporkan dugaan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang dialami ibunya, Senin 19 Oktober 2026.
Anak tersebut berjalan kaki bersama temannya untuk melapor karena khawatir terhadap kondisi ibunya yang diduga dianiaya oleh ayahnya sendiri.
Kasi Humas Polresta Pontianak, AKP Wagitri, mengatakan, setelah mendapat laporan tersebut, polisi langsung mendatangi lokasi.
“Menanggapi aduan tersebut, Unit Enggang Polsek Pontianak Barat mendatangi TKP dengan menggunakan mobil patroli bersama pelapor ke Jalan Komyos Sudarso Gang Kenari 2,” ujarnya.
Setibanya di lokasi, petugas menemui Muhammad Hassan, suami korban.
Hassan menyampaikan tidak terjadi keributan dan permasalahan yang ada hanya persoalan rumah tangga biasa dan mengatakan istrinya sedang tidur di kamar.
Namun, setelah dipanggil N (korban) keluar dari kamar dalam kondisi syok dan juga terdapat luka pada bagian bibir korban.
Petugas kemudian berupaya melakukan mediasi untuk mengklarifikasi permasalahan di antara keduanya, namun suami korban melarikan diri.
“Setelah dilakukan pengecekan dalam rumah korban ditemui adanya barang yang berantakan,” ucapnya.
Berdasarkan keterangan korban kepada polisi, dirinya bersama anak perempuannya diduga dikurung di dalam kamar dan tidak diperbolehkan keluar rumah.
Korban mengaku mengalami kekerasan pada Minggu 18 Oktober 2026 sekitar pukul 22.00 WIB, setelah suaminya pulang bekerja.
Kekerasan tersebut diduga dipicu persoalan korban terlambat menjemput suaminya.
Korban menyebut dirinya dicekik, diinjak, serta dipukul menggunakan tangan kosong pada bagian wajah dan tubuh, akibatnya bibir korban mengalami luka hingga pecah.
Melihat kondisi korban, petugas kemudian membawanya ke Polsek Pontianak Barat untuk membuat laporan pengaduan atas dugaan KDRT.
Korban selanjutnya dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara untuk menjalani visum et repertum. Sementara Hassan saat ini kabur dan dalam pengejaran polisi.
Menurut Wagitri, peristiwa ini turut menjadi perhatian setelah viral di media sosial mengenai seorang anak yang berjalan kaki sekitar dua kilometer ke kantor polisi demi menyelamatkan ibunya yang diduga disekap dan dianiaya, selain itu ia tidak memiliki handphone untuk menghubungi pihak kepolisian.





