JAKARTA, KOMPASTV - Polemik kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) memicu perbedaan pandangan antara Anggota Parlemen Malaysia Syed Saddiq Syed Abdul Rahman dan mantan Menteri Perdagangan Indonesia Muhammad Lutfi.
Syed Saddiq menegaskan, persoalan kebakaran hutan tidak seharusnya menjadi pertentangan antara Malaysia dan Indonesia.
Ia juga menegaskan telah mendesak parlemen Malaysia mengambil tindakan terhadap perusahaan Malaysia yang terlibat dalam persoalan kebakaran hutan.
“Apakah Anda ingin kita hanya berfokus pada pihak yang bertanggung jawab atas 0,3%, sementara mengabaikan 99,7% sisanya? Jangan lantang menyebut satu nama tertentu namun diam seribu bahasa mengenai pihak-pihak lainnya,” ujar Syed dilansir dari unggahan Instagramnya.
Sementara itu, mantan Menteri Perdagangan Indonesia Muhammad Lutfi memberikan tanggapan berbeda.
Dalam pernyataan berbahasa Inggris, Lutfi menyoroti besarnya kepemilikan perusahaan perkebunan Malaysia di Indonesia.
Ia menyebut perusahaan-perusahaan tersebut menguasai hingga 3,4 juta hektare lahan di Indonesia, dengan dukungan pembiayaan dari bank Malaysia, sementara keuntungan dari kegiatan hilir dibukukan di Kuala Lumpur.
Meski demikian, Lutfi menegaskan bahwa setiap perusahaan yang terbukti melakukan pelanggaran harus dimintai pertanggungjawaban, baik perusahaan Indonesia maupun Malaysia.
“Ditambah lagi ada bekas area kebakaran di lahan milik Genting dan TSH, perusahaan induknya justru mencatat keuntungan di Kuala Lumpur dan Singapura dari perkebunan yang beroperasi di Indonesia. Kalau ada yang mau bertanggung jawab selidiki perusahaan-perusahaan itu dan rantai pasok mereka. Jangan malah menjadikan seluruh negara kita jadi sasaran,” kata Lutfi di videonya.
Video Editor: Joshua
Download KompasTV Apps di TV kamu, sekarang juga di https://app.kompas.tv/. Satu apps untuk semua Video Premium, Breaking News, dan Live Streaming 24/7 dari Kompas Gramedia.
Penulis : Yuilyana
Sumber : Kompas TV
- syed saddiq
- m lutfi
- isu karhutla
- indonesia
- malaysia





