Jakarta, CNBC Indonesia - Keberatan pengusaha terhadap pemangkasan produksi batu bara menjadi sorotan pada awal 2026. Pelaku industri memperingatkan risiko terganggunya operasional, kesulitan memenuhi kontrak penjualan, hingga ancaman pemutusan hubungan kerja.
Namun, laporan keuangan semester I-2026 memperlihatkan bahwa banyak emiten dengan bisnis utama batu bara masih mampu membukukan keuntungan besar. Sejumlah perusahaan bahkan mencatat pertumbuhan laba bersih hingga ratusan persen.
Dari 18 emiten yang ditelusuri, seluruhnya mencatatkan Net Profit After Tax atau NPAT positif pada Januari-Juni 2026. Sebanyak 16 emiten membukukan kenaikan laba secara tahunan, satu berbalik dari rugi menjadi laba, sementara satu lainnya mengalami penurunan keuntungan.
Pengusaha Khawatir Produksi DipangkasPolemik mencuat ketika pemerintah melakukan evaluasi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) pertambangan mineral dan batu bara untuk 2026.
Pada awal tahun, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia sudah memutuskan bahwa target produksi batu bara pada RKAB 2026 sekitar 600-an juta ton, turun dari realisasi produksi batu bara pada 2025 sebesar 817,48 juta ton.
Bahlil menegaskan bahwa pengaturan produksi bertujuan menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan, sehingga pada akhirnya bisa menaikkan harga batu bara di pasar. Pemerintah ingin menghindari produksi berlebihan yang dapat menekan harga komoditas sekaligus menjaga keberlanjutan cadangan tambang.
"Kita kan sudah memutuskan. Tim kan sudah, saya kan katakan supply and demand. Gimana kalau kita melakukan produksi yang banyak dengan harga yang jatuh," kata Bahlil usai acara Indonesia Economic Outlook di Gedung Danantara, Jakarta, Jumat (13/2/2026).
Ia lantas mengingatkan agar sumber daya alam milik negara tidak diobral begitu saja. Mengingat, pengelolaan tambang harus terukur dan berkesinambungan.
"Jangan harta negara kita dijual murah dong. Pengelolaan tambang ini kan harus berkesinambungan. Ada anak cucu kita juga yang harus melanjutkan bangsa ini ya," kata Bahlil.
Dalam suatu acara, Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI-ICMA) menyampaikan keberatan terhadap angka produksi dalam proses evaluasi tersebut. Asosiasi melaporkan pemangkasan yang bervariasi sekitar 40%-70% dibandingkan sejumlah acuan produksi sebelumnya.
Direktur Eksekutif APBI Gita Mahyarani sempat memperingatkan bahwa penurunan volume berpotensi membuat perusahaan kesulitan menutup biaya tetap, memenuhi kewajiban pembiayaan, serta menjalankan kontrak penjualan.
Dampaknya dikhawatirkan menjalar kepada kontraktor pertambangan, perusahaan angkutan, pelayaran, hingga tenaga kerja.
Keberatan serupa sempat disampaikan oleh Asosiasi Pertambangan Indonesia (IMA) dalam acara Mining Forum CNBC Indonesia pada Jumat, 6 Maret 2026. Wakil Ketua Indonesian Mining Association (IMA) Ezra Sibarani menyoroti besarnya pemangkasan serta ketidakjelasan kriteria penetapan kuota, sementara perusahaan telah menyiapkan investasi dan memiliki komitmen dengan pembeli.
Laba Emiten Tetap Tumbuh, Ada yang Melonjak Ratusan PersenDi tengah perdebatan tersebut, hasil semester pertama menunjukkan bahwa sejumlah perusahaan tetap mampu mempertahankan bahkan memperbesar keuntungan.
Adaro Andalan Indonesia (AADI) membukukan NPAT terbesar dalam daftar, yakni Rp8.480,39 miliar. Angka tersebut meningkat 10,52% dibandingkan semester I-2025 sebesar Rp7.673,43 miliar.
