Liputan6.com, Jakarta - Kemerdekaan Indonesia baru berusia sekitar dua bulan ketika ancaman penjajahan kembali membayangi. Proklamasi telah dikumandangkan pada 17 Agustus 1945, tetapi perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan masih jauh dari kata selesai.
Di Surabaya, Jawa Timur, suasana semakin memanas. Kedatangan pasukan Sekutu yang diboncengi Netherlands Indies Civil Administration (NICA) memunculkan kekhawatiran bahwa Belanda akan kembali menguasai Indonesia. Rakyat bersiap menghadapi kemungkinan terburuk. Di tengah situasi itu, para ulama dan santri ikut mengambil peran.
Advertisement
Bagi kalangan pesantren, mempertahankan kemerdekaan bukan sekadar urusan politik. Ada panggilan moral dan keagamaan untuk menjaga tanah air yang baru saja lepas dari penjajahan.
Dari situasi inilah salah satu peristiwa penting dalam sejarah perjuangan bangsa bermula. Pada 22 Oktober 1945, Nahdlatul Ulama (NU) mengeluarkan Resolusi Jihad yang menyerukan kewajiban umat Islam untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Seruan tersebut menjadi salah satu pemantik semangat perlawanan rakyat, terutama menjelang Pertempuran Surabaya pada 10 November 1945. Tujuh dekade kemudian, tanggal 22 Oktober ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional, sebagai pengingat atas kontribusi ulama dan santri dalam mempertahankan kemerdekaan.
Kemerdekaan Belum Sepenuhnya Aman
Proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 memang menandai lahirnya Indonesia sebagai negara merdeka. Namun, situasi di lapangan masih penuh ketidakpastian.
Jepang telah menyerah kepada Sekutu pada 15 Agustus 1945. Kondisi itu membuka jalan bagi Indonesia untuk memproklamasikan kemerdekaan, tetapi juga menjadi awal dari persoalan baru. Pasukan Sekutu datang ke sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Surabaya, dengan tugas melucuti tentara Jepang dan membebaskan tawanan perang.
Masalahnya, kedatangan mereka turut diikuti NICA, yang berupaya memulihkan kekuasaan Belanda di Indonesia. Bagi rakyat yang baru saja merdeka, kehadiran unsur pemerintahan kolonial itu menjadi ancaman nyata.
Surabaya pun berubah menjadi salah satu pusat perlawanan. Pemuda, rakyat, dan berbagai kelompok pejuang bersiap mempertahankan kemerdekaan. Kalangan pesantren tidak tinggal diam. Para kiai menyadari bahwa situasi tersebut membutuhkan sikap tegas dan keterlibatan masyarakat luas.
Di tengah ketegangan itulah KH Hasyim Asy'ari, pendiri NU, bersama para ulama lainnya mendorong konsolidasi kekuatan umat Islam untuk mempertahankan Republik Indonesia.




