BANDUNG, KOMPAS- Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi bertolak menuju Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) di Kabupaten Kuningan, Kamis (22/10/2026). Sosok yang biasa disapa KDM ini memimpin langsung penanganan kebakaran untuk mempercepat pemadaman sekaligus mengantisipasi risiko api meluas.
Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Jawa Barat, kebakaran terjadi pada Rabu, pukul 20.44 WIB. Secara geografis, titik api berada pada koordinat 6,8 derajat Lintang Selatan, dan 108,4 Bujur Timur.
Kebakaran melanda hutan bambu sekitar 2 hektar. Titik kebakaran berada di Desa Pasayangan, Kecamatan Lebakwangi, dan Desa Cibuntu, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Kuningan.
KDM meminta doa agar kebakaran segera teratasi dan seluruh tim yang bertugas di lapangan dapat menjalankan upaya pemadaman dengan baik. Ia mengaku kondisi medan di kawasan pegunungan menjadi tantangan tersendiri dalam upaya pemadaman.
Menurutnya, kebakaran yang tidak segera dikendalikan berpotensi meluas dan menimbulkan kerawanan yang lebih besar. Karena itu, upaya pemadaman perlu dilakukan secepat mungkin.
“Mohon doanya pada seluruh warga Jawa Barat agar kebakaran Gunung Ciremai segera teratasi dan saya akan ke lokasi memimpin langsung upaya pemadaman api,” ujarnya.
Selain mendorong percepatan penanganan kebakaran, KDM mengimbau masyarakat tidak membakar ilalang untuk keperluan pertanian maupun kepentingan lainnya. Sebab, kondisi suhu udara tengah meningkat dan terjadi musim kemarau berkepanjangan.
"Kondisi cuaca yang masih terik dan hujan yang belum turun secara merata dapat meningkatkan risiko kebakaran, " tambahnya.
Sementara itu, Koordinator Urusan Data, Evaluasi, Pelaporan, dan Kehumasan Balai TNGC, Eska Nata Suryana, mengatakan, pihaknya bersama masyarakat masih berupaya memadamkan api hingga Kamis siang. Dari hasil pantauan patroli udara, api terdeteksi masih menyala.
"Tim gabungan dari Brigade Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Brigdalkarhutla) TNGC dan masyarakat sekitar kawasan hutan, dan unsur tim gabungan lainnya masih berupaya pemadaman area terdampak, " tuturnya.
Eska pun mengimbau masyarakat tidak membakar di dalam dan di sekitar kawasan hutan, serta tidak meninggalkan api saat beraktivitas.
Masyarakat juga diminta berkenan untuk segera menginformasikan kepada petugas terdekat saat menemukan titik api atau aktivitas yang berpotensi menimbulkan kebakaran.
Prakirawan Stasiun Klimatologi Jabar Leni Jantika menemukan terjadi peningkatan suhu udara di wilayah Kuningan dalam 10 hari terakhir. Puncaknya pada 19 Oktober, sebesar 34,5 derajat Celcius.
Angka ini sudah melampaui suhu rata-rata di Kabupaten Kuningan. Diketahui dalam 10 tahun terakhir, suhu udara rata-rata di Kuningan berkisar dari 26,9-28,1 derajat Celcius.
"Diharapkan masyarakat di wilayah Kuningan tidak membakar lahan untuk membersihkan area pertanian dan membakar sampah secara sembarangan. Sebab, terjadi peningkatan suhu udara yang signifikan di wilayah tersebut," harapnya.