Golden Energy Mines (GEMS) juga membukukan kenaikan NPAT sebesar 45,03% menjadi Rp3.937,35 miliar. Dian Swastatika Sentosa (DSSA) dan Alamtri Minerals Indonesia (ADMR) masing-masing mencatatkan laba Rp3.121,02 miliar dan Rp3.117,77 miliar.
Dan beberapa emiten lainnya juga membukukan keuntungan tambahan secara year-on-year.
Daftar berikut mencakup emiten dengan mayoritas pendapatan berasal dari bisnis penjualan batu bara. NPAT menggunakan laba periode berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk.
Seluruh angka disajikan dalam Rp miliar dengan kurs tetap Rp17.900 per dolar AS untuk kedua tahun.
Keuntungan Besar Belum Merata
Perbaikan mencolok terlihat pada Astrindo Nusantara Infrastruktur (BIPI). Perusahaan berbalik membukukan NPAT Rp79,53 miliar setelah mencatatkan kerugian Rp177,23 miliar pada semester I-2025.
Sebaliknya, Karya Pacific Energy (IATA) menjadi satu-satunya emiten dalam daftar yang mengalami penurunan NPAT. Labanya merosot 82,43% menjadi Rp17,20 miliar, meski tetap berada di zona positif.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa kondisi keuangan perusahaan tidak seragam. Laba positif juga belum cukup untuk menyimpulkan bahwa penyesuaian produksi tidak menimbulkan tekanan.
Keluhan pengusaha disampaikan pada awal tahun mengenai risiko ke depan, sedangkan laporan keuangan mencerminkan hasil enam bulan. Besaran penyesuaian kuota, struktur biaya, serta kondisi operasional setiap perusahaan dapat berbeda.
Selain itu, NPAT mencakup seluruh bisnis grup. Pertumbuhannya tidak otomatis berasal dari kegiatan penambangan batu bara saja.
Meski demikian, laporan semester I-2026 memperlihatkan bahwa kekhawatiran industri tidak bisa digeneralisasi menjadi kerugian seluruh perusahaan. Di tengah protes terhadap pengaturan produksi, banyak emiten dengan bisnis utama batu bara tetap mencetak keuntungan besar, bahkan meningkatkan laba secara signifikan.
Rata-Rata Harga Batu Bara Naik, Kebijakan Pasokan RI Turut MenopangDi sisi lain, kinerja positif sejumlah emiten berlangsung di tengah menguatnya harga batu bara internasional. Berdasarkan data Refinitiv, harga penutupan harian kontrak berjangka Newcastle NCFMc2, rata-rata harga batu bara sepanjang Januari-Desember 2025 tercatat sebesar US$108,52 per ton.
Sementara itu, rata-rata harga sejak awal 2026 hingga 20 Oktober mencapai US$133,60 per ton. Angka tersebut lebih tinggi 23,11% dibandingkan rata-rata sepanjang 2025, menunjukkan perbaikan harga yang cukup besar pada tahun ini.
Penguatan juga terlihat ketika membandingkan periode semester pertama. Rata-rata harga pada Januari-Juni 2026 mencapai US$129,23 per ton, meningkat dari US$107,12 per ton pada Januari-Juni 2025. Dengan demikian, harga pada semester I-2026 naik 20,64% secara tahunan.
Pergerakan tersebut sejalan dengan tujuan penataan produksi yang didorong Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sejak awal tahun, yakni mengurangi risiko kelebihan pasokan dan menjaga harga komoditas. Sebagai eksportir batu bara termal terbesar dunia, perubahan kebijakan pasokan Indonesia ikut memengaruhi ekspektasi pelaku pasar internasional.
International Energy Agency (IEA) dalam Coal Mid-Year Update 2026 menyebut ketidakpastian regulasi dan kebijakan terkait ekspor Indonesia turut memberikan tekanan naik terhadap harga, terutama pada batu bara berkalori rendah.
Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan pasokan RI menjadi salah satu faktor penopang harga, bersama kenaikan harga gas akibat konflik Timur Tengah, gangguan pasokan di negara produsen lain, dan perkembangan permintaan listrik di Asia.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]
(gls/gls)




