Penampakan Bismillah di Tengah Demo Besar Prancis, Menyebar ke Eropa

cnbcindonesia.com
1 jam lalu
Cover Berita
1/6

Seorang petugas kepolisian antihuru-hara Prancis berdiri di depan massa pelajar yang membentangkan spanduk bertuliskan "Bismillah Les Tambours" saat demonstrasi di Paris. Aksi ini bermula dari protes terhadap kondisi pendidikan yang dinilai memprihatinkan. Berawal dari sejumlah sekolah, gelombang unjuk rasa meluas hingga menjadi bagian dari demonstrasi nasional pada Sabtu, yang berujung pada kekerasan terburuk di negeri tersebut. (REUTERS/Abdul Saboor)

2/6

Di tengah aksi tersebut, muncul slogan “Bismillah, c'est les tenebres” yang menjadi simbol tidak resmi gerakan protes siswa sekolah menengah. Kalimat itu tertulis di papan karton di luar sekolah yang diblokade dan tersebar luas melalui video parodi di media sosial. (REUTERS/Stephane Mahe)

3/6

Frasa tersebut berasal dari bahasa Arab dan bahasa gaul Prancis. “Bismillah” berarti “dengan menyebut nama Tuhan”, sedangkan “c'est les tenebres” berarti “ini adalah kegelapan”. Gabungan keduanya terdengar janggal dan digunakan para pelajar untuk menyindir seseorang yang "berusaha berbicara seperti anak muda, tetapi dianggap gagal". (REUTERS/Stephane Mahe)

4/6

Slogan itu mulai dikenal setelah tangkapan layar percakapan Snapchat beredar pada awal Oktober. Dalam pesan tersebut, seorang pengguna bernama Mamadou menanyakan jadwal blokade sekolah dengan menggunakan frasa itu serta emoji bendera Aljazair. Sejumlah pelajar menduga pesan tersebut berasal dari polisi yang menyamar untuk menyusup ke grup protes, meski dugaan itu belum terbukti dan belum diverifikasi secara independen. Sejak itu entah bagaimana "Bismillah, c'est les tenebres" viral. (REUTERS/Stephane Mahe)

5/6

Perlu diketahui, demo pelajar bermula di Creteil, tenggara Paris, pada 18 September sebelum menyebar ke berbagai wilayah. Mereka memprotes jam sekolah yang panjang, ruang kelas padat, bangunan sekolah rusak, serta seringnya guru tidak hadir. Pada 2 Oktober, sekitar 400 sekolah dilaporkan ditutup akibat blokade. Para pelajar menilai persoalan tersebut paling berdampak pada kawasan pinggiran kelas pekerja dan komunitas minoritas. Slogan tersebut kemudian menyebar ke luar Prancis. (REUTERS/Stephane Mahe)

6/6

Menurut kantor berita Italia ANSA, aktivis Swedia Greta Thunberg menggunakannya saat mengunjungi pelajar yang mogok di Seine-Saint-Denis pada 13 Oktober. Frasa serupa juga muncul dalam demonstrasi di Brussel pada 9 Oktober, Bologna pada 15 Oktober, serta Milan pada 17–18 Oktober. Siswa sebuah sekolah Prancis di Berlin turut terlihat membentangkan spanduk dengan slogan tersebut. (REUTERS/Stephane Mahe)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Hasil Liga Champions: Stuttgart Imbang 1-1 Menghadapi Atleti
• 19 jam lalukumparan.com
thumb
Reaksi Pihak Sarwendah Terkait Ruben Onsu Adopsi Bayi Laki-laki
• 5 jam lalutvonenews.com
thumb
Lebih dari 100 Titik Api Membara di Gunung Arjuno
• 13 jam laludetik.com
thumb
Siloam Hospitals Surabaya Gelar Pinktober 2026, Ajak Perempuan Peduli Kanker Payudara
• 22 jam laluherstory.co.id
thumb
Populasi Lansia Terus Bertambah, Pemerintah Dorong Pengembangan Ekonomi Perak
• 9 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.