jpnn.com, JAKARTA - Rangkaian insiden ledakan yang disebabkan oleh kebocoran gas Liquefied Petroleum Gas (LPG) di tanah air memantik keprihatinan. Pasalnya tak hanya menelan kerugian material tetapi ledakan tersebut juga menelan korban luka dan jiwa.
Peningkatan kesadaran masyarakat sebagai pengguna akhir di tingkat rumah tangga, rumah makan, hotel, serta unit usaha lain, menjadi tanggungjawab bersama.
BACA JUGA: Prabowo Sebut Indonesia Mode Survival, Bahlil Mau Setop Ekspor Gas ke Negara Tetangga
Hal ini dikatakan oleh Wahyu Ibrahim, manager ArsyGas Jawa Barat Kamis (22/10). Wahyu mengatakan jika keselamatan di tingkat pengguna akhir menjadi mutlak.
Pengguna diajarkan untuk memperhatikan tabung yang datang dimana tabung tidak boleh penyok, benjol, dan tidak boleh ada goresan yang dalam.
BACA JUGA: PSIM Babak Belur, Van Gastel Dipecat
Pengguna juga wajib menggunakan regulator gas berSNI, memiliki bodi logam solid, serta dilengkapi fitur pengaman otomatis (Automatic Cut-Off). Begitupun, wajib menggunakan selang karet yang ber-SNI.
”Pemasangan dan penempatan tabung di dapur juga tak kalah penting. Tabung harus diletakkan pada posisi tegak di permukaan lantai yang datar dan stabil serta diberi jarak aman minimal 1 hingga 1,5 meter dari kompor atau sumber panas,” ujar Wahyu.
BACA JUGA: 50 Ribu Santri Ikuti Haul Kanjeng Sunan Giri, ArsyGas Turut Ambil Bagian
Dapur juga wajib memiliki sirkulasi udara yang ideal yaitu memiliki bukaan ventilasi di dinding bagian bawah (maksimal 30 cm dari permukaan lantai) agar apabila ada kebocoran, gas langsung terbuang ke luar.
”Harus diingat jika uap LPG itu tak berwarna dan densitasnya lebih berat daripada udara, sehingga apabila ada gas yang bocor, itu akan mengendap di permukaan lantai. Harus ada bukaan ventilasi supaya uap gas bocor langsung mengalir ke luar,” ujar dia.
Perawatan berkala juga tak boleh diabaikan. Contohnya penggantian selang karet setiap 2–3 tahun sekali dan unit regulator setiap 3–5 tahun sekali. Bersihkan selang dan regulator secara berkala dari tumpahan minyak goreng dan sisa makanan untuk mencegah pelapukan karet serta gigitan tikus.
Juga harus diingat protokol tanggap darurat kebocoran. Apabila tercium bau menyengat bau gas (zat odoran Ethyl Mercaptan) atau terdengar suara desis kebocoran segera matikan kompor. Segera buka ventilasi maksimal.
Dilarang keras menyalakan/mematikan sakelar listrik, mencabut steker, atau mengoperasikan alat elektronik. Percikan bunga api mikroskopis dari kontak sakelar listrik berpotensi menyulut gas. Evakuasi tabung gas keluar menuju area terbuka yang ber-angin dan jauh dari pemukiman.
Jika gas yang bocor terlanjur terbakar, berikut langkahnya. Jangan memadamkan api akibat kebocoran gas secara langsung kecuali aliran pasokan gas dapat dihentikan secara aman.
Semprotkan air secara terus-menerus ke badan tabung dari jarak aman untuk membuang panas dan mencegah akumulasi tekanan berlebih yang berpotensi memicu ledakan. Gunakan APAR jenis dry chemical powder dan telepon pemadam kebakaran di nomor 112.
Salah seorang pengguna Arsygas, Rohman Sazman, mengaku terbantu dengan standar keamanan tabung Arsygas dan juga edukasi yang terus diberikan. “Alhamdulillah saya merasa aman. Arsy adalah gas yang baik,” katanya.
ArsyGas adalah produk LPG aman dari PT ARSynergy NiX Indonesia, dengan tabung LPG yang telah bersertifikasi SNI dan diuji di laboratorium nasional.
Tabung ArsyGas dibekali teknologi RFID dan IoT untuk pelacakan real-time, serta pada tabung ArsyGas berukuran 12 kg, terdapat sistem penguncian otomatis untuk mencegah kebocoran.
Arsygas tersedia dalam ukuran 12 kg dan 50 kg untuk kebutuhan hotel, restoran, kafe, UMKM, hingga industri. Arsygas secara berkala mengadakan edukasi penggunaan tabung secara aman kepada penggunanya. (cuy/jpnn)
BACA ARTIKEL LAINNYA... Resmi Beroperasi, Kilang LPG Cilamaya Siap Pasok 15% Kebutuhan Jakarta & Jabar
Redaktur & Reporter : Elfany Kurniawan




